Resiko Olah Limbah B3 di Kalbar

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Ummu Abyaz (Pontianak-Kalbar)

 

Kabupaten Kubu Raya Kalbar, Kota Banjarbaru Kalsel, Kabupaten Banyuasin Sumsel akan menjadi lokasi fasilitas pemanfaatan oli bekas menjadi sumber energi alternatif yang dibangun oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Ini adalah salah satu implementasi pemanfaatan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), sehingga KLHK memfasilitasi peningkatan kapasitas pelaku usaha/kegiatan dan membangun sarana prasarana. Limbah B3 menjadi sumber daya proses produksi, baik bahan baku atau energi (ppid.menlhk.go.id, 22/12).

Nilai ekonomi bruto dari pemanfaatan limbah B3 dan non B3 tahun 2021 dari manufaktur, agroindustri, pertambangan energi dan migas, serta prasarana mencapai Rp. 21 T. Sementara, total nilai ekonomi yang ditimbulkan dari pemanfaatan Limbah B3 dan tanah terkontaminasi Limbah B3 yaitu Rp. 32 M.

Sistem ekonomi sirkular dipandang lebih berkelanjutan karena dapat mengurangi beban lingkungan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Selain lebih ramah lingkungan, sirkular ekonomi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi, menyediakan lapangan kerja, berkontribusi pada pembangunan, sekaligus upaya mengatasi perubahan iklim.

Pada Acara Refleksi Akhir Tahun 2021 KLHK di Jakarta (22/12/2021) dibahas bahwa di sektor hulu, penerapan ekonomi sirkular dilakukan melalui pengurangan sampah oleh produsen. Jenis produsennya meliputi manufaktur, ritel, serta jasa makanan dan minuman. Target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30% pada akhir tahun 2029. Pilah sampah dari rumah, menggunakan kemasan/produk tidak sekali pakai, membatasi timbulan, pendauran ulang, pemanfaatan kembali, Bank Sampah, TPS 3R, sampah organik menghasilkan maggot dan pupuk cair.

Awal tahun 2021 kita dikhawatirkan dengan dikeluarkannya limbah batu bara (FABA) dari golongan limbah bahan berbahaya beracun (B3) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021. Yang menguntungkan investor serta membahayakan rakyat dan lingkungan. Kali ini Limbah B3 akan menjadi bagian sistem ekonomi sirkular yang dipandang lebih berkelanjutan dari kacamata Kapitalis.

Oli bekas yang direncanakan akan diolah di Kalbar (pembangunan sudah berjalan di Kec. Sungai Ambawang) akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar sarana olah. Oli bekas mengandung logam berat dari bensin dan mesin kendaraan bermotor yakni sifat korosif, mudah terbakar atau meledak, reaktif, beracun, dapat menyebabkan iritasi dan infeksi, mutagenic. Radioaktif Zat ini jika masuk ke dalam tubuh dapat berakibat iritasi (kulit, mata, telinga), kerusakan ginjal, syaraf, dan kanker.

Recycle dari oli bekas sebenarnya adalah ide yang bagus. Namun perlu diketahui bahwa hal ini bukan hanya sekedar isu lingkungan dan keuangan. Tapi isu ideologis. Ide dan metode yang mendasari proyek tersebut adalah dari sudut pandang sistem kapitalisme. Yang mengedepankan keuntungan materi.

Islam hadir sebagai ideologi yang memberikan batasan. Keuntungan materi yang didapat tidaklah boleh mendahului pemenuhan jaminan hak hidup dan kesehatan manusia. Allah mengamanahkan bumi ini, bukan untuk dikelola dengan dzalim, tapi dengan syariat Islam yang tidak merugikan satu mahluk hidup pun. Serta mengharamkan pengelolaan urusan dalam negeri menjadi urusan negara lain dalam mekanisme investasi dan pinjaman luar negeri pada pembangunan sarana pengolahan limbah. Wallahu’alam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *