Perempuan Berdaya Secara Ekonomi, Membawa pada Kesejahteraan atau Kesengsaraan?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Perempuan Berdaya Secara Ekonomi, Membawa pada Kesejahteraan atau Kesengsaraan?

Sri Nurhayati, S.Pd.I

(Praktisi Pendidikan)

 

 

Pembahasan tentang perempuan memang tak pernah kehabisan topiknya. Peran perempuan yang begitu strategis dalam kancah peradaban dunia ini. Sehingga, tak heran jika potensi mereka terus dikuras, seperti dalam bidang ekonomi. Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP) contohnya, program ini terus digaungkan. Kecakapan perempuan dalam mengelola keuangan dinilai berpotensi untuk membantu menurunkan angka kemiskinan keluarga maupun negara.

 

Perempuan yang memiliki penghasilan mandiri akan meningkatkan posisi tawar dalam keluarga dan akan mampu menyelesaikan masalah rumah tangga menjadi jargon yang terus digaungkan. Bahkan, dalam setiap acara kerjasama antar negara, pemerintah terus mendorong perlibatan perempuan dalam bidang ekonomi selalu menjadi pembahasan.

 

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo saat menyampaikan pengantar di hadapan wakil sekira 40 negara partisipan dalam The 2nd UN Tourism Regional Conference on The Empowerment of Women in Tourism in Asia and The Pacific, menyatakan pentingnya peran perempuan dalam bisnis pariwisata. (suara.com)

 

Keterlibatan perempuan dalam dunia pariwisata dianggap sebagai upaya dalam mewujudkan kesetaraan gender. Perempuan akan dihargai, jika memiliki penghasilan alias uang sendiri. Oleh karena itu, perempuan terus didorong untuk mau terlibat dalam setiap program yang ada, yang intinya menuntut untuk perempuan bekerja.

 

Banyak program internasional pemberdayaan ekonomi perempuan, seperti Platform Aksi Beijing, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Pempuan dan Konvensi Organisasi Buruh Internasional tentang Kesetaraan Gender. Program-program ini dianggap sebagai bukti bahwa kesetaraan gender ini memberikan kontribusi terhadap kemajuan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan.

 

Ilusi Kesejahteraan dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

 

Perempuan sebagai tulang rusuk yang wajib dinafkahi, kini telah bergeser menjadi tulang punggung dalam menafkahi keluarga. Kesetaraan gender yang terus dilontarkan menjadikan perempuan telah kehilangan fitrahnya. Produktivitas perempuan hanya diukur secara materi saja. Makin besar penghasilan mereka, maka mereka dianggap mulia. Bahkan, mereka yang menjadi ibu rumah tangga dianggap tidak produktif, karena tidak memiliki penghasilan sendiri.

 

Program demi program terus digalakan sebagai upaya dalam memberdayakan perempuan ini. Namun, program-program ini justru menunjukkan bagaimana beratnya beban yang ditanggung perempuan saat ini. Berbagai program pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi nyatanya telah gagal mewujudkan kesejahteraan bagi perempuan.

 

Sungguh, hal ini adalah fakta bagaimana peradaban sekuler kapitalistik yang saat ini menguasai dunia telah memberikan ruang hidup yang penuh dengan kesengsaraan bagi perempuan. Kemandirian perempuan yang terus digemborkan, telah nyata tidak mampu menyelesaikan masalah perempuan dan mengentaskan kemiskinan yang ada.

 

Banyak fakta yang menunjukan kepada kita bagaimana perempuan mengalami tindak kejahatan dan kekerasan di tempat mereka bekerja. Seperti yang menimpa para tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri, banyak di antara mereka yang dianiaya, diperkosa. Bahkan sampai harus meregang nyawa dan pulang hanya tinggal nama.

 

Bahkan tak hanya itu, masalah yang muncul menyerang institusi keluarga. Seperti maraknya kekerasan dalam rumah, perceraian, terutama kasus gugat cerai terus meningkat jumlahnya, karena perempuan yang merasa sudah mandiri. Selain itu, kerusakan generasi pun semakin massif, karena anak telah kehilangan peran ibu dalam tumbuh kembangnya.

 

Penerapan sistem sekuler kapitalis di negeri ini telah nyata tak mampu mengentaskan kemiskinan. Dorongan negara dalam memberdayakan perempuan sejatinya hanya untuk kepentingan para kapitalis. Negara yang bertugas menjaga kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan perempuan telah melepaskan tugasnya.

 

Bahkan ambisi untuk mendapatkan investasi telah menjadikan para pejabat negara menjadi pelayan para pemilik modal yang sering mengabaikan hak-hak rakyatnya. Hal ini adalah suatu yang wajar dalam sistem ini, karena ini adalah watak dasar negara yang menerapkan sistem kapitalis.

 

Oleh karena itu, program pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan adalah sebuah ilusi belaka. Karena, pemberdayaan ini hanya akan membawa pada permasalahan yang datang silih berganti yang harus dihadapi para perempuan.

 

Islam dalam Memberdayakan Perempuan

 

Islam sebagai rahmat bagi dunia dan seisinya memiliki strategi dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, termasuk perempuan di dalamnya. Strategi ini adalah bagaimana Islam menjalankan roda perekonomian yang tidak pernah berujung para krisis yang sering terjadi pada sistem kapitalis. Karena, dalam sistem kapitalis harta hanya berputar dan beredar di segelintir orang (orang kaya).

 

Sistem Islam memiliki regulasi ekonomi yang mampu menggerakkan semua sektor prokduktif tanpa ada aktivitas ribawi. Sistem Islam akan menjalankan berbagai mekanisme dalam mengatasi situasi global dengan menyelesaikan dari akan dan muaranya. Mekanisme ini seperti berikut:

 

Pertama, Negara akan menghentikan pembayaran utang yang berbasis riba (berbunga) baik dari IMF, Bank Dunia atau pinjaman lainnya.

Kedua, Negara akan menghapuskan perekonomian yang berbasis ribawi.

Ketiga, Negara melarang semua bentuk penimbunan kekayaan serta memastikan kekayaan tidak beredar pada segelintir orang, tapi berputar di tengah masyarakat.

Empat, Negara menstabilkan pasokan uang dan harga dengan memastikan mata uang kertas didukung sepenuhnya oleh emas ataupun perak. Hal ini bagian untuk mencegah inflasi.

Lima, Negara menghilangkan segala bentuk pajak dan menerapkan skema pungutan berdasarkan apa yang sudah ditentukan syariat Islam.

Enam, Negara akan mengelola semua sumber daya alam yang merupakan milik umum dan menggunakannya untuk kepentingan umum baik untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, termasuk untuk mengentaskan kemiskinan.

 

Itulah mekanisme yang ada dalam sistem Islam untuk mengatasi permasalahan ekonomi global. Islam tidak akan menjadikan perempuan sebagai tameng untuk menyelesaikan permasalah ekonomi, seperti yang dilakukan sistem kapitalis.

 

Islam menjadikan bekerja bagi perempuan hanya sekadar pilihan, bukan sebagai tuntutan ekonomi. Perempuan bekerja hanya untuk mengamalkan ilmu dan potensi yang ada pada dirinya untuk kepentingan umat, dengan tetap mendorong mereka menjalankan peran utamanya sebagai istri dan ibu.

 

 

Karena, Islam telah menjamin kebutuhan pokok perempuan dengan mekanisme kewajiban nafkah yang ada pada suami/ayah, saudara laki-laki jika suami/ayah telah tiada, atau Ketika mereka tak mampu. Apabila suami/ayah dan saudara laki-laki mereka tidak mampu, maka negara yang akan menanggung nafkahnya.

 

Islam dengan kesempurnaan sistem yang dimilikinya akan mampu mengentaskan kemiskinan dan membangun ekonomi yang akan mengantarkan pada kesejahteraan, keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.

Wallahu’alam bis showab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *