PARADIGMA DEMOKRASI MEMATIKAN POTENSI UMMAT

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Nurul Inayah (Aktivis Muslimah Kampus)

 

Kualitas potensi ummat terutama kaum Muslim sangat menentukan kualitas peradaban suatu bangsa. Pentingnya peran umat dapat dilihat dari kualitas SDM yang dimilik oleh negara. contohnya Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk yang besar. Dilihat dari jumlah penduduknya posisi Indonesia berada diurutan keempat terbesar di dunia. Jumlah penduduk yang besar menguntungkan Indonesia karena tersedia tenaga kerja (SDM) untuk mengolah dan mengelola Sumber Daya Alam (kompas.com 27/5/2020).

 

Untuk mewujudkan umat yang berkualitas dibutuhkan negara yang cakap dan memiliki idealisme yang tercermin di dalam dasar pembentukan penyelenggaraan negara yang dimana negara tersebut berlandaskan agama dalam mengatur kebijakan berbangsa dan bernegara, bukan negara yang dasarnya sekularisme yang memisahkan agama dari lini keidupan serta memisahkan agama dari negara.

 

Negara sekular adalah negara yang mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis sebut saja Indonesia baru-baru ini terdapat banyak kebijakan-kebijakan yang dikeuarkan oleh pemerintah baik dari sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan dan juga politik yang justru banyak menuai kontra dan mendatangkan kemudharatan bagi umat, sebut saja bagaiman upaya penanganan penyelengaraaan pendidikan ditengah pandemi covid19 yang kian hari carut maut kondisinya, serta diperparah dengan munculnya problem belajar dan mengajar baik dari pihak sekolah maupun siswa.

 

Mengenai kebijakan politik CEO Facebook inc, Mark Zuckerberg, mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka tidak akan lagi merekomendasikan kontek kelompok sipil dan  politik kepada pengguna platform tersebut (kontan.co.id 28/1/2021).

 

Kebijakan ini tentu saja dapat menimbulkan pro dan kontra sebab banyak yang menggunakan platform sosial media tersebut. Jika kemudian adanya pemberhentian konten politik maka ini bisa jadi upaya untuk memberhentikan kritikan terhadap kebijak-kebijakan pemerintah baik itu kebijakan nasional maupun international. Padahal dalam berdemokrasi terdapat kebebasan untuk berpendapat.

 

Dengan hadirnya kebijakan ini tentu tak luput dari negara kita yang mayoritas penduduknya banyak menggunakan media sosial, yang di mana penggunaan media sosial tujuannya untuk memperoleh informasi dan komuniksi baik itu dalam hal perpolitikan bangsa justru dibatasi.

 

Justru yang bisa kita saksikan saat menggunakan medsos hanya terdapat konten-konten yang tidak bermanfaat dan informasi seputar gaya hidup yang hedonis baik itu gaya berbusana yang tidak sesuai dengan syariat Islam, bahkan terdapat konten porno yang begitu banyak tersebar tapi kenapa kemudian tidak di berhentikan? ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, konten politik maupun opini politik tentu saja menbawa dampak positif dan juga negatif tetapi medsos bisa menjadi sarana untuk menyampaikan bagaimana politik di dalam Islam bagi umat dan kaum Muslim. Tapi konten-konten yang di sajikan hari ini justru merusak para generasi yang menjadi estafet kepemimpinan bangsa yang memang tidak bisa di lepaskan dari kesalahan paradigma pengelolaan negara dalam sistem kapitalisme.

 

Hal inipun tentu akan mematikan potensi umat, untuk mengembangkan diri karena penyalahgunaan media sosial dan konten maupun palform yang ada tidak mencerdaskan dan membangkitkan pemikiran namun justru membawa kemudharatan jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Sistem pemerintahan demokrasi yang diadopsi negara hari ini hanya mencerminkan penghianatan atas nama kekuasaan atas nama umat. Dalam demokrasi kebijakan hanya memihak para korporatorkrasi atau para pemilik moda saja.

 

Solusi yang lahir dari sistem sekular ini mencoba melepaskan diri dari problem dengang cara umatlah yang di jadikan “tumbal”  untuk mengatasi permasalahan yang ada akibat demokrasi, negara telah mengorbankan potensi besar umat untuk memajukan negara baik itu untuk membangkitkan roda perekonomian bangsa atau memberdayakan umat untuk meraih kesejahteraan berbangsa dan bernegara.

 

padahal umat terutama kaum Muslim memiliki begitu banyak potensi pertama, jati diri sebagai Muslim. Ini adalah kunci keberhasilan. Jati diri ini harus semakin ditunjukkan kepada umat bahwa Muslim harus menjadi solusi, bukan sebaliknya menjadi sumber masalah.

 

Muslim harus menunjukkan sikap dan kepribadian yang baik, saleh, akhlaknya terpuji. Bukan stigma seperti jorok, pembuat onar, dan sebagainya. Seorang Muslim harus berpikir dan berperilaku sesuai ajaran Islam.

 

Kedua, ukhuwah Islamiyah. Kita harus terus menjaga dan mempererat. Kita harus memperjelas siapa kawan, dan siapa lawan. Jangan sampai kita malah bermusuhan atau berselisih dengan saudara sesama Muslim, apa pun harakah atau organisasinya.

 

Ketiga, potensi ajaran Islam Kaffah itu sendiri. Kita semua memahami bahwa Islam dan syariatnya adalah solusi atas semua masalah manusia, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga untuk umat agama dan kepercayaan lain.

 

Untuk mempertahankan eksistensinya demokrasi yang sudah sekarat barat berusaha memerangi semua  gagasan atau ide yang di anggap mengancam hegemoni mereka yaitu ideologi Islam yang dimana mereka berusaha untuk menjauhkan Islam dari umat dengan label radikal, intoleran, dan persekusi menjami HAM dan kebebasan berpendapat, faktanya justru otoriter dan represif. Maka dari itu ummat terutama kaum Muslim harus sadar bahwa hanya Islamlah yang mampu melahirkan umat yang berkualitas dengan menjadikan Islam sebagai solusi. Sebab Islam mampu membentuk generasi yang cemerlang dan berkontribusi bagi negara dan bangsa karena sistem pendidikan yang di terapkan dalam Islam memimiliki kurikulum yang unggul yang mampu melahirkan generasi yang kokoh imannya, punya integritas, pola pikir dan pola sikap yang sesuai ajaran Islam. Maka dari itu hanya islamlah yang mampu melejitkan dan membangkitkan potensi ummat baik dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan dan juga politik.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.