Stigma Terorisme Hingga Feminisme Merongrong Pemikiran Umat Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Shofiyyah Syaharani (Aktivis Muslimah)

 

Aksi teror kembali terulang di negri ini. Tindak pengeboman yang terjadi di Gereja Katerdal di Makassar tepatnya, tentunya hal ini yang berujung kepada aksi terorisme. Tidak berhenti sampai di situ, berita yang memuat aksi terorisme setelah pengeboman tidak ada henti-hentinya. Terdapat kasus baru menyangkut aksi terorisme yang melibatkan perempuan bercadar. Perempuan itu ditembak mati di Mabes Polri dan meninggalkan surat wasiat.

“…berhenti berhubungan dengan bank (kartu kredit) karena itu riba dan tidak diberkahi Allah. Pesan berikutnya agar mama berhenti bekerja menjadi dawis (dasa wisma -red) yang membantu kepentingan pemerintah thagut…” (Suara.com, 1/4/2021)

Isi surat wasiat tersebut tentu dipandang sebagai orang yang sangat taat kepada Allah karena berhubungan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi pembenar penggeledahan dan penangkapan Muslim di berbagai tempat.

Dari kasus peninggalan surat wasiat yang melibatkan perempuan hingga terorisme, membuat para kaum feminisme mengkampanyekan idenya.

“Ketika kita melakukan penelitian tentang radikalisme dan aksi-aksi teroris di Indonesia, perempuan sudah menjadi agensi yang luar biasa. Agenda perempuan dalam dunia terorisme itu menarik. Semakin kuat. Jadi, sekarang bagaimana mengubah agensi perempuan dalam upaya membangun pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian dan nilai toleransi,” ujarnya. (voaindonesia.com, 01/04/2021)

Menurut kaum feminisme orang-orang yang tergolong radikalisme seperti mereka yang menutup aurat dengan sempurna termasuk penekanan secara sederhana.
Tindakan terorisme hingga radikalisme yang sekarang masih hangat dibicarakan memberikan stigma di tengah-tengah masyarakat untuk berhati-hati kepada orang yang memakai jubah, orang yang memakai celana cingkrang, sampai orang bercadar. Karena mereka menganggap bahwa orang-orang yang terlihat agamis akan memiliki pemikiran fanatic tentang agama yang berujung kepada aksi pengeboman dan aksi-aksi yang dapat melukai ummat yang lain.

Di dalam Islam tentunya perbuatan bunuh diri seperti pengeboman atau aksi teror yang dapat mengancam nyawa orang lain tidak dibenarkan, bahkan jika ada yang melakukan hal itu Allah menjanjikan neraka Jahannam dan adzab untuknya.

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu” (Qs.4: 29)
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam. Ia kekal di dalamnya, dan Allah mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (Qs.4: 93).

Kampanye feminisme juga yang digencarkan sudah merebak kepada tubuh kaum muslim khususnya muslimah mereka yang berkewajiban menutup aurat secara sempurna lebih memilih berpakaian membentuk lekuk tubuh dengan alasan untuk memperlihatkan kecantikan dan terlihat modern.

Seharusnya muslimah yang menjadi pendidik generasi masa depan sadar akan racun-racun pemikiran yang ditelah dibuat oleh Barat dengan penamaan feminism salah satu dari bentuk kebebasan wanita penyama ratakan derajat wanita dan laki-laki.

Padahal di dalam Islam wanita sangat dimuliakan, tetapi mereka tidak sadar akan posisi pentingnya. Seharusnya kaum perempuan (muslimah) sadar posisi pentingnya dan tetap fokus pada penanaman kepribadian Islam, mendidik keluarganya taat syariah dan terus berikhtiar memperjuang Islam kaffah agar tidak ada celah menstigma muslim dan ajaran Islam.

Wallahu a’lam bi ash-showab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *