Pejuang Wabah Minim Proteksi, Islam Sebagai Solusi

Oleh: Hamsia (komunitas peduli umat)

Sampai hari ini, kasus Corona masih mengkhawatirkan negeri ini. Bagaimana tidak? Tren kasus positif hingga kematian Covid-19 semakin menunjukkan peningkatan, bahkan belum mencapai puncaknya.
Jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP FARKES/R) bahkan mencatat, 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona. Rinciannya, 32 dokter dan 12 perawat. (Katadata.co.id, 12/4/2020).

Indonesia berduka, bukan hanya wabah yang semakin parah akibat penanganan yang kacau, melainkan juga para tenaga medis yang merupakan garda terdepan dalam penanganan wabah ini banyak yang gugur akibat pandemi Corona.
Di saat yang sama, pilu hati perawat mengeluhkan insentif yang tak kunjung cair hingga kini. Padahal, wabah ini telah berlangsung lama, namun tenaga medis belum juga mendapat perhatian yang memadai.

“Insentif yang dibilang maksimal tujuh setengah juta itu memang sampai sekarang belum diterima,” kata Anitha, seorang perawat yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU) di RSPI Sulianti Saroso yang menangani pasien positif Covid-19. (Tempo, 25/5/2020)

Ia mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif. Namun menurut Anitha, para perawat memerlukan insentif itu, terlebih mereka yang mendapatkan pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri.

Hal yang sama juga dialami sejumlah tenaga medis di Rumah Sakita Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran belum mendapatkan insentif keuangan. Seperti diketahui, pemerintah menjajanjikan pemberian insentif keuangan bagi para tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Berkisar Rp 5-15 juta setiap bulan. (Merdeka.com, 25/5/2020)

Kebijakan yang diterapkan selama ini pun nampak tak serius, baik terhadap keselamatan rakyat secara umum maupun tenaga medis khususnya. Minimnya fasilitas dan kurangnya Alat Perlindungan Diri (APD) yang memenuhi standar. Alhasil, tidak sedikit dari mereka, bahkan sampai menggunakan jas hujan murah yang berbahan kantong kresek, dan masker kain yang tidak standar.

Tanpa adanya proteksi diri yang memadai, maka dapat dipastikan akan semakin banyak tenaga kesehatan yang menjadi korban, sebab merekalah pihak yang paling rentang terpapar virus ini lantaran tiap hari mereka kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Sungguh sangat disayangkan, mengingat bagaimana virus ini juga telah menyebabkan nyawa para tenaga medis melayang. Seperti kisah pilu yang dialami oleh Ari Puspita sari, yang menambah panjang daftar korban tenaga kesehatan akibat terinfeksi Covid-19. Ia gugur sebagai pahlawan kemanusiaan bersama dengan janin berusia 4 bulan yang dikandungnya.

Sejatinya, pemerintah sepatutnya memberikan mereka penghargaan yang luar biasa karena mereka adalah pahlawan berjas putih yang menjadi garda terdepan dan terakhir, bahkan mereka rela berjauhan dengan keluarga sampai ada yang merengang nyawa akibat tertular virus Corona.

Tetapi faktanya, negara abai dan tak segan para tenaga medis malah di pulangkan dan hak mereka tidak segera dituntaskan. Tak ayal jika pada akhirnya memang banyak tenaga medis yang mengeluh, dan kecewa serta marah dengan tindak sikap pemerintah saat ini.
Semakin banyak korban tenaga medis yang gugur saat menangani wabah, tidak mendapat perhatian memadai.

Jangankan memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi agar pasien Covid tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak diberikan. Sebagian tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong, bahkan ada yang di rumahkan karena RS daerah kesulitan dana.

Padahal, gugurnya tenaga medis atau pemecatan sama dengan berkurangnya prajurit di garda depan medan tempur.
Dalam Islam, jangankan gugurnya para tenaga medis, nyawa seorang muslim begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra’bin Azib ra, Nabi SAW bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai Turmudzi)

Seyongianya pemimpin dalam Islam merupakan garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan dan ditanggung sepenuhnya oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena pemimpin dalam Islam senantiasa disandarkan pada hukum syara’ yakni pemimpin adalah pelayan rakyat.
Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah yang diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi.

Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan yang bebas biaya dan berkualitas. Pun tak ada kesenjangan pelayanan antara si kaya dan si miskin, muslim atau non muslim.

Negara juga memastikan sarana dan prasana serta fasilitas lain yang mendukung untuk pelayanan kesehatan tersedia dengan baik. Terlebih dalam kondisi wabah melanda tentu proteksi terhadap para tenaga medis amat penting untuk dipenuhi. Kerja keras mereka pun dihargai dengan pantas oleh negara, bahkan gaji seorang dokter terbilang fantastis.

Tak heran jika tenaga kesehatan begitu sejahtera dalam peradaban Islam. Dengan gaji yang begitu besar ditambah lagi kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan), keamanan, pendidikan serta kesehatan sudah dijamin oleh negara. sebab para tenaga mendis ini pun bagian dari rakyat yang berhak mendapatkan pemeliharaan dari negara. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *