Pandemi Covid-19 dan Tatanan Dunia Baru

Oleh : Rosyunita  (Aktivis Muslimah Kendari)

Pandemi Covid-19 benar-benar telah menyebabkan berbagai macam masalah dalam berbagai sektor kehidupan. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai macam prediksi tentang masa depan dunia/global. Prediksi akhir dari pandemi virus corona (Covid-19) ini telah banyak dipredksi oleh berbagai kalangan, siapa yang menang dan siapa yang menjadi pecundang. Salah satunya Hendri Kissinger (mantan diplomat AS dan Menlu AS, dalam Wall Street Journal menyatakan bahwa dunia tidak akan pernah sama setelah virus corona.

Runtuhnya kapitalisme melalui pandemi global Covid-19?

Gagalnya kapitalisme dalam menangani wabah telah memicu berbagai komplikasi krisis dalam berbagai sektor kehidupan seperti, ekonomi, politik, pangan,sosial serta kesehatan dan sektor-sektor yang lain. Beberapa sector yang diprediksi menjadi hancur sebagai berikut:

Dalam bidang ekonomi misalnya: Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan, pandemi Covid-19 membawa kejutan ekonomi, keuangan, dan sosial ketiga terbesar pada abad ke-21 setelah serangan teror 9/11 dan krisis keuangan global pada tahun 2008. Ini berdampak pada penurunan tajam pada produksi, rantai pasokan, dan konsumsi dunia. Lebih lanjut OECD mengingatkan, pandemi ini juga berpotensi menimbulkan krisis ekonomi dunia. Bahkan Dana Moneter Internasional atau IMF memprediksi ekonomi global tahun ini akan tumbuh minus 3% akibat tertekan virus corona (katadata.co.id).

Menkeu Sri Mulayani melalui Liputan6.com mengatakan bahwa kerugian ekonomi global akibat wabah virus corona setara dengan gabungan ekonomi Jerman dan Jepang atau senilai USD 9 triliun. Kerugian ini tidak hanya disebabkan tekanan ke perekonomian tapi juga karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai negara di dunia yang menyebabkan tingkat pengangguran melonjak tinggi.Tekanan ekonomi yang dialami berbagai kawasan pusat ekonomi dunia ini merupakan yang terbesar sejak global financial crisis. Selain itu, kinerja sektor retail juga anjlok -6,2 persen atau terendah sejak tahun 2009. Hal serupa juga dialami Eropa, Jerman misalnya yang merupakan negara ekonomi utama di benua biru mengalami pertumbuhan ekonomi terendah dikuartal pertama tahun ini seperti yang dilaporkan Bussiness Confidence. Inggris pun dibuat tak berkutik setelah sektor retail mengalami kerugian hingga -5,8 persen atau rekor terburuk di negara terebut. Pandemi Covid-19 benar-benar telah meyapu ekonomi global dengan kurun waktu yang begitu cepat.

Ancaman krisis pangan: Pada faktanya, sebelum wabah pun, kondisi di berbagai negara berkembang (miskin) dunia, mereka telah berjuang untuk melawan kemiskinan dan kelaparan. Kejadian pascawabah, ancaman kelaparan pun semakin besar. Lembaga dunia World Food Program mengatakan bahwa masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat resesi ekonomi yang dipicu pandemi Covid-19.

Saat ini ada 135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP menunjukkan bahwa jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat menjadi 270 juta orang. Jumlah ini masih bisa bertambah karena ada sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 1 miliar orang. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memperingatkan dunia akan berpotensi mengalami kelangkaan dan darurat pangan ditengah pandemi ini. Ini akibat kebijakan penguncian (lockdown) di sejumlah negara memuat distribusi pangan global menjadi terganggu.

Kepala Ekonomi dan Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Pembangunan Sosial FAO, Maximo Torero Cullen mengatakan bahwa rantai pasokan makanan telah mengalami kendala pada April-Mei akibat persoalan logistic dan distribusi. Tak hanya mengancam negara berkembang, tapi juga bahaya kelaparan juga mengintai Amerika Serikat, negara dedengkot kapitalis. Sekitar 30,2 juta orang kena PHK di sana. Dampaknya, mobil-mobil mengantre makanan hingga empat jam menjadi pemandangan biasa di sana. Mereka tak sanggup lagi memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga harus bergantung kepada pemerintah menyediakannya.

Dalam bidang politik: Pada situs foreignpolicy.com (majalah politik, ekonomi, integrasi dan ide global yang diterbitkan oleh The Washington Post Company di Washington, D.C., AS). merangkum prediksi tentang wajah dunia pasca pandemic corona.

Diantaranya adalah beralihnya pusat kekuatan globalisasi dari USA menjadi kearah Asia yaitu China. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan militer china yang membuat amerika menjadi ketar ketir. Amerika tidak akan lagi dipandang sebagai pemimpin dunia karena tindakan egoisnya dan ketidakmampuannya dalam menangani pandemic ini. Hal ini juga dikuatkan oleh prediksi para pemikir global bahwa pemenang dari pandemic ini adalah Negara-negara asia seperti China, Korea Selatan, Jepang dan Singapura. Epidemi di Asia diperangi tidak hanya oleh ahli virologi dan epidemiologi, tetapi juga ilmuwan komputer dan khususnya big data (www.theguardian.com). Lebih lanjut Kurt Campbell dan Rush Doshi dalam tulisan yang bertajuk “The Coronavirus Could Reshape Global Order” (Foreign Affairs, 18 March 2020) menyatakan bahwa AS telah kehilangan posisinya sebagai pemimpin dunia karena ketidakmampuannya dalam mengelola slogan “America First” dalam penanganan Covid-19 di dalam negerinya sendiri. Sedangkan China menurut kedua penulis akan secara perlahan menjadi pemimpin dunia karena kepiawaiannya dalam menangani Covid-19 di dalam negerinya.

China bahkan turut berkontribusi tinggi dalam membantu negara-negara lain di berbagai kawasan (Eropa, Afrika, dan Asia) dunia dalam menanggulangi dan menghentikan penyebaran pademi global ini.

Tiga sektor yang dipaparkan diatas hanyalah contoh dari gagalnya kapitalisme dalam menangani pandemic Covid-19 ini. Sektor-sektor kehidupan yang lain pun tak kalah kacau dan hancurnya. Terlebih kesehatan, dunia hari ini bahkan tidak sanggup, yang dilakukan adalah memutus mata rantai penyebarannya tanpa diketahui kapan vaksinnya ditemukan. Tata kelola kesehatan global bahkan belum tergambar jelas oleh negara-negara maju sekalipun, apalagi negara-negara berkembang (miskin). Namun di lain pihak para korporasi adalah pihak yang paling diuntungkan dengan pandemic ini. Diberitakan pada laman biopharmadive.com bahwa perusahan farmasi raksa dunia telah mengalami kenaikan keuntungan pada kuartal pertama. Yakni, Johnson & Johnson 1%, Eli Lilly $ 250 juta, Sanofi sekitar $ 280 juta, Novartis $ 400 juta, Pfizer $ 150 juta, Merck&Co dan Roche. Inilah rusak dan zhalimnya sistem kapitalisme.

Kebangkitan Islam 2020?

Sekitar 16 tahun yang lalu, tepatnya Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”yang memprediksi empat skenario dunia tahun 2020 yaitu : (1) Davod World: Digambarkan bahwa Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.(2) Pax Americana: Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat, (3) A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat, (4) Cycle of Fear (Munculnya lingkaran ketakutan). Salah satu skenario yang cukup kontroversial adalah kemunculan kembali Khilafah Islam. Skenario seperti ini sangat jarang diungkap dalam berbagai analisis dunia internasional. Bahkan banyak kaum Muslim sendiri yang mengatakan, berdirinya Khilafah Islam adalah utopis dan mustahil. Namun dunia hari ini juga sudah berbeda, pandemi global Covid-19 telah mengguncang tatanan dunia.

Dunia mulai lumpuh, pertanda babak baru sedag mulai terhampar di hadapan. Sikap dan keputusan yang diambil umat disaat kritis ini akan sangat menentukan.
The show must go on. Inilah sikap kita ketika pandemi ini terjadi. Tetap berdakwah mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang makruf, dan mencegah segala kemungkaran.

Mempresentasikan dan menggambarkan kebaikan-kebaikan nilai Islam dan solusi menyeluruh dari konsep Islam kafah yang mencakup Islam spiritual dan politik (Ideologi). Konsolidasi umat menjadi keharusan. Peran parpol dakwah bersama dengan semua komponen penting umat yakni ulama, motivator, para da’i dan dai’yah menjadi semakin vital. Disamping tentunya pertolongan Allah SWT, langkah yang harus dilakukan yaitu mobilisasi secara pemikiran dan maknawi. Yang dimaksud dengan mobilisasi adalah menaikkan peringkat umat secara pemikiran dan kejiwaan dengan islam, akidah dan hukum-hukumnya, ke peringkat menjadi kuat untuk bersikap tegar dan menghadapi bencana dan tantangan, berani terjun mengarungi bahaya tanpa takut kematian, sanggup menahan lapar dan berpanas-panasan tanpa menoleh kepada kenikmatan dunia, bahkan tetap fokus memperhatikan keridhaan Allah, bersabar dan terus berharap di depan semua hambatan tersebut. sedangkan memobilisasi secara akliyah dan nafsiyah untuk mendorong umat agar berkorban, lebih mengutamakan orang lain, saling menangggung secara social diantara masyarakat. Inilah yang dilakukan Rasul SAW pada waktu sulit dan terjadi krisis ekonomi dan politik. Beliau mendorong untuk saling menanggung dan menjelaskan besarnya pahala disisi Allah. Beliau mendorong untuk berkorban jiwa dan harta demi kemaslahatan masyarakat dan beliau menjelaskan balasannya yang baik disisi Allah. Allah berfirman
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41).
Wallaahu a’lam bis Showwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *