Moderasi Beragama Bukan Solusi

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Balqis, S.Pd (Pendidik/Aktivis Dakwah)

 

Sebuah bom bunuh diri mengguncang Gereja Katedral Makassar Jalan Kajaolalodo – Botolempangan, Ahad 28/3/2021. Sungguh tindakan bom bunuh diri tersebut adalah perbuatan brutal dan tak manusiawi. Apapun motifnya, bom bunuh diri tidak dibenarkan, apalagi pelaku yang bersangkutan mati. Kemudian kurang lebih 14 orang menjadi korban.

Tentu saja tindakan tersebut harus dikutuk oleh semua umat beragama. Karena, dalam agama Islam kita harus saling menyayangi dan menghormati. Bahkan dalam perang saja menurut islam merusak rumah ibadah agama apapun dilarang dalam Al-Qur’an, apalagi dengan niat menghilangkan nyawa orang-orang sipil jelas tak diperbolehkan dalam Islam.

 

Secara logika, pelaku pasti bukan dan tidak terkait dengan Islam. Jika ada pengkaitan, pastilah itu bagian dari narasi adu domba. Pelaku tak mungkin dapat dikaitkan dengan Islam, karena Islam mencela tindakan membuat teror termasuk bunuh diri. Pelaku tidak mungkin dari Kristen, karena peristiwa tersebut menimbulkan korban di pihak gereja.

 

Sering terjadi opini atau framing yang melekatkan dengan terorisme dan radikalisme untuk ditanamkan di benak publik. Padahal dinyatakan bahwa peristiwa ini tidak terkait dengan agama apapun.

 

Inilah momen mengkritisi peristiwa secara detail. Mengedukasi publik terhadap syariat Islam seperti jihad, khilafah, dan lainnya yang harus dimaknai secara benar. Ajaran Islam berasal dari Allah dan mengandung kebaikan. Jangan sampai didistorsi, didestruksi, bahkan dihilangkan. Jangan sampai publik terbawa narasi yang memojokkan syariat Islam termasuk perjuangan menegakkan khilafah.

 

Jika dilihat dari peristiwa bom WTC pada 2001 yang melahirkan war on terorism nyatanya diketahui menjadi war on Islam. Ini menunjukkan ada pihak-pihak yang menghendaki legalisasi dan mengokohkan framing buruk ini, meskipun tidak sesuai fakta. Kemudian dimanfaatkan untuk menjustifikasi hal-hal lain yang sebenarnya tidak berhubungan. Akhirnya Islam harus dimoderasi, karena diframing kalau ajarannya dibiarkan itu berbahaya. Kini stigma ajaran Islam menjadi buruk dan negatif,

 

Moderasi beragama akan di sebarkan di berbagai kalangan. Salah satu kampus islam di Makassar mengadakan kegiatan dalam rangka penguatan moderasi beragama bagi Civitas akademik, UIN Alauddin Makassar menggelar diskusi dengan tema “Moderasi Beragama”, menghadirkan mantan Menteri Agama RI periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, bertempat di Sultan Alauddin Hotel & Convention, Senin (15/3/2021).

Moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku menyimpang yang tidak di ajarkan agama. Bahkan cenderung menuju sikap sekuler atau Islam moderat. Memandang Al-Qur’an yang menyesuaikan zaman, bukan lagi zaman yang menyesuaikan Al-Qur’an.

Sejatinya agenda-agenda semacam ini masif dilakukan. Kasus-kasus kekerasan, intoleransi, dan aksi-aksi teror yang kerap terjadi sering dinisbahkan pada cara pandang mereka yang ekstrem dalam beragama.

Moderasi beragama dianggap sebagai solusi jitu mengeliminir kasus-kasus. Karena menurut konsep mereka, islam moderat mengajarkan prinsip-prinsip Islam yang lebih ramah. Karenanya, bisa menghindarkan pemeluknya, baik di level masyarakat, maupun level individu, dari sikap berlebihan dalam beragama. mereka juga meyakinkan masyarakat global, bahwa ekstremisme dan terorisme Islam adalah hasil manipulasi kelompok-kelompok tertentu yang hendak mengambil keuntungan. Dimana mereka menafsirkan Islam dengan pemahaman-pemahaman yang bisa melegalisasi aksi-aksi menebar kebencian dan permusuhan. Bahkan memprovokasi pertumpahan darah dan peperangan ini merupakan bentuk penyesatan.

 

Kita lihat faktanya. Islam  moderat yang hari ini sedang diaruskan nyatanya adalah Islam yang dipersepsikan dan dikehendaki oleh kafir Barat. Yakni Islam yang mengakomodasi nilai-nilai Barat dan ramah terhadap kebijakan-kebijakan global yang sedang mereka tancapkan di seluruh dunia.

 

Propaganda ini nyatanya adalah bagian dari agenda perang global melawan terorisme (GWoT) dan proyek-proyek bantuan yang disandingkan dengan target penancapan gagasan-gagasan tersebut, khususnya di negeri-negeri Islam. Mereka memobilisasi seluruh komponen umat, pesantren dan madrasah, untuk masuk dalam proyek deradikalisasi tersebut. Tentu dengan effort dana dan energi yang tak ringan.

Sayangnya, sebagian umat Islam khususnya para penguasa justru termakan propaganda Barat dan memosisikan diri sebagai pihak tertuduh.  Apa yang dimaksud dengan Islam moderat adalah Islam yang tak anti Barat. Yakni Islam yang menerima ide-ide liberalisme kapitalisme di berbagai bidang  kehidupan, termasuk bidang ekonomi. Sekaligus menerima gagasan pluralisme dan relativisme, yang ujung-ujungnya mendukung sekularisasi dan menolak gagasan atau gerakan penegakan syariat Islam.

 

Maka sudah saatnya umat menyadari hakikat persoalan, agar tak selalu jadi korban penipuan. Bahkan umat harus berkeyakinan, bahwa Islam ideologi yang hari ini dimusuhi Barat dan berusaha terus direkayasa, sejatinya adalah kunci kebangkitan.

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *