Paradoks Kebijakan yang Tidak Berpihak pada Rakyat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

 

Penulis : Ummu Zubair
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial)

Jelang lebaran, pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali ramai dipadati pengunjung pada Minggu, 3 Mei 2021. Polda Metro Jaya pun turun tangan mengatasi kerumunan yang terjadi di pusat grosir pasar Tanah Abang. Pasalnya wabah Covid-19 belum berakhir, dan dikhawatirkan berpotensi mendatangkan kluster baru penyebaran Covid-19. (www.liputan6.com)

Ramainya pengunjung di pusat perbelanjaan ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang meminta masyarakat tetap membeli baju lebaran, meski pelarangan mudik tetap dijalankan. Kebijakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menstabilkan perekonomian negara yang sedang lesu karena pandemi. (wartaekonomi.co.id)

Di sisi lain, ledakan pengunjung di pusat perbelanjaan berpotensi mendatangkan kluster baru penyebaran virus corona.

Nampak kebijakan yang diambul dalam hal ini berfokus pada perbaikan ekonomi dengan mengorbankan kemaslahatan rakyat. Inilah akibat dari penerapan sistem kapitalisme, dimana perbaikan ekonomi lebih penting dibandingkan kemaslahatan rakyat.
Disatu sisi negara membuat kebijakan pencegahan penularan covid 19, namun disisi lain mendorong masyarakat untuk berbelanja yang notabene menimbulkan kerumunan. Sungguh ini merupakan kebijakan yang paradoks.

Kebijakan yang diambil pemerintah ini menunjukkan kegagalan negara dalam menyelesaikan wabah Covid-19 dan menyebabkan perekonomian terpuruk.

Sangat bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh sistem Islam. Peran negara dalam Islam adalah sebagai pelayan rakyat, sehingga kebijakan yang dikeluarkan untuk kepentingan rakyat semata. Dalam hal ini sistem Islam akan secara maksimal dan cepat tanggap dalam mengatasi wabah. Sebagaimana yang dilakukan khalifah Umar Bin Khattab ra., saat salah satu wilayah terkena wabah tha’un️. Negara segera melakukan tindakan dalam mengatasi wabah.

Sebagaimana yang dilakukan khalifah Umar Bin Khattab ra., saat salah satu wilayah terkena wabah tha’un.Negara segera melakukan tindakan dalam mengatasi wabah. Negara melakukan lockdown pada daerah yang terdampak wabah pada saat itu dengan menjamin segala kebutuhan rakyatnya.

Adapun di saat terjadi krisis ekonomi, maka pemimpin dalam Islam akan segera mengatasinya dengan memberi teladan terbaik pada rakyatnya dengan cara berhemat dan hidup sederhana.

Semua itu tampak jelas dalam kehidupan khalifah Umar yang keadaan ekonominya jauh dari kemewahan. Bahkan kondisi beliau lebih berkekurangan dari rakyatnya. Beliau merasakan betul bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. Beliau bersegera dalam mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif.

️Demikianlah gambaran penerapan sistem Islam yang mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan sebagai solusi atas permasalahan umat dan bertujuan semata-mata demi kemaslahatan umat.

Wallahu ‘alam bishshawaab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *