Operasi Pasar Murah untuk Solusi Stabilisasi Inflasi, Tepatkah?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Operasi Pasar Murah untuk Solusi Stabilisasi Inflasi, Tepatkah?

Penulis : Rokayah (Buruh pabrik elektronik) 

Guncangan sistem ekonomi kian dirasakan masyarakat, biaya hidup yang tinggi berimbas pada turunnya daya beli dan nilai uang yang tak lagi sama dengan satu dekade sebelumnya. Salah satu penyakit akut yang diderita sistem ekonomi hari ini adalah inflasi. Resesi dan inflasi seolah tidak bisa dihindari dalam sistem kapitalisme saat ini. Jumlah orang miskin terus meningkat, rakyat yang semula nyaris miskin akan menjadi benar-benar miskin.

 

Emak-emak merasa pusing tujuh keliling dalam mengatur keuangan keluarga. Pasalnya, harga sembako dan barang-barang kebutuhan lainnya terus mengalami kenaikan. Inflasi ini sering terjadi dan berulang setiap tahunnya, terutama mendekati hari-hari besar keagamaan nasional, baik Ramadan, Idul Fitri maupun Nataru.

 

Rasanya kita semua mudah memahami apa yang disebut inflasi ya, di mana tahun berganti tahun uang yang kita miliki selalu berkurang nilainya. Tiga puluh tahun lalu, seorang suami dengan gaji lima ratus ribu sebulan bisa menghidupi isteri dan kedua anaknya. Bayangkan jika sampai hari ini, sang suami masih mendapat gaji lima ratus ribu sebulan dari tempat kerjanya. Tentu kita dengan yakin menjawab uang itu sudah tidak cukup lagi, sebab dunia ini terus mengalami inflasi.

 

Untuk mengatasi inflasi, Pemerintah Kabupaten Bandung menggelar Bazar Ramadhan 1445 Hijriah dan Operasi Pasar Murah Bersubsidi tahun 2024 untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Pembukaan Bazar Ramadhan kali ini langsung dihadiri oleh Bupati Bandung HM. Dadang Supriatna di lapangan Upakarti Komplek Pemkab Bandung, Soreang pada hari Senin, 25 Maret 2024 (hibar.pgrikabupatenbandung.id, 25/03/2024).

 

Sehari setelah bazar tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Zulkifli Hasan juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) berbagai bahan kebutuhan pokok ke sejumlah titik di Kabupaten Bandung. Dalam kunjungannya tersebut, Mendag mengecek ketersediaan stok dan harga berbagai kebutuhan pokok (republika.co.id, 26/03/2024).

 

Inflasi memang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti peningkatan konsumsi masyarakat, likuiditas di pasar yang berlebih sehingga memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, hingga ketidaklancaran distribusi barang. Sedangkan di Jawa Barat, inflasi dipicu oleh kanaikan harga beberapa bahan pokok.

 

Operasi pasar dan bazar sebenarnya tidak akan banyak membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, karena hal itu hanya bersifat terbatas, yang hanya menjangkau sebagian kecil masyarakat, sementara sebagian besar daya beli masyarakat masih rendah. Di sisi lain tidak cukup hanya memastikan tersedianya sembako, tetapi yang lebih penting adalah memastikan distribusi merata dan terjangkau oleh seluruh masyarakat sebagaimana dalam politik ekonomi Islam.

 

Dengan demikian, menyelesaikan problem inflasi tidak bisa hanya dengan menggelar Bazar Ramadhan dan Operasi Pasar Bersubsidi dan sejenisnya saja, namun harus disertai dengan solusi mendasar lainnya.

 

Dengan penerapan syariat Islam, urusan masyarakat akan terpenuhi secara adil dan menyejahterakan karena di dalam Islam, pemenuhan hajat hidup orang banyak yakni terkait dengan pangan menjadi tanggung jawab negara. Negara tidak hanya mengurusi urusan produksi tetapi juga terdistribusi di tengah masyarakat.

 

Wallahu’alam Bisshowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *