Tak Peduli Nyawa Nakes, Negara Mati Rasa?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Anggraini Arifiyah (Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Islam Kaffah)

 

Kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Hal ini dinyatakan Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) Adib Khumaidi. Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia. “Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi¬†Covid-19. Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis”, ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2021).

Ya, kasus pandemi hingga saat ini kian melonjak, bukannya menurun. Kunci untuk menekan angka kematian tenaga medis dan kesehatan adalah pada penurunan kasusnya. Selain itu adalah pemberian bekal yang cukup bagi para tenaga kesehatan, baik berupa APD yang mencukupi, vaksinasi, asupan gizi, hingga kesejahteraan ekonomi. Ini semuanya bertumpu pada upaya penguasa untuk membuat serangkaian kebijakan yang bisa menekan angka penularan Covid-19.

Terlihat memang ada faktor kelalaian sebagian masyarakat seperti minimnya kesadaran akan protokol kesehatan. Namun dalam sebuah negara, rakyat ibarat tubuh dan penguasa ibarat kepala. Kepala (dengan otak di dalamnya) bisa memerintah anggota tubuh lainnya untuk melakukan ini dan itu. Demikian juga negara, jika penguasa tegas mencegah terjadinya kerumunan, rakyat pasti akan mengikuti. Namun yang nampak jelas justru kontras. Sayangnya ketegasan ini tidak terwujud, penguasa terkesan plin-plan dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan.

Ada individu yang diberi sanksi karena dianggap mengundang kerumunan, tapi penguasa sendiri justru banyak membuat kerumunan di dalam kepentingannya. Karena longgarnya penguasa, rakyat juga ikut longgar, alhasil protokol kesehatan banyak diabaikan. Akibatnya, tenaga kesehatan yang kena getahnya, pasien Covid-19 membludak.

Sungguh ironis. Mungkinkah nyawa manusia dalam sistem kapitalis liberal tiada harganya. Hingga pemerintah senantiasa berhitung untung rugi terhadap penanganan kasus sedarurat ini, bahkan telah mengancam nyawa rakyatnya. Hal ini semakin membuktikan bahwa sistem pemerintah kapitalis yang diemban negara saat ini telah gagal menjamin keselamatan jiwa rakyatnya, bahkan mereka secara terang-terangan mengabaikan jiwa para rakyatnya.

Sangatlah berbeda jelas dengan sistem kekhilafahan. Dimana para pemimpin dalam Islam benar-benar memprioritaskan urusan rakyatnya. Satu nyawa sangat dijaga oleh khalifah. Tak hanya rakyat muslim, namun rakyat non muslim yang menjadi warga daulah Islam pun turut dijaga dan dijamin. Wabah seperti Covid-19 sebenarnya pernah terjadi pada masa kejayaan silam yaitu pada masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab. Pada masa kepemimpinan khalifah Umar, masyarakat Syam diserang oleh wabah Thaun, yang mana wabah tersebut sangatlah berbahaya dan sangatlah menakutkan.

Terdengar cerita tentang wabah tersebut. Pagi hari terjangkit, malam meninggal dunia. Saat itu khalifah Umar pun memerintahkan rakyatnya untuk tidak mendekati wabah tersebut, dan orang yang berada di sekitar wabah harus mengisolasi diri mereka agar wabah tak menyebar keluar. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah Saw., “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Namun, saat Khalifah Umar melakukan lockdown/isolasi terhadap wilayah yang terkena wabah, beliau juga mencari solusi bagaimana cara menghentikan wabah di wilayah Syam tersebut. Akhirnya Khalifah Umar mengumpulkan pada para sahabat dan berdiskusi mencari jalan keluar. Sehingga dengan diskusi tersebut seorang sahabat, Amr bin Al-Ash mampu menyelesaikan dan menghentikan wabah tersebut. Amr bin Al-Ash memang merupakan sahabat Nabi yang terkenal dengan kepandaiannya. Ibarat perumpamaan “Dimana dia berpijak, di situlah dia layak menjadi pemimpin.”

Tak hanya itu, di saat Khalifah Umar menyerukan lockdown kepada rakyat di wilayah Syam. Dia pun menjamin ketersediaan pangan/kebutuhan bagi rakyat tersebut. Sehingga rakyat terkena lockdown tak perlu keluar dari wilayahnya guna mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan perut.

Dengan dorongan keimanan kepada Allah Swt. dan kecerdasan para pemimpinnya, Islam mampu menghasilkan solusi untuk menyelesaikan problematika wabah yang menimpa mereka. Sehingga, sudah sepatutnya pemimpin saat ini pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan Khalifah Umar bin Al-Khattab agar wabah tak menyebar luas dan memakan korban lebih banyak.

Wallahu A’alam Bisshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *