Ramadhan, Meraih Takwa Sepenuhnya, Bukan Momentum Sesaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Annisa Afif Abidah

 

Bulan Ramadhan 2021, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadhan. KPI menegaskan bahwa selama bulan Ramadhan 2021 siaran televisi diperketat. Lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), hedonistik, mistik/horor/ supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya (Deskjabar.com, 24/03/2021).

Kemudian, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan (Tirto.id, 20/03/2021).

Penetapan surat edaran diputuskan dalam rapat pleno KPI Pusat tanggal 16 Maret 2021 setelah memperhatikan hasil keputusan rapat koordinasi dalam rangka menyambut Ramadhan 1442 H tanggal 10 Maret 2021 lalu yang dihadiri oleh KPI, Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, dan perwakilan lembaga penyiaran.

Dalam hal lembaga penyiaran tidak melaksanakan ketentuan tersebut, maka akan ditindaklanjuti sesuai kewenangan KPI sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketua KPI Pusat, Agung Suprio mengatakan, maksud dan tujuan dari edaran ini adalah untuk menghormati nilai-nilai agama berkaitan dengan pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan (PikiranRakyat.com)

 

Media dalam Arus Sekularisasi

Aturan yang dikeluarkan KPI diatas memang terkesan baik, yakni ingin menjaga umat islam agar fokus beribadah selama di bulan Ramadhan. Namun, sebenarnya aturan yang berlaku hanya saat bulan Ramadhan ini cukup membuktikan bahwa sekularisasi (pemisahan agama dari kehidupan) sedang berjalan di negeri ini.

Agama hanya dipahami sebagai agama ritual seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Negara akan mendukung penuh pelaksanaan ibadah yang bersifat ritual untuk semua agama tak terkecuali Islam. Namun diluar ibadah ritual negara akan memberlakukan hukum buatan manusia, bukan hukum dari pencipta manusia. Mirisnya lagi aturan ini hanya berlaku selama bulan Ramadhan saja. Semestinya berlaku sepanjang waktu, bukan hanya momen puasa. Ibarat Ramadhan tahan maksiat, bulan berikutnya lanjutkan!

Padahal kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan sama dengan kewajiban menjaga pandangan dari hal- hal yang mengundang syahwat baik dibulan ramadhan ataupun bulan lainnya. Pasalnya pornografi dan pornoaksi dalam sebuah film, iklan dan lain sebagainya yang dipertontonkan para pemilik media liberal jelas akan menjadi stimulus seks bagi orang yang sudah dewasa biologisnya. Termasuk para remaja, rangsangan ini akan terus terakumulasi dan sulit untuk dihilangkan jika berhubungan pemikiran yang ada dibenaknya. Sehingga muncul gelora syahwat yang menuntut pemenuhan. Bagi yang tidak mampu menahan gejolak syahwat ini mereka akan melampiaskannya secara liar, seperti para remaja yang melakukan pemerkosaan dan perzinahan yang marak saat ini.

Parahnya konten – konten merusak seperti ini dianggap membawa keuntungan bagi para pengusaha. Keberadaannya masuk dalam bidang industri seni. Atas nama tuntutan pasar mereka terus memproduksi film, sinetron dan lain- lain yang mengumbar aurat dan gerakan-gerakan erotis. Bagi para penganut kapitalisme mereka akan melakukan apapun selama menghasilkan uang. Demikianlah bahwa media dalam kapitalisme menderaskan arus liberalisasi dan sekularisasi.

Sistem yang Mendukung Takwa

Menyajikan tayangan bernilai agama di bulan Ramadan hanyalah salah satu pendukung mencapai tujuan puasa. Namun, kaum muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan tujuan takwa. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, makna firman Allah SWT ”la’allakum tattaqûn”, yakni agar dengan puasa itu Allah mempersiapkan kalian untuk meraih takwa, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, I/80).

Ketakwaan dibangun sejak seorang hamba berikrar tiada Illah kecuali Allah SWT. Tidak ada yang patut disembah dan ditaati selain Allah SWT. Makna Laa Ilaaha Illallah ini tereduksi tersebab pemikiran sekuler yang menjalar dalam kehidupan umat.

Dalam pandangan Islam media massa merupakan media komunikasi massal yang berfungsi menciptakan opini publik yang kemudian akan menjadi opini umum. Pembentukan opini umum adalah hal yang tidak bisa di sepelekan dalam sistem Islam. Di dalam negeri media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islam yang kokoh, diluar negri berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam keadaan perang ataupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam sekaligus membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan manusia.

Islam mengamanatkan media massa untuk menggambarkan ke tengah masyarakat kesesatan, kesalahan dan larangan mengambil ideologi dan pemikiran diluar Islam juga mengungkap cara-cara busuk untuk menjerumuskan manusia kepada kehinaan dan kehilangan fitrah kemanusiaan.

Dalam konteks pornografi, negara dalam Islam wajib melarang tayangan- tayangan yang mengandung konten – konten pornografi atau yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Memblokir semua situs yang berbau pornografi, melakukan sensor pada semua tayangan yang akan ditampilkan di media televisi maupun media sosial. Melarang majalah, koran, siaran televisi dan situs – situs milik asing untuk beredar bebas. Semua itu tidak hanya dilakukan pada bulan – bulan tertentu semisal Ramadhan akan tetapi sepanjang waktu.

Untuk itu, kita sebagai masyarakat harus terus mengingatkan penguasa bahwa keberadaan media harus dimaksimalkan untuk mencerdaskan masyarakat. Kita harus melakukan aktivitas dakwah kepada masyarakat dan saling mengingatkan antar sesama bahwa perubahan perlu dilakukan demi menyelamatkan umat manusia secara keseluruhan. Dan harus menuntut penerapan Islam secara kafah yang telah terbukti bertahan belasan abad dalam menjaga masyarakatnya sebagai masyarakat Islam yang mampu membawa perubahan cemerlang karena Islam memiliki aturan yang jelas, tegas dan aplikatif.

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *