Pasar dan Kegalauan Pedagang

Oleh : Heni Ummu Ghooziyah (Pegiat Literasi)

“Anggaran yang dikelola dengan baik tidak hanya mencerminkan kualitas ekonomi yang baik, tapi mencerminkan martabat suatu bangsa yang baik” (Sri Mulyani). Ungkapan di atas agaknya benar, martabat suatu bangsa bahkan bisa turun dihadapan rakyatnya sendiri manakala pemerintahnya dianggap tak becus mengelola anggaran dengan baik hingga mengakibatkan buruknya ekonomi. Begitulah setidaknya yang dirasakan umumnya oleh rakyat terkhusus para pedagang pasar sebagai mata rantai paling ujung pergerakan ekonomi.

Mereka senantiasa dihantui rasa was-was dan ketakutan setiap harinya ketika melakukan aktivitas jual beli dipasar. Hidup memaksa mereka untuk tetap bertahan dengan berjualan demi mengepulkan asap di dapur. Tidak adanya jaminan ekonomi dari negara dimasa pandemi menjadi alasan kuat mengapa mereka tetap nekat berjualan dipasar.

Pasar sebagai klaster baru, memegang peranan penting dalam pencegahan Covid-19. Berdasarkan data yang ada 29 orang dari 529 pedagang yang positif Covid-19 dinyatakan meninggal dunia berasal dari berbagai pasar diseluruh wilayah Indonesia. Dilansir dari Okezone.com, 13/06/2020, Ketua Bidang Keanggotaan DPP IKAPP, Dimas Hermadiyansyah mengatakan, saat ini terdapat 13.450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air.

Dari total jumlah angka pasar diatas setidaknya terdapat sekitar 12,3 juta pedagang pasar yang tercatat didalamnya. Para pemasok barang, PKL, kuli panggul, serta jaringan rantai dipasar tradisional belum masuk ke dalam catatan angka tersebut. Besarnya angka tersebut patut diwaspadai mengingat lokasi sebaran pasar yang menjangkau setiap daerah hingga ke pelosok negeri. Artinya jika sampai ada pedangang yang terpapar, potensi untuk menularkan ke orang lain sangat besar. Mengingat intensitas pergerakan pengunjung pasar sangat tinggi.

Selain itu pasar juga membutuhkan penanganan khusus dalam melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19. Hal ini perlu dilakukan sebab di dalam pasar perputaran juga melibatkan orang, barang, dan uang. Dimana ketiganya ditengarai dapat menjadi media penyebaran virus secara masif.

Selain itu kurangnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker terutama ketika berada di dalam pasar, serta ketidaksiapan pengelola pasar seperti menyediakan tempat cuci tangan disetiap lapak penjual, menyemprot desinfektan secara rutin, juga memberikan edukasi untuk mengatur jarak pengunjung pasar agar tidak terlalu berdempetan membuat peluang tertular semakin besar.

Jika hal ini terus terjadi tak menampik kemungkinan akan ada jutaan pedagang pasar yang kehilangan ladang jual belinya dalam mencari nafkah. Hal ini rawan terjadi lantaran masyarakat khawatir dan takut tertular ketika berbelanja kebutuhan di dalam pasar. Pemerintah dinilai tak cukup hanya melakukan pencegahan seperti memberikan edukasi tentang pentingnya melakukan protokol kesehatan, memberikan sosialisasi betapa berbahayanya Covid-19, membagikan masker dan handsanitizer secara gratis, juga melakukan upaya penyemprotan desinfektan.

Tak adanya sanksi yang tegas dari pemerintah bagi para pelanggar protokol kesehatan dipasar membuat berbagai program di atas menjadi sia-sia. Sanksi ini jelas sangat penting dan dibutuhkan demi mencegah Covid-19 menyebar semakin luas. Pedagang pasar hanya akan menjadi tumbal berjalannya roda ekonomi. Meskipun dibukanya pasar kembali sebenarnya bertujuan baik, agar denyut nadi perekonomian rakyat bisa tetap hidup dan berjalan lagi.

Pasar dianggap sebagai sarana pemasok kebutuhan pokok rakyat yang paling penting. Pemerintah perlu melakukan edukasi dan persuasi secara kontinyu kepada para pedagang sebelum melakukan rapid tes secara masal. Apabila tidak diantisipasi sedini mungkin permasalahan rapid tes ini, besar kemungkinan malah membuat kalangan pedagang justru menolak bahkan melakukan pengusiran terhadap petugas kesehatan.

Seperti yang terjadi pada Rabu (10/6) di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ratusan pedagang dan pengunjung pasar mengusir petugas COVID-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor (Kumparan, 11/06/2020). Menanggapi insiden penolakan dan pengusiran itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarin, mengatakan pengusiran itu karena kurangnya edukasi kepada pedagang dan pengunjung pasar sebelum melakukan rapid tes.

Sebenarnya rapid tes juga tak mungkin dilakukan ke seluruh penghuni pasar atau setidaknya kepada seluruh pedagang. Sebab akan menelan biaya yang lumayan banyak. Rapid tes pun hanya bisa dilakukan secara acak ke beberapa pedagang atau pengunjung pasar. Ini dilakukan untuk menekan sebaran Covid-19 yang berpeluang semakin besar. Beberapa pihak bahkan menyebutkan bahwa adanya rapid tes dipasar justru tidak efektif. Karena pedagang justru takut bahkan menolak karena khawatir hasil rapid tes mereka reaktif kemudian diminta mengisolasi diri. Jika ini terjadi akan membuat mereka kehilangan sementara mata penghidupannya.

Menjaga nyawa seseorang, apalagi nyawa banyak orang di dalam Islam benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi. Pemerintah selaku pengatur urusan umat sudah seharusnya memberikan jaminan keamanan serta kesejahteraan bagi rakyat, terlebih dimasa pandemi seperti sekarang ini. Kegalauan para pedagang pasar tak akan terjadi jika pemerintah mampu memberikan solusi. Saat ini nyawa para pedagang bagaikan di ujung tanduk, pergi ke pasar khawatir tertular tetap berada dirumah pun seluruh keluarga tetap butuh makanan. Maka disiplin terhadap protokol kesehatan dan adanya sanksi yang tegas saat ini menjadi kunci penting dalam menekan penyebaran virus secara massif agar lebih banyak nyawa yang dapat diselamatkan. Beginilah jika hidup dalam sistem bukan Islam, nyawa manusia bukan menjadi tolok ukur dalam mengambil kebijakan. Akan ada pertimbangan untung rugi, pun ketika nyawa rakyat menjadi taruhan. Hanya ada satu solusi agar kehidupan berjalan harmoni, terbangun kesejahteraan secara merata serta keadilan tanpa membeda-bedakan, yakni kembali lagi menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.

”Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kamu [422], kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan- Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS.AlMaidah : 48). Wa’allahu ‘alam bisshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *