Predikat Kota Pelajar Terbaik, Mampukah Lahirkan Generasi Terbaik?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Predikat Kota Pelajar Terbaik, Mampukah Lahirkan Generasi Terbaik?

Oleh Tita Rahayu Sulaeman

Kota Bandung masuk sebagai daftar kota pelajar terbaik se-Asia Tenggara. Hal ini diambil dari peringkat Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings (WUR) yang membuat daftar kota terbaik bagi pelajar di Indonesia pada 2023.

Selain Kota Bandung, Kota lainnya yang berhasil meraih kota terbaik adalah kota Jakarta dan Surabaya sesuai penilaian yang dilakukan QS Best Student Cities 2023. Adapun indikator penilaian yang digunakan dalam pemeringkatan, yaitu: university rankings, student mix, desirability, employer activity, affordability, dan student voice. QS WUR menyebutkan ada sebanyak 164 kota memenuhi syarat untuk dipertimbangkan dalam penilaian sebagai destinasi kota terbaik bagi mahasiswa internasional untuk melanjutkan pendidikan. (bandung.go.id 3/12/2022).

Predikat kota pelajar terbaik yang diraih Kota Bandung rasanya justru kontradiktif dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Masih hangat dalam perbincangan, beberapa waktu lalu terjadi kasus bullying di salah satu SMP Plus di Ujung Berung Bandung. Kasus bullying ini terekspos ke sosial media sehingga menyita banyak perhatian dari masyarakat. Selain kasus bullying, kasus ratusan mahasiswa yang terinveksi HIV/AIDS di Bandung juga cukup memprihatinkan. Dilaporkan sebanyak 401 mahasiswa Bandung terinfeksi HIV/AIDS, sejak 1991-2021 (bbc.com 27/11/2022). Seperti telah diketahui, penyebaran virus HIV/AIDS diantaranya adalah melalui seks bebas, perilaku seks sesama jenis, hingga penggunaan obat-obatan terlarang. Perilaku bullying maupun seks bebas bertentangan dengan nilai agama. Ketika masih ada pelajar belum mampu mencerminkan perilaku seseorang yang terdidik, apakah layak disematkan sebagai kota pelajar terbaik?

Selain kasus bullying dan pergaulan bebas, angka putus sekolah juga masih perlu mendapatkan perhatian. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), pada tahun ajaran 2020/2021 ada sekitar 83,7 ribu anak putus sekolah di seluruh Indonesia. Jawa Barat menjadi kota tertinggi untuk angka putus sekolah di seluruh Indonesia, yaitu 10.884 orang. Secara nasional, angka putus tertinggi berdasarkan jenjang pendidikan adalah sekolah dasar sebanyak 44.516 orang (databoks.co.id 7/9/2022). Lalu apa dampaknya bagi masyarakat Ketika predikat kota pelajar diraih namun masih ditemukan anak yang putus sekolah ?

Pendidikan dalam Kapitalisme
Pendidikan dalam sistem kapitalisme layaknya komoditas jual beli. Semakin lengkap fasilitas yang dimiliki, semakin tinggi pamor di masyarakat, maka nilai jual Lembaga pendidikan semakin tinggi. Siapa saja yang mampu mengeluarkan sejumlah uang yang telah disepakati, maka pendidikan dengan fasilitas terbaik bisa diperoleh. Akses pendidikan ini tidak akan didapatkan oleh masyarakat dari kalangan bawah. Masyarakat dari kelas bawah hanya mendapatkan pendidikan yang diselenggarakan negara dengan fasilitas yang seadanya.

Predikat kota pelajar terbaik memang diciptakan untuk menarik mahasiswa internasional ke negara bersangkutan. Kriteria dibuat oleh penyelenggara, namun permasalahan pendidikan di lapangan diabaikan. Sistem pendidikan saat ini perlu dibenahi dari berbagai aspeknya. Kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, kesejahteraan para pengajar, hingga akses pendidikan yang tidak merata.

Negara maupun pemerintah kota semestinya fokus pada perbaikan sistem pendidikan, agar mampu menyelenggarakan pendidikan terbaik bagi rakyatnya. Tidak terbuai dengan ‘sanjungan’ pihak luar yang tidak memahami permasalahan yang terjadi sesungguhnya.

Dikotomi Pendidikan

Dalam sistem pendidikan telah terjadi dikotomi yaitu memisahkan ilmu dengan agama. Pemisahan ilmu dan agama dalam sistem pendidikan di Indonesia merupakan warisan sistem pendidikan kolonial. Sebelum kedatangan bangsa kolonial, beberapa pesantren di Indonesia yang telah berdiri untuk mentransfer ilmu-ilmu Islam ke masyarakat. Setelah kedatangan bangsa kolonial, berdiri sekolah yang diperuntukan bagi kaum pribumi. Itu pun masih terbatas hanya bagi kalangan saudagar dan bangsawan.

Dari sinilah bermula dikotomi antara ilmu dan agama. Dilihat dari sejarah peradaban Islam, dikotomi telah terjadi sejak masa kemunduran Islam, di abad ke tiga belas sampai lima belas masehi. Saat itu, Al-Qur’an dan Hadits sudah mulai ditinggalkan sebagai sumber pemikiran dan sikap hidup. Pintu ijtihad dianggap tertutup, pandangan sempit, ilmu dan agama terpisah (ahdgozali.com 02/2019).

Dikotomi pendidikan berlangsung hingga saat ini. Ilmu yang dipelajari di sekolah-sekolah baik ilmu tentang alam maupun kehidupan tidak dikaitkan dengan pemahaman agama. Pada akhirnya dikotomi pendidikan ini membawa peserta didik menjadi sekuler yaitu memisahkan agama dalam kehidupannya. Maka tak heran bila ditemukan peserta didik yang berperilaku tidak mencerminkan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dikotomi pendidikan dalam sistem kapitalisme saat ini juga telah menciptakan tolok ukur tersendiri dalam mendefinisikan pendidikan terbaik, yaitu tanpa menyertakan ilmu agama di dalamnya.

Kurikulum dibuat untuk menghasilkan manusia-manusia yang cerdas, mampu memberikan solusi berbagai permasalahannya dan menemukan hal-hal baru yang mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Namun tanpa diiringi dengan akidah yang kokoh dan pemahaman setiap hukum syara.
Oleh karena itu, pendidikan terbaik versi kapitalisme tidak akan pernah melahirkan generasi terbaik.

Generasi terbaik bukanlah mereka yang mampu menaklukan dunia dengan ilmunya, namun generasi terbaik adalah mereka yang mampu taat, tunduk dan patuh pada sang Pencipta dan segala aturan-Nya dengan segala ilmu yang dimilikinya.

Pendidikan Islam Lahirkan Generasi Terbaik

Dalam muqadimah Dustur kitab Nidzomul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) Syaikh Taqiyudin An Nabhani menggambarkan bagaimana sistem pendidikan dalam Islam. Sistem pendidikan dalam Islam menjadikan akidah Islam sebagai landasannya.

Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam serta membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Tsaqofah Islam diajarkan di setiap tingkatan pendidikan. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang tertentu.
Negara memiliki peranan penting dalam melahirkan generasi terbaik. Diantaranya adalah menentukan kurikulum dan metode pembelajaran untuk meraih tujuan pendidikan.

Negara menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk perpustakaan, laboratorium. Negara juga memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai cabang pengetahuan seperti fiqih, ushul fiqih, hadist, tafsir, termasuk dalam bidang ilmu murni seperti kedokteran, Teknik, kimia dan penemuan-penemuan baru (discovery and invention) sehingga lahir di tengah-tengah umat sekelompok besar mujtahid dan para penemu.
Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah hak bagi setiap individu rakyat baik laki-laki maupun perempuan yang wajib dipenuhi oleh negara.

Negara wajib menyediakannya secara Cuma-Cuma dengan akses dibuka seluas-luasnya dengan fasilitas terbaik. Rasulullah SAW bersabda,

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim).

Penyelenggaraan pendidikan Islam ini pernah terjadi pada masa kekhalifahan Islam. Ketika Akidah dijadikan landasan dalam pendidikan, hingga mampu melahirkan cendikiawan muslim dan ilmuwan yang memahami Islam sebagai pandangan hidupnya. Diantaranya Ibnu Khaldun dalam ilmu sosiologi, Al-Khawarizmi dalam matematika dan Az zahrawi dalam ilmu kedokteran.

Sistem pendidikan Islam akan mampu terlaksana dalam negara yang menjadikan Islam sebagai landasannya. Untuk menyelenggarakan sistem pendidikan terbaik, sistem ekonomi Islam juga perlu diterapkan untuk menopang segala pembiayaan dalam sistem pendidikan. Demikian hal-nya dengan sistem pergaulan dalam Islam yang perlu diterapkan untuk menjaga setiap individu dalam ketakwaannya, tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Kepribadian Islam yang telah terbentuk melalui sistem pendidikan tetap terjaga dengan penerapan sistem pergaulan Islam. Islam sebagai sebuah sistem kehidupan harus diterapkan secara menyeluruh (kaffah) dalam segala aspek kehidupan sehingga mampu mencetak generasi terbaik.

Wallahu’alam bishshawab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *