Raga Tanpa Jiwa

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Shy_Shine

 

Setiap waktu perkembangan kasus silih berganti menjadi berkembang, sehingga sebuah masalah yang baru dan masalah yang tak pernah berujung pada sebuah solusi. Pelaku semakin lama bertambah, seperti kasus LGBT menjadi LGBTIQ.

Hari Kamis (11/03), Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang menyatakan Uni Eropa sebagai “zona kebebasan LGBTIQ.” Dengan tujuan untuk memastikan perlindungan bagi komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan queer di seluruh blok, sekaligus juga untuk menentang negara-negara anggota dengan kebijakan anti-LGBT+. (Dilansir dari detikNews.com. Padq hari Jumat, 12/03/2021).

Kasus LGBT di Eropa sudah berkembang pesat menjadi sebuah nama yang baru. Tak tanggung-tanggung korban pelaku menjadi bertambah. Dan hal ini akan menularkan dampak dari LGBT di berbagai Negara. Bahkan di Indonesia sudah banyak kasus tentang LGBT ini.

Di Indonesia tidak hanya LGBT yang berkembang pesat, namun banyak sekali kasus yang belum terselesaikan dan menjadi sebuah masalah yang bermutasi layaknya sebuah virus covid-19 bermutasi menjadi sebuah virus baru. Seperti contoh: korupsi yang belum pernah terselesaikan dari zaman penjajah hingga zaman modern.

Perkembangan kasus korupsi tak pernah berhenti. diberitakan pada hari Jum’at, Adanya dugaan kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana Investasi di di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI), Sehingga Kejaksaan Agung (Kejagung) menyita 17 kapal. Sebanyak 13 kapal milik PT Jelajah Bahari Utama merupakan aset milik atau terkait dengan tersangka Heru Hidayat selaku Komisaris PT Trada Alam Minera.

Akibat dari kasus ini disinyalir telah merugikan keuangan negara sebesar Rp23,73 triliun, jauh lebih besar dari kasus korupsi Jiwasraya yang berkisar Rp16,8 triliun. (Dilansir dari CNN Indonesia.com. Pada hari Jum’at 12/03/2021).

Kasus pencurian tidak hanya dikalangan pejabat saja yang melakukan tindakan korupsi, namun menular kepada kalangan masyarakat bawah yang selalu diresahkan oleh pencurian dan penipuan. Pencurian, penipuan dan virus yang belum selesai membuat penderitaan rakyat semakin menderita. Seperti halnya berita berikut ini:

Di masa pandemi Covid-19. Kasus Pencurian dan penipuan semakin meresahkan masyarakat. Alih-alih membantu perekonomian dalam keluarga, namun membuat buntung dalam keluarga. Banyak dari warga Indonesia yang sangat membutuhkan uang, sehingga di masa sulit sekarang ini. Pelaku memanfaatkan keadaan dengan iming-iming memberikan hadiah.

Tidak hanya kasus LGBT, korupsi, pencurian, penipuan yang belum pernah terselesaikan hingga saat ini. Bertambahnya kasus penyimpangan seksual yang ada di Indonesia yang setiap hari kasus tersebut semakin berkembang dan semakin banyak pelaku ada dimana-mana, sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat dan ada pada korban. Bahkan tak sedikitpun kasus ini yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.

Seperti diberitakan pada kasus yang ada di di kawasan Koja, Jakarta Utara. Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara AKP Andry Suharto mengungkap fakta berkait kasus pencabulan yang dilakukan seorang ayah terhadap anak kandungnya sendiri dan telah dilakukan selama 1 tahun di rumah kontrakannya.

Kasus yang telah dipaparkan diatas merupakan salah satu bentuk kecil yang semakin lama semakin berkembang dan tidak ada solusi apapun dalam menyelesaikan kasus tersebut. Hal inilah menjadi bukti bahwa adanya kegagalan negara dengan secara tak sadar menerapkan sistem kapitalisme dan sekulerisme.

Sistem kapitalisme dengan asas sekulerisme layaknya raga tanpa jiwa yang tidak pernah melekat kepada sang pencipta. Jiwa ini lah yang akan senantiasa berdekat kepada sang pencipta nya kelak di Yaumil Akhir. Tidak malah mendekat namun menjauh.

Seperti kasus dalam Palestina, Syria, Rohingya, Uighur yang belum terselesaikan hingga sekarang. Merupakan salah satu kegagalan dari sistem yang masih saja diambil. Artinya, hanya sebagian saudara muslim yang sadar bahwa saudara lainnya sedang sakit. Dan di sistem ini hanya sebagian saja yang turut membantu dalam perekonomian dengan menyedekahkan sebagian hartanya. Dan hanya sebagian saja turut membantu di setiap do’a yang dipanjatkan kepada sang pencipta.

Layaknya sistem pada sebuah mesin yang rusak, apabila tidak segera diganti maka akan bertambah parah dan kemungkinan besar tak dapat digunakan. Maka perlu sebuah sistem baru yang menyejukkan jiwa, menentramkan hati, dan menjadi sebuah lembaran baru dalam kehidupan. tak hanya berdampak pada kehidupan, namun seluruh alam semesta turut merasakan.

Sistem baru adalah sistem Islam mempunyai solusi di tengah masalah yang tak berujung ini. Yaitu :

Yang pertama, Islam mempunyai maqashidu syariah yang dimana tujuan dari penerapan syariat adalah memelihara Agama, Akal, Jiwa, dan Harta. Sehingga segala aspek kehidupan layaknya raga ada Ruh yang bersama berkolaborasi mendekatkam diri kepada Allah SWT.

Yang Kedua, Islam mempunyai sistem Ekonomi yang berlandaskan kepada Syari’at Islam. Sehingga kesejahteraan masyarakat tercukupi dan didalamnya. Tidak ada hedonisme atau egosentris. Karena sejarah membuktikan di masa kekhilafahan yang dipimpin oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz tidak ada sedikitpun orang yang menerima zakat sangking sejahtera nya dimasa itu.

Rasulullah Saw lalu bersabda : “… dan sepertiga itu pun sudah banyak. Sesungguhnya, jika engkau tinggalkan pewaris-pewarismu dalam keadaan mampu, lebih baik daripada mereka dalam keadaan melarat, menadahkan telapak tangan kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari Muslim).

Yang ketiga, hanya dimasa khilafah-lah seseorang pandai dalam banyak bidang, artinya sistem pendidikan dimasa khilafah tidak menyulitkan yang terfokus pada agama dan dapat menyeimbangkan dunia. Sehingga mencetak generasi emas dengan peradaban yang gemilang.

Allah memerintahkan kepada kaum Muslim supaya meninggalkan keturunan yang kuat dan tidak lemah sepert halnya dalam QS. An Nisa’ (4) : 9, yang Artinya:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan,” (HR. Muslim).

Yang keempat, hanya dimasa khilafah lah perempuan mencetak generasi emas dan melindungi hak perempuan tanpa embel-embel feminisme atau kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Sehingga perempuan dimasa khilafah berfokus pada pertumbuhan anak.

Yang kelima, Allah memberikan keberkahan didalam negara khilafah, seperti dalam firman Allah: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Imam Nawawi menyebut bahwa yang dimaksud dengan berkah adalah tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan kebaikan yang berkesinambungan.

Keberkahan yang ada di negara khilafah dapat dirasakan hingga sekarang, seperti contohnya perkembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan cendekiawan muslim.

Adanya kausalitas antara perintah Allah dengan penerapan yang ada di Daulah Islamiyyah yang membuat peradaban semakin gemilang. Dan perintah Allah dilakukan oleh banyak orang sehingga keberkahan dapat dirasakan seluruh makhluk hidup dalam kehidupan, Alam Semesta. Raga dengan Jiwa pun menyatu menjadi satu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *