Pejuang Wabah Minim Proteksi

Oleh : Daryunah S.Pd. ( Pendidik dan Pemerhati Umat)

Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam perang melawan corona adalah pihak yang sangat rentan terpapar virus. Hingga saat ini, sudah semakin banyak tenaga kesehatan yang berguguran. Namun bukan diharagai atas jerih payah usahanya, mereka malah tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Jika sebelumnya proteksi diri berupa Alat Pelindung Diri (APD) yang kurang memadai, kini proteksi finansial tak kunjung diberikan memjadi persoalan baru. Ada sebagian tenaga kesehatan yang tidak mendapat tunjangan bahkan perawat honorer yang dipotong THRnya.

Menjalankan Kewajiban Mekipun Nyawah Taruhannya

Menjadi seorang tenaga medis yang mengurusi pasien Covid-19 adalah tugas yang sangat berat.Tenaga medis yang langsung bersentuhan dengan penderita menjadi salah satu orang yang rentan tertular virus corona. Ketika bertugas menangani Covid-19 mereka kadang kurang tidur, haus tak bisa minum dan telat makan karena mengingat APD yang dipakai sekali pakai, terebatas, dan mahal harganya.

Seyogiannya apresiasi luar biasa diberikan para medis khususnya docter dan perawat yang menjadi garda terdepan dalam menangani pederita Covid-19, begitu juga kepada docter yang tetap praktek mengobati pasien non Covid karena mudah terpapar corona.
Upaya melindungi para docter, perawat dan para pekerja rumah sakit lebih penting ketimbang sekedar pemberian predikat atau kata-kata sanjungan. Persoalan yang paling mengemukan kebanyakan mereka adalah kekurangannya APD yang menjadi pemenuhan kebutuhan bagi docter dan para tenaga medis.

Melihat data yang ada sekarang menunjukan semakin banyak korban para tenaga medis yang gugur saat menangani wabah karena kekurangannya APD yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah.
Kurangnya perhatian pemerintah memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan yang terintegrasi agar pasien Covid-19 tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak mendapatkan tunjangan, THR perawat honorer dipotong. Bahkan dirumahkannya tenaga medis karena kurangnya dana, seperti yang terjadi di RSUD Organ Ilir. (watakotalive.com 21/5/2020)

Perawat dirumah saki terinfeksi penyakit (RSPI) Sulianti Saruso Anitha Supriono, hingga kini belum menerima intensif sebesar 7,5 juta yang dijanjijkan. Anitha merupakan salah satu yang bertugas di ruang Intesive Care Unit (ICU) menangani pasien-pasien positif Covid-19. (Tempo.co 25/5/2020)

Tentu saja intensif untuk para tenaga medis ini harus segera diberikan oleh tenaga medis. Disamping pemotongan THR, sebaiknya jangan sampai ada keterlambatan pemberian intensif apalagi samapai dirumahkan.
Tenaga medis yang gugur karena kuranggnya perhatian dari pemerintah dan pemecatan sama saja dengan berkurangnya pahlawan kesehatan yang selalu di garda terdepan melawan wabah.

Berbeda pada masa keemasan pemerintah islam sangatlah memperhatikan urusan kesehatan masyarakat. Kesehatan termasuk kebutuhan yang wajib di sediakan oleh negara. Bahkan rakyat memperoleh secara cuma-cuma (gratis) karena mindset pemimpin pada saat itu adalah pelayan rakyat.

Melihat sejarah sebagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel. Beliau dalam mmberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa diantaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Will Durant dalam The Story Of Civilization menyatakan “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskud tahun 1.160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Sungguh luar biasa perhatian di peradaban islam terhadap kesehatan dimasa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga medis lainnya, maka dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya dan memberikan perlindungan kepadanya yang menjadi garda terdepan.
Keberhasilan peradapan islam disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi SAW bersabda bahwa dari setiap kalian adalah pemimpin dan bertangungjawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya. (HR Muslim)

Wallahu’alam bisshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *