Penyebab Penghinaan Terhadap Agama Selalu Berulang

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Eka Trisnawati Anwar (Pendidik)

 

Kasus penghinaan terhadap Islam dan ajaran Islam selalu berulang, baik berupa penghinaan terhadap Allah, Rasulullah saw., tempat ibadah kaum muslimin maupun terhadap ajaran Islam.

Penistaaan dan penghinaan terhadap agama di sistem demokrasi saat ini bukan hanya kali ini. Sudah menjadi tren hampir tiap tahunnya selalu saja ada orang yang menghina agama. Baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Mereka para penghina ajaran islam maupun menghina Nabi seolah tak ada rasa takut.

Bahkan di bulan suci Ramadhan ini, lagi-lagi umat Islam dikejutkan dengan berita viralnya seorang Youtubers yang bernama Joseph Paul Zhang yang berani menistakan agama Islam dengan mengaku sebagai nabi ke-26. (Kompas, 19/04/2021)

Melalui unggahan video Livestreaming youtubenya, si penghina bukan hanya mengaku nabi saja, tapi ia dengan beraninya menghina baginda Nabi Muhammad SAW dan juga menghina Allah SWT bahkan dengan kata-kata yang sangat keji. Ia juga mengeluarkan kalimat yang menantang kepada sejumlah pihak dengan iming-iming memberikannya uang senilai satu juta jika melaporkan dirinya kepada pihak kepolisian atas dugaan penistaan agama.

Atas beredarnya video tersebut, Komite Pemberantasan Mafia Hukum (KPMH) melaporkan Jozeph Paul Zhang ke Bareskrim Polri. Namun sayangnya si penista sekarang bahkan sejak Januari 2018 Joseph telah meninggalkan Indonesia.

Untuk ke sekian kalinya, bermunculan manusia-manusia keji yang berabi menghina ajaran islam bahkan berani mengaku Nabi. Lia Eden, Ahmad Musadeq, dan kini Jozeph Paul Zhang. Tak mengherankan, karena kita hidup di negara yang berlandaskan kebebasan.

Inilah dampak ketika Islam tidak ditempatkan sebagai sumber aturan. Dalam kacamata sekuler, agama hanya diposisikan sebagai salah satu norma, bukan satu-satunya rujukan dalam mengatur kehidupan manusia.

Wajar jika terjadi banyak perselisihan, pertentangan, bahkan manusia pun merasa bebas dan tak takut berbuat semau dan seenak perutnya saja. Padahal, Islam telah mengatur batasan-batasan yang sesungguhnya hal itu adalah penjagaan Allah kepada umat manusia.

Terbukti saat Islam hanya dianggap sebatas agama ritual, menjadikannya sering dinistakan. Begitupun ideologi kapitalisme yang diadopsi negeri ini, mendorong manusia menghalalkan segala cara, tak peduli halal atau tidak, termasuk menghina agama.

Dan mirisnya lagi, sanksi yang diberikan pun tak memberi efek jera. Maka wajar jika penistaan terhadap agama Islam pun terus berulang. Bandingkan dengan sanksi dalam sistem Islam yang menghukum mati para penista agama. Hal ini jelas menjadikan orang berpikir seribu kali untuk melakukannya.

Penguasa dalam sistem Islam pun begitu tegas. Dan ini pernah dibuktikan dalam sejarah. Salah satunya adalah yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad SAW. Sehingga mereka pun tak berani melakukannya.

Sungguh hanya dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh, penistaan terhadap agama bisa dihentikan. Sehingga kehormatan Islam dan kaum muslim akan terjaga.

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *