Waspadai Pluralisme Jelang di Akhir Tahun

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Waspadai Pluralisme Jelang di Akhir Tahun

 

Oleh Sumisih (Kontributor Suara Inqilabi)

 

Perayaan Nataru telah tiba. Himbaun pemerintah kepada masyarakat untuk toleransi beragama terus masif setelah pencanangan Kemenag tahun 2022 adalah Tahun toleransi.

Seperti kota Surabaya pada perayaan Nataru tampil beda dari tahun sebelumnya. Sebab Pemkot Surabaya berkomitmen menjaga semangat toleransi dan keharmonisan untuk menghormati umat beragama dengan memasang hiasan Natal di beberapa tempat.

Walikota Surabaya Edy Cahyadi mengatakan bahwa kota Pahlawan merupakan kota Toleransi dengan peringkat ke- 6 di Indonesia dan peringkat ke- 1 di Jawa Timur.

“Saya ingin menunjukkan bahwa bukan suku Jawa saja. Ada NTT, Maluku, Minang dan lain- lain serta agama berbeda- beda yang tinggal di Surabaya. Peringatan Natal dan Ornamen Natal. Perayaan hari raya Budha, Hindu juga akan di pasang. Waktunya agama Islam akan di buatkan ketupat. Hidup ini beragam jadi saling melengkapi ini yang ingin saya bentuk,saya yakin bisa,” ucap Edy Cahya. (suarapubliknews, 17/12/22)

Atas nama menjaga keberagaman dan toleransi umat Islam selalu digirng untuk ikut memeriahkan Nataru. Dalihnya adalah pluralisme. Masyarakat dihimbau untuk menjaga keharmonisan toleransi dengan pemasangan simbol keagamaan seperti pohon natal di tempat umum di mal- mal dengan memakai topi sinterklas. Terompet dan kembang api ramai diborong anak-anak muslim di tiup dan di nyalakan di tahun baru.

Fenomena ini terus terjadi setiap akhir tahun dalam peringatan Nataru. Maka perlu untuk dijelaskan dan di pahamkan pada umat Islam agar tidak mencampur adukkan agama ala moderasi beragama yang menyesatkan perbedaan pluralisme dengan pluralitas. Mana yang di haramkan dan mana yang harus dijaga. Karena akan mengikis keimanan atau akidah umat Islam.

Tentang toleransi Islam sangat jelas dan tegas. Bahkan umat Islam adalah umat yang toleran dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim. Bukan malah mengikuti peringatan ke gereja dan mengucapkan selamat Karena Islam mengajarkan:

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku”(QS Al- kafirun 6)

Juga HR Al-baihaqi:

“Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gerejamereka,saat perayaan mereka,karena saat itu sedang murka Allah.” (HR. Al-Baihaqi)

Sebaliknya Islam tidak pernah memaksa non muslim untuk masuk Islam.Firman Allah:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) Agama (Islam) Sesungguhnya telas jelas jalan yang benar dan jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah. Maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS.Albaqoroh 256)

Dalam perayaan Nataru seorang muslim wajib bersikap tegas dan standarnya haruslah syariat Islam. Hari ini derasnya proyek moderasi yang menyuarakan toleransi antar umat beragama. Diaruskan tidak ada agama yang lebih benar dari agama lainya. Padahal dalam Islam meyakini syariat Allah SWT adalah kewajiban.

Syariat Islam juga mengatur bagaimana menyikapi perbedaan akidah. Tidak masalah kita punya teman beragama lain, tetapi tetap ada batasan dalam akidah. Setiap agama memiliki ajaran sendiri Nasrani meyakini hari kelahiran Tuhan, sedangkan dalam Islam Isa adalah seorang Nabi yang Allah utus kepada manusia.

Umat dalam gempuran arus pemikiran barat hari inibutuh kekuatan untuk mengembalikan penerapan Islam. Terus berjuang dan beramar makruf nahi mungkar supaya akidah Islam tetap tertancap di benak kaum Muslimin hingga Allah memenangkan Agama ini.

Wallahua’lam Bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *