Peringatan Hari Ibu: Seremonial, Realita dan Jawaban Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Peringatan Hari Ibu: Seremonial, Realita dan Jawaban Islam

Nahdoh Fikriyyaah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

Bulan Desember adalah waktu yang sangat spesial bagi kaum perempuan, terlebih barisan ibu (emak-emak). Karena di bulan ini, terdapat satu moment yang dijadikan untuk mengingat perjuangan kaum perempuan dari segala aspek kehidupan. Tentunya dalam status gendernya sebagai seorang perempuan (ibu).

Hari Ibu. Begitu namanya. Peringatan ini telah ditetapkan setiap tanggal 22 Desember di Indonesia. Biasanya, beberapa kalangan baik individu, keluarga, atau komunitas tertentu membuat acara semisal seremonial. Setidaknya, di akun-akun sosmed akan ramai beranda ucapan “ Selamat Hari Ibu”.

Meskipun di balik semua itu, realitas menunjukkan hal berbeda. Misalnya ucapan itu hanya sebatas status yang sekedar meramaikan. Padahal faktanya tidak pernah diucapkan langsung kepada ibunya. Atau sebenarnya sering cekcok dengan ibunya di rumah. atau bahkan si ibu termasuk korban yang sering mendapatkan bully dari suami dan anggota keluarga lainnya. Tiba-tiba hari ibu, mendadak so sweet terhadap ibu. Tidak berlebihan jika disebut ebatas seremonial belaka.

Tanpa menutupi realita, ada juga yang biasanya memberikan bentuk surprising dan disiapkan untuk sosok ibu tercinta. Mulai dari buket bunga yang cantik, bermacam-macam hadiah menarik, atau mungkin mengajak sang ibunda untuk healing sejenak ke tempat yang indah. Cukuplah jika sekedar membuatnya rehat dari penat yang ia arasakan setiap saat.

Setidaknya memang, peringatan hari ibu sedikit memberikan alarm bagi anak-anak untuk sebentar merenungkan kembali jasa dan pengorbanan ibunda sepanjang hayatnya. Ibu yang tidak kenal lelah, tanpa mengeluh, dan selalu berusaha lillah. Dibalik senyumnya terkadang menyimpan isakan tangis hati. Dibalik kelembutannya, ia selalu mencoba untuk tegar dan kuat. Bahkan dibalik tangisnya, ia selalu mencoba menyembunyikan kekecewaan dan amarah.

Tetapi, dibalik semua pengorbanan kaum perempuan terlebih barisan ibu (emak-emak), adakah yang benar-benar mampu memberikannya penghargaan? Cukupkah hanya dengan seremonial peringatah hari ibu setiap tahun, mampu menyembuhkan luka-luka, kecewa, bahkan harapan dan impian mereka sebagai seorang Muslimah yang seharusnya dimuliakan, dihargai, dan dijaga harkat, martabat, dan kehormatannya setiap saat?

Sejarah Global Hari Ibu dan Realitas Memilukan

Jika merujuk kepada situs Wikipedia, hari ibu disebutkan sebagai hari peringatan atau perayaan terhadap peran ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia, hari ibu dirayakan setiap tanggal 22 Desember, dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan sekitar 80 lebih negara, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day dirayakan pada Ahad pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari ibu diperingati bertepatan dengan hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap bulan 8 Maret.

Dalam sejarah asal mulanya, hari ibu di Amerika Serikat dirayakan pertama kali pada tahun 1908. Hari ibu diajukan untuk pertama kali oleh Anna Jarvis yang mengadakan peringatan atas kematian ibunya di Grafton, West Virginia.

Lain halnya hari ibu di Indonesia. Mother’s day dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember sejak diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Latar belakang penetapan hari ibu di Indonesia kelihatannya sedikit berbeda dari Amerika. Sebab di Indonesia sendiri, perayaan hari ibu dikaitkan dengan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Tidak semata-mata karena sosok ibu itu sendiri sebagai ummu warabbatul bait atau madrastul ula.

Hari ibu ditetapkan tepatnya saat hari ulang tahun Pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipura, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Peringatan hari ibu (mother’s day) apakah lagi namanya hari perempuan sedunia (international women’s day) seharusnya menjadi hari renungan bersama bagi kaum perempuan khususnya Muslimah, untuk memikirkan bersama cara berlepas diri dari jeratan dan ranjau-ranjau kapitalisme global yang mengorbankan kaum perempuan dengan mengebiri fitrahnya. Tentu saja dengan seremonial belaka tidak akan mampu membangkitkan kaum ibu dan perempuan dari keterpurukan yang sudah puluhan tahun mengakar akibat kapitalisme (imprealisme global).

Realitas yang memilukan menimpa kaum ibu dan perempuan selama decade terakhir tidak bisa dianggap sepele dan dibiarkan. Karena jika terus-menerus terjadi, negeri ini akan kehilangan tonggak yang menegakkan negara ini agar kokoh berdiri. Bukankah perempuan adalah tiang negara? Jika tiangnya rapuh dan remuk, bagaimana suatu negara bisa tegak kokoh berdiri?

Kapitalisme telah menggerus dan menghapus fitrah kaum perempuan akibat kemiskinan yang tersistem, pergaulan bebas yang kian bablas, minimnya peran suami dalam tanggung jawab di keluarga akibat sempitnya lapangan kerja yang tersedia. Dan pilunya kehidupan kaum ibu atau perempuan semakin diperparah oleh absennya peran negara untuk sungguh-sungguh secara optimal dan maksimal dalam menyelesaikan kasus kerusakan dikalangan kaum perempuan dari akar hingga tuntas.

Sudah begitu banyak kasus yang menimpa kaum ibu di negeri ini bahkan seluruh dunia. Bak bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Jika tidak segera dihentikan, maka akan menjadi ledakan dahsyat yang kemungkinan sudah terlambat untuk diselesaikan. Seperti data dari KemenPPPA, hingga Oktober 2022 sudah ada 18.261 kasus KDRT di seluruh Indonesia, sebanyak 79,5% atau 16.745 korban adalah perempuan (kaum ibu).

Kemudian, menurut situs Databoks, Komnas Perempuan mencatat bahwa laporan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) terhadap perempuan meningkat sekitar 50 persen dari laporan tahun 2020 yang terdapat 226.062 kasus dan sedangkan sepanjang tahun 2021 tercatat ada 338.496 kasus. Komnas Perempuan mencatat aduan kekerasan seksual sebanyak 4.500 dari bulan Januari hingga Oktober 2021.

Berdasarkan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sangat banyak, sehingga perlu ditindaklanjuti agar jumlah kasus kekerasan seksual menurun hingga nihil.

Belum lagi kisah menyayat hati tentang kasus perdagangan orang masih marak terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Umumnya, mereka dijual dan dipaksa menjadi pekerja seks atau buruh pabrik maupun perkebunan. Kesemuanya menimpa dan mendera kaum ibu (perempuan)

Islam Menjawab Fitrah Kaum Ibu (Perempuan)

Fakta-fakta atau realitas yang menjadikan kehidupan kaum ibu (perempuan) kian hari semakin suram disebabkan oleh pandangan hidup yang salah, yaitu sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Kaum ibu (perempuan) dengan ideologi sekuler ini dijauhkan dari ajaran agamanya hingga membuat mereka lupa sebagai Muslimah, harus patuh dan taat kepada Rabb Penciptanya.

Sekulerisme yang diadopsi oleh dunia hatta negeri Muslim hampir memiliki problem yang sama dengan kaum perempuan. Seperti Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Turki, dan sebagainya. Bukan hanya untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan bijaksana sebagai seorang ibu (perempuan)di mata hukum sekuler, sekedar untuk menunjukkann identitas keislaman pun, kaum perempuan ditekan. Sungguh, betapa tidak bahagianya kaum ibu hari ini.

Tidak cukup dengan sekulerisme yang dijadikan sebagai pandangan hidup. Dunia modern yang dipimpin oleh Barat sebagai adidaya juga membawa mimpi-mimpi indah namun tanpa realisasi yang nyata dengan kapitalisme.

Tekanan hidup yang berat melanda kaum ibu (perempuan) di setiap wilayah khsususnya negeri Muslim teristimewa Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyaknya adalah Muslim. Kemiskinan, keterbelakangan akibat sulitnya menimba ilmu dan mendapat Pendidikan, serta kesehatan yang mahal, membuat kaum ibu (perempuan) harus berpikir keras untuk terlibat banting tulang mencari nafkah.

Kejamnya kapitalisme mengebiri fitrah kaum ibu (perempuan), hingga menjadikan kaum ibu (perempuan) sebagai tumbal peradabannya. Dengan mengkampanyekan jargon-jargon kesetaraan gender (gender equality) dan program-program pemberdayaan perempuan. Seolah-olah, kapitalisme atau Barat datang bak pahlawan untuk menjawab kesengsaraan kaum perempuan. Padahal, yang membuat kaum ibu (perempuan) menderita adalah kapitalisme itu sendiri yang dibawa oleh sekulerisme.

Kapitalisme merampas SDA negeri-negeri Muslim hingga menyebabkan problem-problem sosial (kemiskinan, pengangguran, kejatahan, dsb) lalu mengesploitasi kaum ibu (perempuan) dengan mengajak untuk membangun ekonomi global. Mereka mengatakan bahwa perempuan adalah penyelamat ekonomi dunia hinga kaum ibu (perempuan) disihir dengan kata-kata manis agar terjun ke ranah publik dengan bebas sebagai hak-hak kaum ibu (perempuan).

Jadilah kaum ibu (perempuan) ke sektor publik tidak ada bedanya dengan kaum lelaki. Bahkan kesempatan kerja bagi kaum lelaki saat ini lebih sedikit dibandingkan kaum perempuan. Sebab kapitslisme paham, pekerja perempuan lebih mudah diatur dan sedikit tuntutannya. Sehingga keuntungan berlipat ganda bisa mereka dapatkan.

Ironisnya, meskipun kebebasan terjun ke ranah publik untuk bekerja, bahkan dijual atau dijajakan dalam bisnis esek-esek sekalipun, mereka diframing sebagai pahlawan keluarga. Rela meninggalkan keluarga, suami, dan anak, demi menghidupi mereka dengan cara apapun. Hal ini karena dunia tidak akan menyalahkannya. Tapi sebaliknya, dunia justru menghujatnya ketika ia hanya menjadi seorang ibu, isteri, perempuan yang taat dalam koridor agamanya, yaitu menjaga kehormatannya hanya dengan di rumah dan melakukan kewajibannya.

Padahal, ide-ide liberal yang hanya menguntungkan kapitalisme global adalah pisau yang menikam kaum ibu (perempuan). Bukan kebahgian yang diperoleh, justru semkain sengsara dan menderita. Apalagi, negara terkesan diam dan setengah hati memperhatikan nasib kaum ibu (perempuan). Lalu, bagaimana solusinya?

Bicara solusi, tentu juga bicara sudut pandang penyelesaian. Jika akar masalahnya adalah oandangan hidup yang bukan dari syariat Allah hingga nyata kerusakannya, maka soluisnya juga adalah pandangan hidup, yaitu Islam. Tandingannya apple to apple. Sebab keruskaan yang menimpa kaum ibu (perempuan) adalah berasal dari akarnya, aqidah (pandangan hidup) tadi.

Islam sebagai rahmatan lil’alamin memiliki solusi tuntas dalam menyelesaikan problematika manusia. Bukan hanya umat Islam. Apalagi bagi kaum Muslim, tentunya tidak boleh ada keraguan sedikitpun terkait hal itu. Adapun solusi/jawaban Islam atas nasib kaum perempuan yang dilanda dilema kapitalisme hari ini sebagai berikut.

Pertama, kaum ibu (perempuan) harus segera menyadari bahwa terjun ke publik dengan dalih kesetaraan gender (gender equality) adalah salah dan harus segera ditinggalkan. Berarti tidak kerja sama sekali kah? Bukan begitu maksudnya. Islam membolehkan kaum ibu (perempuan) untuk bekerja di luar rumah. tetapi harus tetap berada dalam koridor syariat yang memelihara raganya, jiwanya, dan kehormatannya.

Kedua, seorang ibu (perempuan) harus memperhatikan jenis pekerjaan, waktu kerja, dan kebijakan-kebijakan di tempat kerja. Misalnya, jenis pekerjaan kudu halal, tidak menjual atau bisnis barang-barang haram dan perbuatan yang dilarang. Waktu kerja tidak menyita perkara yang wajib sebagai isteri dan ibu bagi keluarganya. Dan kebijakan di lokasi kerja tidak melarang menutup aurat dengan sempurna juga bukan untuk melayani tamu-tamu dengan berkhalwat.

Ketiga, peran negara tidak boleh mandul dalam menjaga dan memelihar kehormatan kaum perempuan (ibu) saat bekerja di luar rumah. negara wajib menjamin keselamatan, Pendidikan yang layak dan kesehatan kaum ibu (perempuan). Tetapi yang paling utama adalah menyediakan lapangan kerja bagi kaum lelaki. Karena Allah swt memberikan beban nafkah itu diwajjibkan bagi laki-laki bukan ibu (perempuan). Dan Allah swt jelas lebih tahu pembebebanan nafkah itu kepada lelaki. Allah menciptakan kaum ibu (perempuan) sebagai tulang rusuk bukan tulang punggung. Jadi, jangan dibalik-balik.

Keempat, kaum ibu (perempuan) harus kembali kepada ajaran Islam yang benar dan kafah. Menuntut ilmu untuk menjadi seorang ibu yang mampu melahirkan generasi taqwa, kuat akal, dan taat jiwanya. Dalam Islam, perempuan (ibu) adalah madrasah pertama dan pengatur rumah tangganya. Inilah ajaran yang tidak wajar menurtu pandangan Barat kapitalisme sehingga meracuni pemikiran Muslimah untuk menerima ide Barat dan rusak seperti mereka.

Begitulah Islam memberikan solusi yang cemerlang dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan kehidupan manusia. Bukan sekedar seremonial belaka dan menutup mata dari realita. Finally, if you want to give the best gift for the best woman in this world, your mom of course, then give her the key to Jannah with Islam kafah.

Allahu akbar.

Wallahu a’alam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *