RAMADHAN, RAIH TAQWA KALA DAN PASCA

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Being Ulinnuha (Mahasiswi di Surabaya)

 

Sudah tidak asing bagi kaum muslimin, bahwa dalil mengenai bulan Ramadhan dalam Al-Qur’an tertera jelas dalam Q.S Al Baqarah (2) ayat 183.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Berdasarkan ayat ini, maka ramadhan adalah momentum bulan yang spesial, pun hanya ditujukan bagi orang-orang tertentu, yakni hanya bagi orang yang mukmin (beriman), wajib melaksanakan ibadah puasa.

Dalam QS. Al Baqarah : 183, juga disebutkan di akhir ayat bahwa puasa Ramadhan ini memiliki keistimewaan agung yakni tercapainya ketaqwaan pada diri mukmin yang melaksanakannya. Lantas bagaimanakah yang dimaksud taqwa tersebut?

PUASA MERAIH TAQWA
Taqwa secara bahasa berasal dari kata waqa-yaqii-wiqoyatan yang bermakna memelihara. Artinya memelihara hubungan dengan Allah yakni melaksanakan segala perintahNya dan memelihara diri agar tidak terperosot pada rambu yang telah dilarangNya. Sedangkan secara syar’i’at taqwa disebutkan Allah dalam beberapa firman-nya, yakni salah satunya dalam Q.S Al Baqarah : 2-5 yang menyebutkan ciri orang bertaqwa yaitu orang yang beriman kepada hal-hal gaib, mendirikan shalat, dan menyedekahkan sebagian harta mereka, beriman terhadap kitab-kitab Allah, serta beriman terhadap akhirat.

Para ulama mengungkapkan makna taqwa dengan beragam makna hanya saja tetap dalam esensi yang sama. Seorang Abu Hurairah saat ditanya apa itu taqwa, beliau menjawab dengan suatu ilustrasi ; “apabila engkau berjalan dijalanan penuh duri tentu yang akan dilakukan adalah menghindarinya, maupun berjalan dijalanan bagian lain, maka berhati-hati itulah sikap takwa.”

Sedangkan imam Ali karramallahu wajhah menyebutkan taqwa dengan meliputi empat hal :
1- Al khaufu min Robb al-jalil ( Takut kepada Allah yang Maha Agung)

Rasa takut kepada Allah SWT akan melahirkan sikap kewaspadaan, sikap berhati-hati dari semua larangan Allah, sikap takut berbuat maksiat, ketakutan melanggar apa yang telah Allah larang dan ketakutan meninggalkan apa yang Allah wajibkan. Ini lah ketakutan yang seharusnya kaum mukmin pelihara.

2- Al ‘amalu bi at-tanzil ( Melakukan amalan berdasarkan apa yang ditetapkan Al-Qur’an)

Maknanya segala aktivitas yang dilakukan seorang mukmin, dia harus melandasi aktivitas tersebut dengan kesesuaian syari’at Islam. Dalam hal ini, maka seorang mukmin tidak akan mampu memahami hukum Allah tanpa adanya ilmu. Ilmu tersebutlah yang akan menuntun perbuatan-perbuatan seorang mukmin baik dan buruknya sesuai dengan apa yang sudah Allah SWT tetapkan.

3- Al-Qana’atu bi al-qalil (Menerima dengan pemberian yang sedikit)

Seorang mukmin yang bertakwa juga akan merasa cukup dengan apa yang sudah Allah SWT berikan. Ia sadar bahwa rizki dari Allah selalu ‘pas’, tidak berlebih maupun berkurang.

4- Al Isti’dad Li yaumi al-rahil ( Mempersiapkan untuk hari akhir)

Segala amalan yang dilakukan oleh mukmin yang bertaqwa senantiasa dalam rangka menyiapkan diri akan hadirnya hari kematian, yaitu hari keberangkatan dari alam dunia menuju alam akhirat. Sehingga apa yang dilakukannya senantiasa sejalan dengan apa yang Allah ridhoi bukan Allah murkai. Rasa marah, rasa benci, rasa cinta, rasa rindu, seluruhnya didasari pada keridhoan Allah.

TAQWA HARUS TOTALITAS

Ada pengibaratan cukup memadai mengenai ketaqwaan secara totalitas. Jika kita pernah membeli sebuah tanaman di toko tanaman, tentu kita membeli tanamannya secara sempurna (ada akar, batang, daun, bahkan bunga dan buahnya), tentu kita juga sekaligus membawa pulang pot/polybagnya, pupuknya juga serbuknya. Sehingga ketika tanaman itu sudah kita beli dan menjadi milik kita, kita tinggal merawatnya kembali di rumah. Sudah tentu, kita tidak membeli tanamannya saja tanpa pot, pupuk dan serbuk. Alasannya sederhana, bisa jadi tanaman itu akan mati sebelum sampai rumah.

Sama halnya dengan ketaqwaan, maka taqwa tak cukup hanya dijalankan sebagai target individu diri kita masing-masing. Perlu adanya ketaqwaan keluarga, masyarakat/lingkungan, dan ketaqwaan negara sebagai institusi terbesar yang melingkupinya.

Sebab, aturan yang mengikat akan menjadikan orang-orang didalamnya tunduk dan patuh melaksanakan perintah yang sama. Contoh kecilnya, setahun sekali dalam bulan Ramadhan, kita saksikan nuansa islami di dunia maya dan nyata. Sungguh sangat menyenangkan apabila nuansa ini tetap terjaga meski nanti Ramadhan telah usai.

Mencapai ketaqwaan dapat disimpulkan adalah mencapai keridhoan Allah SWT dalam hidup ini. Maka sudah selayaknya ibadah puasa kita dibarengi dengan usaha meraih taqwa ini, yaitu kembali kepada hukum Allah, menerapkannya dalam seluruh kehidupan pribadi maupun sosial kita. Meninggalkan aturan kufur yang tidak Allah Ridhoi, mencapai negeri yang baldatun thayyibatun wa robbul Ghafur. Wallahu A’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *