Paradigma Kapitalis VS Islam Dalam Menangani Wabah

Oleh: Sri Rahayu

Paradigma itu penting. Karena semua hal akan berpulang pada pijakan ini. Apakah terkait dengan pandangan terhadap diri, lingkungan maupun kehidupan.

Seperti saat ini, ketika dunia diterpa badai. Makhluk kecil bernama Covid-19 telah meluluhlantakkan sendi kehidupan global. Hingga dunia tak berdaya harus mengambil langkah apa.

Termasuk Indonesia. Sejak pandemi menyapa, telah terlambat mengambil langkah. Bukan segera melakukan _lockdown_ (karantina) malah membuka akses masuk ke negeri ini.

Akibatnya kasus terus menaik. Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) menjadi tidak efektif dan malah menyengsarakan rakyat. Hal ini terjadi karena semua masyarakat ditutup aksesnya tanpa langkah tegas memisahkan orang itu sehat atau sakit.

Demikian juga subsidi yang diberikan banyak salah sasaran. Rakyatpun dibiarkan sendiri menyelesaikan permasalahannya.

Inilah solusi yang diambil berpijak paradigma kapitalis. Bahkan ditengah kurva kasus Covid-19 yang masih menaik tajam, penguasa memaksa menjalankan _New Normal Life_.

Padahal _New Normal Life_ ini sangat berbahaya. Masyarakat diperintahkan beraktifitas sebagaimana biasanya dan mengikuti protokol kesehatan. Mall, pasar, kafe, tempat wisata, kantor bahkan tempat-tempat berzona hijau mau dibuka sekolah.

Tindakan gegabah ini tentu sangat mengancam kesehatan dan nyawa manusia. Membuka aktifitas, tanpa ada pemisahan yang sakit dan yang sehat akan sangat berpotensi terjadi gelombang kedua. Gelombang itu terjadi ketika ada puncak dan kemudian melandai menuju lembah gelombang. Sekarang ini puncaknya saja belum tercapai, mengapa berani memaksa _New Normal Life_. Innalillahi apa jadinya nanti. Sampai hari ini saja sudah muncul klaster baru di pasar- pasar tradisional. Bahkan mall lebih besar lagi resikonya. Karena ruang ber AC lebih tinggi potensi terjadi penyebaran virus.

Begitulah penguasa yang bertumpu pada paradigma kapitalisme. Persoalan bertumpuk tanpa dapat diselesaikan. Justru kebijakan yang diambil menambah parah masalah. Terlebih _New Normal Life_ hanyalah solusi sekuler kapitalis. Kebijakan yang hanya berorientasi profit bagi pemodal. Kebijakan penguasa hanya berpihak pada pemodal semata. Sedangkan rakyat dalam kondisi terjepit karena harus mencari solusi sendiri. Belum lagi himpitan pajak, tarif listrik yang naik, iuran BPJS dan segudang persoalan seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan PHK massal. Sungguh dalam sistem kapitalis, sudahlah rakyat jatuh tertimpa tangga pula.

Lantas bagaimana Islam menangani wabah? Islam adalah dien (agama) yang kamil dan syamil. Kamil artinya sempurna, karena berasal dari pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Syamil artinya memiliki karakter komprehensif, tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual saja. Tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan. Pelaksananya adalah negara (Khilafah Islam).

Lantas bagaimana Khilafah menangani wabah, sudah pernah dicontohkan 14 abad yang lalu. Ketika terjadi wabah tha’un di Syam pada masa pemerintahan Umar Bin Khaththab. Wabah itu sampai menelan korban puluhan ribu jiwa. Bahkan dua gubernur Syam waktu itu menjadi korbannya. Hingga Gubernur selanjutnya yaitu Amru bin Ash, seorang sahabat yang sangat cerdas. Bahkan dikatakan dimana bumi dipijak Amru bin Ash layak menjadi pemimpin. Kepiawaian dan keahliannya telah terbukti. Hingga akhirnya beliau mengambil kebijakan selain _lockdown_ adalah memerintahkan manusia berpencar ke bukit. Beliau melihat wabah itu bagaikan api yang membakar. Dan manusia ibarat kayunya. Sehingga dengan menyebarnya manusia, maka virus itu berhenti menyebar.

Itulah kebijakan Islam yang diambil gubernur Syam. Nah bagaimana umat Islam hari ini menangani virus? Tentu ketika paradigma Islam diambil dan diterapkan insyaa Allah pandemi segera terhenti. Semua kembali pada kendali penguasa. Karena wabah tak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Butuh kepemimpinan yang kuat untuk memyelesaikan. Tentu kepemimpinan yang lahir dari aqidah Islam. Yang menerapkan Syariat Islam secara komprehensif. Persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi menjadi satu kesatuan yang integral dalam bingkai khilafah. Khilafah memiliki sumber dana yang luas untuk dapat menanggung dan menyelesaikan wabah.

Ketika terjadi wabah penguasa memberlakukan _lockdown_. Setelah itu dilakukan tes untuk mendeteksi yang terpapar virus. Bagi PDP diisolasi dan diobati oleh negara. Bagi OTG dan yang berisiko diberikan asupan yang cukup untuk meningkatkan imun. Demikian juga yang sehat terus dijaga imun dan bisa beraktifitas secara normal dengan protokol kesehatan.

Semua itu butuh peran negara. Sebuah negara adidaya yang kuat karena ideologinya yang shahih. Sebuah negara yang kaya karena sumber baitul maalnya telah ditetapkan syara. Sumber pemasukannya sangat jelas dan sangat luas, dijamin mampu memenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Pos pengeluarannya pun telah jelas ditetapkan syariat. Dalam kondisi normal negara khilafah mampu menyelesaikan semua urusan hidup manusia secara tuntas. Apalagi ketika terjadi wabah. Khilafah menyelesaikan semua persoalan termasuk pembiayaan yang dari baitul maal. Ketika sumber dana tak mencukupi maka khalifah dapat menetapkan pajak bagi yang kaya saja. Pajak bersifat insidental hanya pada saat sulit saja.

Bahkan sejarah telah mencatat, Khilafah Islam tak hanya mengurusi dalam negeri. Luar negeripun dibantu ketika terjadi musibah. Seperti yang terjadi pada masa kekhalifahan Sultan Abdul Majed di Turki sekitar dua abad silam. Beliau memberikan bantuan/ sumbangan kepada negara Irlandia (penduduknya bukan muslim) yang waktu itu tertimpa bencana ‘kelaparan besar’. Demikian keagungan negara yang dibangun oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Negara adidaya yang akan memberikan perlindungan kepada semua makhluk-Nya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *