Pain Poin itu “Kemampuan melihat”

Oleh : Patimatul Jahroh,SEI

Tajam nya mata seseorang tak bisa di ukur sepintas lalu, karena subjektifitas ini akan muncul kepermukaan saat seseorang mengeluarkan pendapat sosialnya dan dari sanalah kita bisa temukan ruangan pemikiran khas yang di adobsi olehnya.

Tentu tingkatan antar manusia akan berbeda, tergantung refrensi yang di pahami, seberapa sering ia lejitankan akal nya, seberapa jam terbang kecepatan akal yang di asah dengan tumpukan masalah di tiap detik yang sengaja ia kerahkan untuk dalam rangka penyelesaian problem dengan solusi yang benar dan masalah tuntas.

Hingga kualitas diri nya bertambah, dan begitu seterusnya. Artinya kemampuan melihat masalah bertambah beberapa point dan kemampuan mencari solusi juga bertambah, hingga ia akan nampak berbeda dari manusia yang lain.

Tapi, Hal ini Bukan berarti seseorang akan selalu menanjak akal dan kepekaan perasaannya. Tentu bisa maju pun bisa juga tidak. Bahkan bisa juga seseorang yang awalnya istimewa dengan kemampuan melihat di atas rata rata kebayakan manusia berubah melorot jauh kebawah (red: individualisme).

karena ia sedang stuck (jalan ditempat) bahkan (bahasa ingrs) mundur dalam mengupgrade diri nya dengan sibuk dengan problem pribadi, seakan dirinya yang paling malang dan paling menderita di muka bumi ini. Hingga cuek dengan sekitar dan abai dengan hajat hidup orang banyak (red: dakwah yang sadar dan optimal).

Padahal kemampuan melihat itu bisa senantiasa berkembang dalam diri seseorang dengan tiga proses yang harus selalu ia kerjakan terus dan jangan terhenti.

Pertama, menambah ilmu yang dipelajari dan di pahami dengan sadar sehingga menjadi khazanah tsaqofah (samudra ilmu) yang memimpin akalnya dalam menelusuri pilihan hidup. Artinya ilmu yang di adosi itu menjadi buah amal dalam hidupnya.

Kedua, perduli dengan orang lain. Karena dari sini seseorang akan dapati ilmu yang dimiliki berguna untuk sesama sehingga ia akan terdorong untuk senantiasa menambah kadar pengetahuannya agar bisa senantiasa membantu sesama hamba Allah SWT.

Bahkan ketenangan setelah menyelesaikan problem orang lain ini akan menjadi kado tersendiri yang dirasakannya khusus dari Allah SWT untuk nya, dan bukan hanya itu, kelak di akhirat perbuatan terpuji itu akan di ganjar pahala dan rewerd yang abadi yakni pahala yang hakekatnya akan membawanya pada kebahagiaan yang abadi di surga-NYA nanti.

Ketiga, evaluasi diri. Sudahkah segala hal yang di kerjakan di orentasikan untuk pencipta segala, sudahkan dalam segala tindak tanduk amalnya selalu mengajak Allah SWT dan bergantung pada pertolongan Allah SWT sehingga tak ada kesombongan yang terpatri dalam diri, walau sebesar butiran pasir.

Sudahkan selalu terikat pada rambu rambu syariat islam, sehingga akan membawa pada ketenangan hati, menundukan akal dan sejalan dengan fitah manusia yang suci yakni senantiasa ingin beribadah pada Rabb-NYa.

Dan evaluasi ini dilakukan setelah mengerjakan amal per amal dalam tiap detik pilihan kita, sehingga konektivitas kita dengan Allah SWT tak berjeda sedikitpun.

Hingga kita akan menjiwai doa orang-orang sholih yang menghajatkan hidupnya hanya untuk membuat Allah tersenyum indah pada amal ketaatan pada syariat islam saja.

Hingga yang mendorong ketaatan nya adalah cinta sekaligus rasa takut untuk mengecewakan Allah SWT.

Hingga dengan sadar kita tulus meminta pada Rabbnya dalam setiap waktu untuk meminta di titah sama Allah, untuk selalu ditolong sama Allah, untuk meminta tidak mau ditinggalkan sama Allah, untuk meminta dijadikan matanya dengan mata Allah, telingganya dengan telingga Allah, tangan dan kaki nya dengan tangan dan kaki Allah.

Hingga kita bertekat tak akan menduakan allah dengan menyelisihi Allah dengan mengadobsi segala aturan dan larangan yang berasal dari pihak penentang Allah SWT.

Dan selanjutnya, kita sadar bahwa tujuan adanya kehidupan kita didunia ini adalah Ridho Allah SWT dan mendaptkan Ridho Allah SWT.

Dan semua hal yang kita lakukan akan sejalan dengan tujuannya itu. Termasuk kita akan senantiasa meningkatkan segala kemampuan diri kita dengan ilmu Islam, agar menjadi paham, kuat berpegang teguh pada prinsif islam dan mengamalkannya selalu dalam kehidupan ini.

Cukuplah ayat di bawah itu sebagai peringatan Allah untuk kita sebagai cambukan diri di saat goyah, disaat melemah agar bisa kembali berdiri dan kembali merayu Allah dengan ketaatan di setiap detik nafas kita.

_“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yg diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yg mempersekutukan Allah, gangguan yg banyak yg menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yg demikian itu termasuk urusan yg patut diutamakan.”_ (QS. Ali Imran : 186).

_“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yg biasa bersembunyi. Yg membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia’.”_ (QS. An-Naas: 1-6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *