Pandemi, Saatnya Muhasabah

Oleh: Siti Maftukhah, SE. (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Wabah Covid-19 telah menyapa negeri ini hampir 4 bulan lamanya. Berbagai hal telah terjadi selama pandemi ini. Saat kebijakan stay and work from home, mulai bermunculan masalah yang terjadi.

Perusahaan banyak yang terdampak, sehingga berpengaruh pada karyawan. Entah dirumahkan atau diputus hubungan kerjanya (PHK). Karyawan yang terdampak, akhirnya tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya atau kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika masih sendiri, mungkin masih belum begitu terasa. Sendiri tapi kedudukannya sebagai tulang punggung keluarga, pasti terasa. Atau sudah berkeluarga, pasti akan bisa merasakan betapa berat menghadapi hidup.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh penguasa kepada kita ternyata banyak menimbulkan problem. Awal muncul wabah saja, penguasa masih bersikap santuy. Masih berani guyonan dengan wabah ini. Masih membuka pintu terhadap wisatawan luar negeri, jumawa jika tak akan kena wabah karena kita suka makan nasi kucing atau karena kita tinggal di daerah tropis dll.

Kebijakan-kebijakan yang kadang saling bertentangan. Belum lagi abainya penguasa dalam membantu kita dalam pemenuhan kebutuhan hidup kita, terutama kebutuhan dasar. Jangankan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, rasa aman juga tak dapat kita rasakan. Bagaimana bisa aman, saat pandemi, penguasa malah membebaskan ribuan narapidana.

Saat pandemi pula, penguasa melakukan pemalakan kepada rakyat dengan kenaikan iuran BPJS, tarif listrik dll. Meski pemerintah buru-buru mengatakan bahwa tarif listrik tidak naik tapi karena berdasar rata-rata.

Dan saat pandemi, pemerintah juga mengesahkan UU yang semakin membuat rakyat terpuruk dan terus menjadi korban. Demi memenuhi syahwat kapitalis atas Indonesia, pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan tersebut.

Padahal jika kita mau, dalam Islam telah lengkap aturan terkait pengaturan kehidupan ini. Sehingga problem-problem yang selama ini muncul, baik saat normal maupun saat wabah, bisa tersolusikan. Maka pandemi adalah saatnya menyadari bahwa sebagai manusia kita tidak mampu menolak atas kiriman Yang Maha Kuasa, makhluk kecil yang telah memberi dampak yang luar biasa. Saatnya kembali pada aturan Allah SWT.
Allah yang telah menciptakan kita, maka Allah pula yang berhak mengatur kita.

Pandemi saatnya untuk semakin mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta, Allah SWT. Menyadari bahwa Allah adalah Yang Maha Pengatur, sehingga mewajibkan kepada kita bahwa hanya aturanNya yang harus kita terapkan.

Saatnya untuk melakukan tobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha). Mungkin ini adalah bagian dari peringatan Allah pada kita. Sekaligus sebagai bukti sayangnya Allah kepada kita.
Mungkin kita terlalu jauh dari Allah. Lupa dengan Allah.

Dan pandemi juga harusnya menyadarkan kita, bagaimana kita menjadi orang tua selama ini. Kedekatan kita dengan anak.
Atau jika kita sebagai anak, bagaimana bakti kita pada orang tua. Pandemi, saatnya banyak-banyak membantu orang tua, dekat dengan orang tua.

Nah, tobat yang sebenar-benarnya tobat adalah dengan menerapkan syariat dalam kehidupan kita dengan bingkai sistem yang diridhoi Allah, yaitu Khilafah.

Maka upaya yang bisa kita lakukan saat ini adalah menghadirkan Khilafah di tengah-tengah kita agar syariat Islam bisa diterapkan. Wallahu a’lam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *