Perpanjangan Kontrak Freeport Memperpanjang Penjajahan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Perpanjangan Kontrak Freeport Memperpanjang Penjajahan

Oleh Ermawati

Kontributor Suara Inqilabi

 

Dilansir dari cnbcindonesia.com . (17/11/2023) menjelaskan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara perihal kepastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia (PTFI) setelah tahun 2041 mendatang. Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan bahwa setelah Kunjungan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat (AS), salah satu hal yang dibahas adalah perihal perpanjangan kontrak pertambangan Freeport Indonesia di Papua yang akan berakhir tahun 2041.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan Freeport dapat mengantongi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) hingga 2061, setelah berakhirnya izin operasi pada 2041 mendatang. “Karena Freeport sudah sekian puluh tahun. Dalam persyaratannya ada cadangan, masa mau kita putusin dan cari lagi,” kata Arifin saat ditemui di Kementerian ESDM pada Jumat (17/11). (katadata.co.ic, 17/11/2023)

Perpanjangan kontrak dengan PT Freeport sejatinya memperpanjang penjajahan. Padahal tambang PT freeport adalah sala satu wilayah yang cadangan tembaga dan emas nya terbesar di dunia. Seharusnya setelah sekian lama dikelola asing, negara mengupayakan Nasionalis, mengelola secara mandiri tambang tersebut dengan mengusahakan adanya alih teknologi pada anak bangsa. Sehingga alam di negeri sendiri bisa optimal di kelola oleh negara dan hasilnya akan lebih banyak dan bisa untuk mensejahterakan keseluruhan rakyat Indonesia terutama. Sebab sebesar apapun kontrak yang diberikan yang akan bisa menghasilkan pemasukan bagi negara, tetap saja jika di kelola oleh negara sendiri maka akan lebih besar dari pada di kontrakkan ke asing, bahkan bisa menghasilkan berkali-kali lipat dari sebelumnya. Akan mendapatkan seluruh pendapatan opersional yang akan masuk ke kas negara.

Banyak para pengamat yang tidak setuju perpanjangan kontrak yang diklaim akan menguntungkan negara, jutru sebaliknya akan merugikan negara, namun dibalik perpanjangan kontrak ini banyak para pemburu atau oknum-oknum yang bernegosiasi atas kontrak tersebut, tergiur dengan saham yang nyatanya saham tersebut tetap mengalir keuntungannya pada AS.

Sejatinya perpanjang kontrak hanya akan merugikan negara bahkan penduduk sekitar freeport juga menanggung rugi dari adanya pengerukan tambang emas di Papua, dan ini yang tidak diperhatikan oleh negara saat ini, kerusakan alam disana dirasakan oleh warga sekitar yang mengakibatkan banyak bencana. Oleh sebab itu, jika negara tetap memberi perpanjangan kontrak pada PT freeport artinya memperpanjang masa penjajahan. Rakyat makin menderita serta lingkungan semakin rusak, inilah hasil dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme.

Padahal jika kita kembali pada hukum Islam pada penerapan sistem ekonomi Islam maka kekayaan milik umum tidak akan dirampas oleh asing. Islam menetapkan pengelolaan kepemilikan umum termasuk SDA apalagi emas, ada pada negara dan menjadikan keuntungannya untuk mensejahterakan rakyat.

“Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api.”

(HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

Islam memiliki sistem ekonomi Islam yang menjadikan sistem moneter berbasis emas, yang akan menghantarkan Negara yang menguasai emas menjadi negara adidaya. Saatnya umat menyeru pada perubahan sistem yang shohih yaitu sistem Islam, didalamnya tentu akan diterapkan sistem ekonomi Islam yang mengharamkan kepemilikan umum menjadi kepemilikan individu.

Polemik kepemilikan tambang ini pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW menjadi pemimpin di Madinah, namun segera di selesaikan secara cepat dan tuntas. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul saw. Agar dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul saw. lalu meluluskan permintaan itu. tapi, Rasul segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi).

Tambang garam kandungannya sangat banyak seperti air yang terus mengalir namun ketika Rasul mengetahui itu maka beliau mencabut kembali sebab itu masuk pada kepemilikan umum yang tidak boleh diserahkan pada individu bahkan asing sekalipun.

Wallahu a’lam bishshawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *