Pemandulan Nahi Mungkar, Melanggengkan Kemaksiatan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: St. Rajma Nur, S.Pd (Pemerhati Sosial dan member Komunitas Revowriter)

 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan dua sendi yang tak dapat dipisahkan untuk menopang tata kehidupan yang diridai Allah. Dalam ilmu bahasa, amar ma’ruf nahi munkar memiliki arti menyuruh kepada yang baik, mencegah kejahatan.

Menurut para ulama, Amar Ma’ruf memiliki arti mengajak atau mendorong perbuatan baik yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Sedangkan Nahi Munkar artinya menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak dan merendahkan  nilai-nilai kehidupan.

Namun sekarang, ada upaya untuk  memandulkan potensi amar makruf nahi mungkar. Memang tidak secara zahir menghilangkan kewajibannya. Yang terjadi justru berusaha mengalihkan maknanya. Jika kita cermati. Masyarakat saat ini lebih merasa nyaman melakukan amar ma’ruf. Lebih tertarik mendengarkan ragam tausiyah dengan topik ajakan pada kebaikan. Namun sangat disayangkan, banyak yang abai bahkan khawatir jika sudah menyentuh ranah nahi Mungkar.

Masyarakat akan sangat terbuka misalnya menerima ajakan sedekah, namun antipati pada larangan memakan harta riba. Jika halnya seorang muslim begitu antusias bahkan mudah tersentuh hatinya jika diajarkan birrul walidain, shalat khusyuk, maupun memakai pakaian yang disyariatkan  lalu mengapa terkadang abai dengan maraknya zina dan pergaulan bebas.

Dalam ranah global, bidang ekonomi misalnya. Indonesia kian terpuruk pada cengkeraman asing akibat utang luar negeri. Privatisasi aset negara dan harta milik umum, menyebabkan negara kehilangan kemampuan untuk menyejahterakan rakyat. UU Omnibus Law yang tidak berpihak pada buruh. Serta banyak kebijakan dan peraturan lain pemerintah yang menyengsarakan rakyat.

Lantas jika ada pihak yang berupaya menegakkan nahi mungkar pada masyarakat secara umum,  pemerintah khususnya. Maka stempel intoleran dan radikal akan tersematkan. Para pengembannya tak segan dijebloskan kedalam tahanan dengan berbagai dalih.

Kemaksiatan Merajalalela Buah Liberalisme

Berbagai fakta kemungkaran di depan mata. Semakin hari kriminalitas semakin bertambah. Pelaku kemaksiatan tak lagi malu menunjukkan penentanganya terhadap hukum hukum Allah SWT. Semua ini diakibatkan syariat Islam digantikan dengan Liberalisme buatan manusia.

Dalam urusan agama, Liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja sesuai kecenderungan, selera dan kehendaknya. Lebih jauh Liberalisme ini mereduksi urusan agama mejadi urusan privat. Artinya, konsep amar ma’ruf nahi mungkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme.

Asal tidak merugikan pihak manapun, pelaku zina tidak boleh dihukum. Apalagi jika hubungan haram itu dilakukan dengan dalih suka sama suka. Riba dianggap masalah kontemporer yag tidak layak dihukumi haram tersebab himpitan ekonomi yang memaksa. Jika bunganya kecil maka tak mengapa memakan harta riba. Padahal riba sudah jelas diharamkan Allah Swt.  Diantaranya firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 278-280. Bahkan dalam ayat ini Allah mengatakan bahwa orang yang tidak meninggalkan riba sama dengan mengumumkan perang melawan Allah dan Rasul-Nya.

Maka dalam paham liberalisme. Siapapun boleh beragama sesuai dengan penafsiran mana yang dia ikuti. Boleh mengambil satu syariat yang disukainya, lalu berkelit dari syariat yang diaggap mengekangnya.

Sayangnya tidak sedikit masyarakat yang belum menyadari masalah pokok ini. Mereka belum paham seluk beluk liberalisme, lantas dengan mudah menerima aturan kehidupan kufur ini. Lebih jauh, masyarakat belum mengerti bahwa diabaikannya syariah kaffah dalam kehidupan merupakan kemungkaran terbesar yang ada.

Baginda Rasulullah saw telah mengingatkan kita untuk peka kapan pun menyaksikan kemungkaran. Beliau menyuruh kita mengubah kemungkaran tersebut dengan segenap kemampuan yang kita miliki.

Beliau saw. Bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Penting mengukuhkan kembali pemahaman ummat. Amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari kewajiban dan konsekuensi iman. Dengan memahami utuh makna sebenarnya dari perintah ini diharapkan umat Islam mampu mencampakkan sistem sistem kufur dari kehidupannya. Lalu siap berkorban mengambil risiko apa pun demi menjalankan ketaatan. Tak gentar berkhidmat demi tumbangnya kebatilan dan tegaknya kebenaran.

Rasulullah saw. bersabda,

“Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya (amar makruf nahi mungkar), lalu pemimpin itu membunuhnya.” (Hadis Sahih dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, Imam Al Hakim no. 4884).

 

Inilah tradisi mulia yang diteladankan baginda Nabi saw, sahabat dan para pengikut terbaiknya dari masa ke masa. Mereka selalu ada di barisan terdepan aktivitas dakwah amar makruf nahi mungkar. Meski banyak halang rintang, tak jua menyurutkan langkah demi tegak dan terjaganya sistem Islam yang diberkahi di segenap penjuru dunia. Wallahu a’lam bishowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *