Pemuda Pelaku Pembunuhan, Potret Buram Generasi Kapitalisme 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Pemuda Pelaku Pembunuhan, Potret Buram Generasi Kapitalisme 

Antika Rahmawati

(Aktivis Dakwah) 

Perilaku pemuda hari ini, makin hari kian membuat sesak dada bagi yang melihatnya. Pasalnya, terulang kembali kasus pembunuhan yang pelakunya masih remaja. Sebut saja kasus pembunuhan satu keluarga, yang terjadi di Kalimantan Timur.

Kepolisian Resor Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur, mengusut kasus pembunuhan satu keluarga. Diduga pelaku seorang remaja berusia 16 tahun berinisial J, pembunuhan terjadi di Desa Babulu laut, kecamatan Babulu. Motif pembunuhan tersebut, lantaran persoalan asmara pelaku dengan korban dan dendam sang pelaku karena adanya konflik lain yang menjadi pemicu kasus pembunuhan ini.

Pelaku melancarkan aksi pembunuhan tersebut, saat tengah mabuk seusai pesta miras dengan teman-temannya. Pelaku pulang ke rumahnya dan langsung menuju lokasi korban, pelaku awalnya mematikan listrik rumah korban sehingga itu memancing ayah korban untuk keluar rumah. Dari situ, pelaku memukul ayah korban dengan parang, kemudian disusul oleh sang ibu yang mendengar keributan juga ikut dihabisi, selanjutnya kedua adik korban dan korban yang diduga pernah menjalin hubungan dengan pelaku berinisial RJ (13).

Nahasnya, setelah pelaku membunuh satu keluarga RJ, pelaku juga memperkosa jasad RJ dan sang ibu. Tidak puas sampai di situ, pelaku juga menggasak ponsel dan uang milik korban sebesar Rp. 363 ribu. Kejadian tersebut terjadi pada pukul 23.30 WITA, setelah itu pelaku pulang ke rumahnya dan langsung menghilangkan jejak dan melaporkan kepada RT setempat bahwa terjadi pembunuhan tetangganya, namun, akhirnya pelaku J mengakui semua adalah perbuatannya. (news.republika.co.id, 8-2-2024)

Miris, pemuda hari ini benar-benar telah kehilangan akal sehatnya sehingga tega membunuh sesamanya. Apalagi, pemicu dari peristiwa pembunuhan tersebut tidak lain karena hubungan asmara. Ya inilah sekularisme, melegalisasi pergaulan bebas, kemaksiatan serta kerusakan lainnya. Masalah pemuda hari ini belum usai, masih marak kasus kriminal yang melibatkan pemuda sulit diselesaikan secara tuntas.

Hal ini karena pemuda hari ini hidup di era kapitalisme, yang mendewakan kebebasan berekspresi sehingga apa saja dilakukan demi mendapatkan keinginannya. Kapitalisme dengan asasnya yakni sekularisme, menjadikan pemuda minim pengetahuan tentang agamanya sendiri. Hal ini yang menjadikan generasi muda sulit memahami jati diri mereka, mereka juga hidup di bawah pendidikan ala kapitalisme yang hanya mementingkan fokus pelajarnya pada materi semata bukan pada penerapan karakter generasinya.

Pergaulan dalam kapitalisme, tidak mengenal batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram terutama dari segi interaksi. Hal itu juga terjadi dalam lingkungan keluarga dan pendidikannya, semua tidak diatur sehingga dengan mudahnya antara pelajar laki-laki dan perempuan untuk campur baur. Oleh karena itu, sering kali terjadi seks bebas berujung perzinahan, hamil di luar nikah, aborsi, hingga pembunuhan yang dipicu akibat gagal menjalin asmara.

Dan sederet hal mengerikan yang lainnya, maka pendidikan hari ini benar-benar membutuhkan sistem yang mampu mengatasi kriminalitas pemuda. Sayangnya, negara tidak bertanggungjawab atas kerusakan generasi hari ini. Bahkan dengan hukuman saja, pelaku kriminalitas tidak hentinya membayangi pemuda saat ini.

Sekularisme Melahirkan Cikal-Bakal Kerusakan Generasi

Kasus kerusakan generasi muda, bukan hanya terjadi di ranah pendidikan saja tetapi didukung oleh media hiburan saat ini. Tentu kita mengetahui, hiburan ala kapitalisme menyerang pemikiran pemuda secara biologis dengan menampilkan peran-peran romantisme percintaan remaja tanpa ikatan pernikahan atau biasa disebut pacaran. Kemudian, hal-hal maksiat seperti itu di bungkus secara apik sehingga terlihat baik tanpa menampilkan sisi gelap kemasiatan pacaran ini.

Dalam film-film series saat ini misalnya, banyak mempertontonkan aurat perempuan yang menjadi tokoh film tersebut dan banyak adegan yang memunculkan hasrat yang menontonnya. Ini yang akhirnya diikuti oleh generasi muda sekarang, mereka menganggap ‘pacaran’ adalah ‘trend’ sekaligus bentuk rasa cinta yang harus diungkapkan kepada lawan jenis dengan cara yang mereka tonton di televisi atau di media lain.

Namun, lembaga penyiaran yang sejatinya mereka juga masih bersinggungan dengan pemerintah tidak mengindahkan tayangan-tayangan negatif tersebut. Seperti itulah cara kerja sistem hari ini, sangat halus namun merusak dari akar-akarnya. Tidak ada undang-undang yang melarang juga, sehingga hal-hal seperti seks bebas dan pacaran adalah fenomena yang biasa.

Tidak Adanya Sanksi Jera Bagi Pelaku Kriminal

Sejatinya, kita hidup di mana hukum mampu dibeli bahkan di ‘korting’ layaknya barang dagangan. Kapitalisme ini, tidak mampu memberikan sanksi yang membuat jera para pelaku kriminalitas sehingga angka kriminalitas di negeri ini kian melonjak. Pembunuhan satu keluarga dikarenakan kisah asmara yang kandas, telah menjadikan potret generasi hari ini menjadi bukti bahwa wajah kapitalisme memiliki sisi gelap.

Hukum yang di terapkan juga tidak mampu menekan jumlah kasus pembunuhan, pemerkosaan, kekerasan dan lain sebagainya itu selesai tuntas. Namun, justru kini bertambah masif kasus-kasus pembunuhan dan kriminal yang lain, sehingga masyarakat selalu dibayang-bayangi oleh rasa takut di masa mendatang. Penguasa yang duduk di kursi pemerintahan demokrasi, hanya berfokus membangun undang-undang yang hany menguntungkan dirinya dan para pemilik modal.

Tanpa memikirkan generasi bangsa yang semakin carut-marut, hukum hari ini tidak menjamin kejahatan kriminal dapat ditumpas. Sanksi yang diterapkan dalam bingkai kapitalisme, adalah hasil daripada pemikiran manusia. Pelaku pembunuhan terkena ancaman hukuman mati, namun karena sang pelaku masih dibawah umur, pelaku hanya kemungkinan mendapat hukuman seumur hidup.

Bukan tidak mungkin semua akan berubah, ketika nanti diajukan banding. Semua akan di negosiasi, dan pada akhirnya sanksi di atas tidak berlaku jika sudah terjadi tawar- menawar.

Islam Solusi Yang Tuntas Pada Persoalan Generasi

Allah azzawajalla, memperingatkan bahaya mendekati zina atau pacaran sebab dari maksiat kecil inilah gerbang kemaksiatan yang lain akan terbuka. Dari mulai seks bebas, hamil diluar ikatan pernikahan, aborsi dan pembunuhan. Hal ini, seperti yang tertuang dalam firman Allah swt. yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. An-Nur ayat 32)

Ayat tersebut dengan gamblang, menjelaskan bahwa mendekati zina adalah perbuatan yang keji. Sebab di dalamnya, terdapat rentetan kesengsaraan, membuka lebar pintu-pintu maksiat yang lain salah satunya pembunuhan. Tetapi Islam, dengan segala aturan lengkapnya mampu mengatasi problem generasi secara efektif.

Islam mempunyai seperangkat aturan menyeluruh, sebab landasannya bersumber dari wahyu Allah. Hukum yang berjalan sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan sunnah. Negara akan memberikan sanksi yang tegas terhadap setiap tindak kriminal yang dilakukan oleh individunya.

Islam mempunyai batasan interaksi yang begitu ketat, interaksi antar lawan jenis hanya boleh dilakukan jika terjadi kegiatan mu’amalah (jual beli), pendidikan dan di ranah kesehatan. Di luar dari tiga kegiatan tersebut, maka haram hukumnya lawan jenis saling berinteraksi bahkan bergaul. Hal ini sudah diatur dalam Al-Qur’an, dan itu juga akan diterapkan oleh negara.

Selain itu, pendidikan dalam Islam telah mengatur ruang kelasnya dengan cara terpisah tempatnya antara laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak ada interaksi terlarang antar lawan jenis seperti campur baur, jika ada yang melanggar, maka akan ditindak sesuai jenis pelanggarannya. Hal tersebut jelas akan mengurangi berbagai macam maksiat, sebab banyak yang melihat sang pelaku maksiat tersebut ditindak.

Pendidikan Islam bukan hanya memberikan pengetahuan umum, namun mendidik generasi dengan akidah Islam serta tauhid sebagai penguat pondasi keimanan tiap individunya. Selain pendidikan, tontonan dalam Daulah Islam, yakni memberikan tontonan yang mana semua tokohnya adalah seorang muslim-muslimah yang menutup aurat serta memberikan edukasi.

Hal ini akan menekan naluri seksual bagi yang menonton konten tersebut, sejatinya Islam juga tidak akan lepas dari peranan teknologi namun dalam penerapannya harus sesuai dengan syariat. Sehingga tidak akan ada tontonan yang menjerumuskan penonton kepada hal yang negatif, Islam akan menutup akses tontonan yang tidak mendidik agar tidak tayang dalam media manapun.

Generasi muda hanya akan ditekankan untuk belajar, dibina secara intensif melalui kegiatan kajian Islam dan berbagai kegiatan positif yang lainnya. Sehingga, pemuda tidak akan mudah melakukan maksiat apalagi kriminalitas. Yang ada hanya generasi yang berpikir cemerlang, mereka juga akan menjadi generasi yang memperjuangkan agamanya.

Penerapan Sanksi Pembunuh Dalam Islam

Kejahatan ditindak sesuai dengan kadar perbuatan seseorang, ketika orang tersebut menghilangkan nyawa maka sanksinya hukum Qishas. Dengan disaksikan jutaan mata, pelaku akan diadili dan ini akan berefek kepada yang melihatnya sehingga mampu berpikir ulang ketika akan melakukan maksiat. Sanksi dalam Islam, akan memberikan efek jera bagi masyarakatnya sebab mereka menyaksikan sendiri bagaimana pelaku maksiat itu ditindak.

Selain itu, sanksi untuk bagi para pelaku zina yakni jilid dan rajam. Bagi pelaku zina yang masih belum menikah akan dikenakan sanksi, berupa hukum jilid yakni dikubur sampai hanya tersisa kepalanya saja lalu dilempari batu hingga meninggal. Memang terlihat begitu mengerikan bagi yang menyaksikan, namun itu merupakan sanksi yang tegas sekaligus memberi efek jera serta penebus dosa si pelaku.

Memang akan sulit penerapan sanksi untuk pelaku kejahatan, jika hukum yang berlaku di suatu negara tidak menerapkan hukum Islam. Sebab, hukum dalam sistem selain daripada Islam, hanya mengandalkan akal manusia yang lemah. Maka dari itu, penerapan sistem Islam untuk sekarang harus didukung oleh dakwah Islam ideologis.

Dengan menyatukan pemikiran masyarakatnya, maka akan terbentuk kerangka berpikir yang cemerlang. Sehingga Islam akan mudah diterima masyarakat, sehingga kita dapat bersatu untuk mendakwahkan Islam ke penguasa hari ini. Hanya dakwah dan berdirinya institusi khilafah, permasalahan apapun akan mudah untuk diselesaikan secara tuntas terutama masalah generasi hari ini.

Allahu a’lam bisshowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *