Pembubuhan Dibalik Herd Immunity Tanpa Vaksin

Oleh: Zainab (Mahasiswa Kedokteran)

Kasus covid 19 semakin meningka bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia. Wabah ini semakin menunjukkan keganasannya dan sukses membuat penduduk dunia geleng kepala karenanya. Berbagai usaha dilakukan oleh pemerintah dari berbagai negara untuk memutus rantai wabah di wiayah mereka. Namun sampai saat ini belum membuahkan hasil. Hanya satu langkah yang dianggap ampuh untuk memutus rantai covid 19 saat ini yaitu lockdown atau pembatasan sosial.

Ditengah kekhawatiran akan wabah virus corona (Sars Cov-2) konsep herd immunity ramai dibicarakan karena dianggap bisa menjadi solusi untuk mengakhiri wabah covid 19. Ada pendapat bahwa tidak perlu melakukan pengontrolan terhadap penyebaran virus Sars Cov-2 dan membiarkannya menyebar secara alami. Pendapat ini menganggap bahwa ketika sebagian banyak orang terinfeksi virus corona maka akan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok yang akan menghentikan penyebaran penyakit ini.

Disamping banyaknya orang yang mendukung konsep ini, tidak sedikit pula yang menolaknya dan memperingatkan bahwa konsep ini telalu berbahaya dan berisko tinggi terjadi bencana, yaitu meningkatnya angka kematian. Apa sebenarnya herd immunity itu? Apakah herd immunity bisa menjadi strategi penaggulangan covid 19?

Konsep herd immunity adalah konsep dari ilmu epidemiologi penyakit menular. Herd immunity adalah bentuk proteksi langsung dari infeksi penyakit menular karena sebagian besar orang di suatu daerah sudah imun atau kebal terhadap penyakit tersebut. Dengan banyaknya orang yang sudah kebal terhadap penyakit tertentu maka akan membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok sehingga akan memutus rantai penyakit tertentu tersebut.

Kekebalan terhadap suatu penyakit yang dimiliki oleh seseorang bisa didapatkan secara alami dan buatan. Secara alami, apabila seseorang terinfeksi suatu virus atau bakteri maka akan terbentuk kekebalan atau imunitas terhadap virus atau bakteri tersebut dengan catatan bahwa orang tersebut sembuh ketika terinfeksi. Sebelum menjadi kebal, orang tersebut bisa mengalami sakit terlebih (simptomatis) dahulu ataupun tidak merasakan sakit sama sekali (asimptomatis). Kekebalan secara buatan juga bisa didaptkan dengan pemberian vaksin. Pemberian vaksin sebenarnya adalah memasukkan bakteri atau virus yang telah dilemahkan kedalam tubuh manusia. Dengan cara tersebut diharapkan bahwa bakteri ataupun virus yang telah dilemahkan tadi bisa merangsang sel-sel imun dalam tubuh manusia sehingga akan muncul kekebalan jika terjadi paparan dengan bakteri atau virus tertentu sesuai dengan kandungan dari vaksin.

Sciens alert mencontohkan herd immunity pada kasus penyakit gondong. Dondong dapat dicegah dengan pemberian vaksin yang sangat efektif dan membuat penyait ini langka di zaman modern. Tanpa vaksinasi, kira-kira 95 persen populasi terinfeksi dari waktu ke waktu. Bahkan dengan sesuatu yang menular ini, masih ada beberapa orang (5 persen) dari populasi yang tidak jatuh sakit. Dengan demikian jika semua orang kebal, tidak ada orang yang dapat terkena penyakit itu. Jumlah orang kebal dapat ditingkatkan dengan vaksinasi, karena vaksinasi membuat orang kebal terhadap infeksi dan menghentikan orang yang terinfeksi menularkan kepada orang yang tidak terinfeksi. Dengan demikian diharapkan bisa menghentikan penyebaran penyakit tersebut dalam populasi.

Untuk penyakit covid 19 diperkirakan bahwa setidaknya 70 persen dari seluruh populasi harus terinfeksi. Hal inilah yang membuat herd immunity tidak pernah bisa dianggap sebagai solusi pencegahan. Perkiraan terbaik menyebutkan bahwa tingkat kematian covid 19 sekitar 0,5-1 persen . jika 70 persen populasi terinfeksi dan jatuh sakit, itu berarti bahwa sekitar 0,35-0,7 persen dari setiap orang disetiap negara bisa mati. Fakta yang menyedihkan bahwa herd immunity tidak bisa menjadi solusi pemutus rantai wabah covid 19.

Pembahasan herd immunity lebih tepat ketika sudah tersedia vaksin, sehingga pada suatu saat benar-benar menghentikan epidemi. Ahli epidemiologi asal Australia, Gideon Mayerowitz –Katz mengatakan bahwa “sampai kita memiliki vaksin, siapapun yang berbicara tentang herd immunity sebagai strategi pencegahan covid 19 adalah salah”.

Selain itu belum ada bukti lebih lanjut bahwa seseorang yang telah terinfeksi virus sars cov-2 tidak akan terinfeksi lagi dan jatuh sakit. Meskipun dimungkinkan untuk mendapatkan kekebalan kelompok melalui infeksi, tapi menurut Akiko Iwasaki, seorang ahli virus di Yale School of Medicine bahwa kita tidak bisa bergantung pada agen infeksi yang mematikan untuk menciptakan imunitas populasi. Jika agen yang mematikan seperti sars cov-2 diharapkan untuk menciptakan imunitas alami hanya akan meningkatkan angka kematian
Berharap adanya herd immunity tanpa adanya vaksin sama dengan membiarkan alam menyelesaikan sendiri wabah ini, membiarkan alam menyeleksi siapa yang gugur dan yang bertahan melawan covid 19 dengan modal imunitas yang kuat. Langkah ini juga bisa dianggap sebagai angkat tangannya pemerintah atas masalah pandemi covid 19 dan ini adalah konsekuensi negara mengambil kapitalisme sebagai ideologi atau dasar bertindak dalam negara.

Berbeda dengan Islam, kekuasaan atau kepemimpinan dalam negara Islam disadari bahwa kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt sehingga tidak ada dalam kamus untuk mengambil konsep herd immunity tanpa vaksin karena akan menumbalkan sekian persen populasi. Dalam Islam, satu nyawa sangat berarti. Jika terjadi wabah di daerah tertentu, maka pusat akan mendelegasikan kepada daerah terdekatyang kondisi as di baitul malnya masih melimpah. Hal ini berbanding terbalik dengan prinsip kapitalis yang menyerahkan segala pengurusan bagi masyarakat kepada daerah masing-masing. Akses pada kesehatan dab pendidikan tak luput diperhatikan pemerintah. Semua itu dikontrol dengan ketat dalam upaya memberi dukungan terbaik agar kebijakan karantina wilayah daerah benar-benar bisa terjamin.

Begitulah sistem Islam, mampu memeberikan pengurusan rakyat dengan usaha yang terbaik. Hal ini terjadi karena Islam berasal dari Allah yang mengetahui seluk beluk kebutuhan manusia sehingga dengan menerapkan Islam sebagai solusi kehidupan dalam lingkup negara mampu mendatangkan kesejahteraan.

One thought on “Pembubuhan Dibalik Herd Immunity Tanpa Vaksin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *