Remaja Harus Peduli Politik

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Rohmatullatifah (Aktivis Dakwah)

 

Biasanya kalau sudah bicara politik kita sebagai remaja malas menanggapai, ada saja alasan kita sebagai remaja untuk cuek dalam urusan politik. Padahal semua urusan hidup kita sebenarnya berhubungan dengan politik.

Benar, karena mungkin selama ini yang kita tahu politik itu identik dengan sesuatu yang kotor seperti suap-menyuap hingga kecurangan-kecurangan yang marak terjadi. Apalagi ketika pemilu tiba, banyak orang-orang yang rela di bayar dengan sembako gratis bahkan ada yang diberikan uang agar mau memilih nantinya saat pencoblosan. Itulah fakta politik dalam bingkai demokrasi yang ada di negeri kita.

Dilansir dari Merdeka.com – Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi.

“Sikap mereka tidak begitu yakin bahwa politisi mewakili aspirasi masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei secara daring, Minggu (21/3).

Apalagi kelakuan sebagian dari para elite politik yang gemar korupsi, melakukan kecurangan dan pencitraan menjelang pemilu hingga meresahkan sebagian masyarakat semakin membuat para remaja “balik badan” serta tidak tertarik menanggapi isu-isu perpolitikan.

Tapi sadar atau tidak, remaja memiliki potensi yang sangat besar untuk meraup suara saat pesta pemilu. Ternyata potensi yang besar ini sudah dibidik oleh partai peserta pemilu jauh sebelum ajang konstestasi dilakukan.

Bahkan para milenial pun didapuk untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, hadirnya wajah-wajah milenial bahkan dari kalangan terkenal memberikan kesan baru dan fresh dalam perpolitikan Indonesia setiap kali pesta demokrasi berlangsung.

Generasi milenial dianggap spesial karena memiliki perbedaan dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam teknologi, mereka dinilai cakap terhadap media, tanggap, dan kreatif. Selain itu para milenial ini dinilai mampu meraup suara banyak untuk partai pengusung karena popularitasnya.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan, apakah para milenial ini memiliki pengalaman politik yang baik dan bukan hanya bermodal ketenaran saja? Sebab ketika menang dalam pemilihan, maka mereka memiliki beban besar yakni membawa keadaan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Sebab telah kita fahami bersama bahwa perpolitikan yang ada di negeri kita saat ini diatur dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik, sehingga ketika seseorang menjabat untuk mewakili rakyat dalam pengurusan terhadap mereka, tidak dipungkiri individu yang bersangkutan seringkali tersandera kepentingan.

Sebab, praktek pemilu demokrasi yang terjadi sekarang ini terkadang “dihiasi” dengan kecurangan, pencitraan dan benar mereka yang duduk dikursi kekuasaan pada faktanya terkadang abai dari menyerap aspirasi rakyat.

Hal ini wajar terjadi di dalam pesta demokrasi yang katanya bersih, jujur dan adil. Karena sekulerisme dalam sistem demokrasi ini menganggap materilah standar kebahagiaan akibat pemisahan agama dari kehidupan.

Segala cara pun dilakukan untuk mendapatkan materi, baik kekayaan maupun kekuasaan. Sementara agama faktanya masih terpinggirkan dari pengurusan publik. Jadi, tidak ada lagi standar halal haram yang ada hanya berdasarkan pada manfaat atau kepentingan saja.

Manusia bebas menentukan sendiri baik dan buruknya sesuatu. Akibatnya aturan dibuat sesukanya apalagi jika menguntungkan untuk diri dan kelompok, mereka yang punya kekuasaan akan membuat yang lemah semakin terpinggirkan. Hingga berlakulah hukum rimba.

Itulah yang sesungguhnya terjadi di dalam sistem sekular. Dalam demokrasi, politik itu hanya sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, bukan lagi sebagai bentuk pengurusan penguasa terhadap rakyatnya atas dasar keimanan kepada Allah swt.

Politik di dalam Sistem Islam

Politik di dalam Islam berbeda jauh dengan politik yang ada saat ini, dimana sistem buatan manusia menjadi sandaran dalam mengurusi urusan rakyat, tentu saja hal ini bertentangan dengan yang telah Allah swt perintahkan.

Islam punya cara-cara politik yang elegan, bersih bahkan menentramkan, bahkan tidak hanya mengurusi umat islam semata, tetapi diperuntukkan juga bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang lagi agama, ras, warna kulit, bahasa, bahkan bangsa mereka.

Politik didalam Islam berarti mengurusi urusan umat. Jadi, segala sesuatu yang mengurusi urusan rakyat, mulai dari pendidikan, ekonomi kesehatan, sosial, keamanan, hukum, pemerintahan ini disebut dengan urusan politik, sebab urusan umat sudah pasti akan berkaitan dengan aspek-aspek tersebut.

Rasulullah saw pun seorang politikus ulung, beliau tidak hanya sebagai seorang Rasul, tapi juga kepala negara adidaya yang disegani oleh kawan maupun lawan, sebagaimana yang beliau contohkan saat mendirikan daulah islam di madinah, sejak beliau hijrah dari makkah ke kota tersebut.

Sebagai muslim, kita percaya bahwa  Islam itu berisi paket lengkap yang mengatur segala aktivitas kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga bangun negara, mulai masuk kamar mandi hingga masuk pemerintahan segalanya tidak lepas dari syari’at yang telah Allah swt turunkan secara sempurna melalui Al-qur’an dan As-sunnah.

Islam dengan kekuatan politiknya mampu menguasai 2/3 dunia dan memimpin hingga lebih 13 abad lamanya. Semua rakyat baik muslim maupun non muslim hidup berdampingan, damai dan sejahtera. Angka kriminalitas menurun, dan kaum miskin hampir tidak ditemukan, fakta ini dapat kita lihat dari tegaknya islam sejak masa Rasulullah, khulafaurasyidin, hingga masa kekhilafahan yang mewarisi kekuasaan mereka.

Islam pun menjadi rujukan bangsa-bangsa selain Islam dan Islam mampu memancarkan kegemilangan peradabannya, terbukti hingga saat ini, bangunan-banbunan pada masa kejayaan islam masih banyak yang menjadi rujukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Karena itu, remaja harusnya melek politik agar tidak menjadi korban politik, hal itu dapat kita raih dengan mempelajari Islam dan memahami bahwa Islam itu Ideologi bukan hanya sekedar agama yang mengatur aktivitas ibadah ritual semata.

Islam adalah ideologi atau pandangan hidup sempurna yang didalamnya berisi pemikiran dan aturan bagi kehidupan. Ini wajib kita pahami untuk menjadi politikus ulung.  Pemahaman Islam yang cemerlang mampu menganalisa semua permasalahan umat dengan sudut pandang berbeda yakni islam.

Remaja yang “melek” politik itu tidak mudah terjebak dalam janji manis yang menjadikan remaja sebagai objek politik untuk meraup suara semata, tetapi politik akan mereka lakukan atas dasar keimanan kepada Allah swt.

Kemudian remaja yang peduli politik berarti peduli dengan permasalahan umat yang terjadi saat ini.
Kritis menanggapi ketika tidak sesuai setiap pengurusan umat dengan Islam, dan berupaya untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai negara.

Wallaahu a’lam bishshowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *