Vaksin Bukan Solusi Berakhirnya Pandemi

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Ayyatul.S.N

 

Pandemi terus berlanjut belum dapat dipastikan kapan akan berakhir, seperti lingkaran yang tidak ada ujungnya. Penanganan yang terlambat berdampak pada situasi serta kondisi negeri yang tidak baik-baik saja. Pernyataan yang tidak tegas dalam menghadapi masa pandemi menjadikan masyarakat tidak mengikuti peraturan dengan tertib sehingga dampaknya masa kritis di Negeri ini tidak kunjung berakhir. Kita sebagai individu harus apa dan sebagai masyarakat yang baik perlu berperan dalam mengatasi situasi dan kondisi Negeri kita tercinta.

Adapun pernyataan Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto, “Critical time-nya adalah tiga bulan (sampai Desember 2020). Kita harus menjaga, jangan sampai ada lonjakan ekstrim dan kondisi tidak normal, sebelum vaksinasi mulai dilakukan,” Jumat (18/9/2020). Bisnis.com. Dan sudah lewat namun masih terjadi lonjakan yang artinya critical time terus berlanjut seperti pernyataan Epideimolog Griffith University, Dicky Budiman menyebutkan “Kondisi Indonesia saat ini dan dalam 3 sampai 6 bulan ke depan memasuki masa kritis mengingat semua indikator termasuk angka kematian semakin meningkat,” kata Dicky, Sabtu (2/1/2020). Tirto.id

 

TINDAKAN PENCEGAHAN DENGAN VAKSIN

Negeri Indonesia kemungkinan akan mengalami masa kritis yang panjang, karena pencegahan yang dilakukan memang sangat terlambat. Sistem pemerintahan Indonesia lebih mementingkan keuntungan diatas kepentingan yang ada, kacamata sistem pemerintahan Indonesia yaitu kapitalisme memandang pandemi adalah ladang bisnis dan tidak berpihak pada masyarakat. Sejak awal terjadinya pandemi, pemerintah seperti tidak serius menangani nya. Meskipun sudah ada rencana akan ada pemberian vaksinasi untuk pencegahan Covid-19, dalam rentang sampai pemberian vaksin pemerintah berharap tidak ada lonjakan kasus yang signifikan.

Pada kenyataannya saat ini kasus semakin hari kian meningkat dan pernyataan Epideimolog Griffith University bahwa masa kritis 3 sampai 6 bulan kedepan diprediksi akan terjadi. Pemerintah memberikan solusi menanggulangi pandemi dengan vaksin, maka seperti sekarang yang terjadi. Kesehatan masyarakat tidak ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, kebutuhan pangan selama pandemi dibantu hanya setengah-setengah, pendidikan pun terkena dampak dari lalainya menanggulangi wabah ini. Roda ekonomi semakin terpuruk akibat sistem kapitalis-demokrasi yang menganggap sebagai lahan bisnis.

Kita perlu mengetahui bahwa vaksin bukan solusi untuk mencegah dan menyelesaikan semua. Vaksin hanya salah satu cara untuk membangun kekebalan tubuh individual dan perlindungan masyarakat. Dan tidak ada vaksin yang sempurna dalam memberi perlindungan.

 

TINDAKAN PENCEGAHAN DALAM ISLAM

Islam mengatur seluruh lini massa kehidupan, mulai dari hal kecil hingga hal besar, dari kehidupan individu hingga bermasyarakat, dan termasuk dalam mengatasi pencegahan suatu wabah seperti pada pandemi ini. Zaman Rasulullah hidup bila ada penyakit yang menyebar luas dan tidak terkendali, tindakan yang pertama kali dilakukan adalah karantina.

Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ini merupakan metode karantina yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam agar penyakit yang mewabah tidak menjalar ke negeri-negeri lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Nabi Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan mereka yang bersabar dan yang tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Adapun pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang saat itu melakukan perjalanan menuju Syam terpaksa menghentikan perjalanannya karena terjadi wabah kolera. Khalifah meminta pendapat pada sesepuh quraisy tentang memasuki kota yang terkena wabah tersebut. “Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu,” ujar sesepuh Quraisy. Keputusan tidak melanjutkan perjalanan semakin kuat pun semakin yakin saat mendapatkan informasi dari Abdurrahman bin Auf ra, bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit. Begitupula masyarakat yang terkena penyakit tersebut tidak boleh keluar dari wilayahnya. Ini merupakan metode mengisolasi agar wabah tidak menyebar.

Islam juga memberikan panduan untuk mencegah penularan virus dengan terapkan 5M yaitu menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan menjaga imun tubuh. Tindakan tersebut untuk mencegah penularan yang semakin meluas. Pemerintah harus nya sejak awal menerapkan protokol kesehatan seperti ini dan karantina yang dalam Islam sudah dikenal. Namun terlambat sehingga pandemi terus berlanjut dan angka penderita kian tinggi. Kita sebagai masyarakat perlu  ketegasan dari pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan, perlu payung hukum yang menaungi dalam setiap tindakan pencegahan pada masa pandemi. Perlu pengobatan tanpa harus memikirkan biayanya.

Islam mengatasi masalah dengan cara yang sudah pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan seharusnya pemerintah sejak awal mengoptimalkannya sehingga dampak dari pandemi dapat diminimalisir. Yang kita perlukan saat ini adalah menerapkan sistem Islam secara kaffah untuk sehingga masalah yang timbul dapat teratasi dengan bijaksana.

Wallahu’alam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *