Pembelajaran Jarak Jauh, sudah Efektifkah?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Nur Aisyah

Dunia pendidikan tidak luput dari terjangan wabah covid-19. Hampir lima bulan lamanya kegiatan belajar mengajar berpindah dari sekolah ke rumah. Dibuatlah program pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring untuk menyesuaikan kegiatan belajar pada masa pandemi. Tapi ternyata menyisakan berbagai kesulitan beberapa pihak terutama siswa, orangtua dan guru. Seorang ayah di Garut, Jabar mencuri handphone agar anaknya bisa belajar online pada Rabu (5/8/2020). Sebelumnya pun telah terjadi perampokan toko emas di sebuah pasar di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur oleh tiga pelajar SMA pada Kamis (30/7/2020). Mereka mengaku terpaksa merampok demi membeli handphone untuk belajar online. (https://jabar.suara.com) kisah serupa yang menyesakkan dada itu pun banyak bertebaran diberita membuktikan bahwa dunia pendidikan butuh solusi konkret.

Untuk itulah beberapa hari yang lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim blusukan ke sekolah yang ada di Bogor untuk mengetahui situasi dan kondisi proses belajar mengajar secara online. Dalam kesempatan tersebut Pak Nadiem Makarim melakukan telekonferensi dengan siswa melalui aplikasi zoom dan diskusi langsung dengan guru-guru terkait pembelajaran online. Ternyata dilapangan banyak sekali kendala yang dihadapi. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah kegiatan belajar yang dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi zoom, goggle meet dan aplikasi serupa. Ada juga yang lebih sederhana yaitu guru memberikan tugas lewat aplikasi whatsapp. Dan siswa pun mnengerjakan tugas tersebut tanpa tatap muka secara online. Tapi ternyata pembelajaran jarak jauh ini tidak berjalan baik karena mengalami beberapa kendala yang cukup krusial.

Pertama, siswa yang tidak memiliki sarana belajar yang mendukung berupa laptop atau handphone. Ini sangat menyulitkan karena bagaimana siswa akan belajar sedangkan sarananya saja tidak ada. Kedua, orangtua yang terbebani biaya sekolah yang bertambah. Harus membayar spp bulanan ditambah sekarang harus membeli kuota internet agar bisa belajar jarak jauh. Padahal banyak kepala keluarga yang usahanya macet akibat pandemi bahkan ada yg gulung tikar hingga menjadi korban PHK. Belum lagi orangtua sebagai guru pendamping di rumah yang kurang memahami materi pembelajaran menjadikan proses belajar kurang baik. Ketiga, guru pun keberatan dengan pembelajaran jarak jauh ini karena tugasnya jadi lebih berat karena kurang efektifnya belajar daring tetapi harus tetap terpenuhinya standar kurikulum yang menjadikan guru pun memberikan tugas yang banyak kepada siswa. Guru pun harus menyisihkan gajinya sendiri untuk membeli kuota. Dari pagi hingga malam sibuk mengoreksi hasil pekerjaan siswanya.

Kendala yang ada menjadikan pembelajaran jarak jauh ini kurang efektif. Apalagi ketika melihat kondisi yang dialami masyarakat pada masa pandemi ini sungguhlah berat. Rakyat harus berjuang sendiri tanpa ada negara yang mengayomi. Bahkan banyak juga yang terpaksa putus sekolah karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Bagaimana akan lahir generasi pemimpin bangsa jika pendidikan saja sulit diraih rakyat.

Ini bukti betapa visi pendidikan sekularisme tidak jelas arah. Yang penting belajar, yang penting sekolah. Tanpa memperhatikan apakah semua rakyat bisa mengakses pendidikan tersebut, apakah sarana dan prasarananya telah menunjang proses pembelajaran, apakah materi pembelajarannya menghantarkan siswa menjadi generasi pemimpin masa depan. Kapitalisme gagal melahirkan generasi gemilang.

Berbeda halnya dengan sistem Islam yang memiliki tujuan yang terarah yaitu membentuk kepribadian islam dan membakali para siswa dengan berbagai tsaqofah Islam dan sains.
Yang membentuk generasi para ulama yang senantiasa taat kepada Allah sekaligus ahli dalam berbagai sains/teknologi. Kurikulum pun disusun sesuai dengan akidah Islam. Jadi akanenghasilkan pemimpin amanah yang takut kepada Allah. Sarana dan prasarana pun disediakan negara agar setiap rakyat dapat mengakses pendidikan. Masya Allah itulah sistem pendidikan Islam yang dibangun oleh peradaban Khilafah Islam yang segera akan kembali tegak. Wallahu’alam

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.