Menyongsong 2023, Negeriku Berkah dengan Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Menyongsong 2023, Negeriku Berkah dengan Islam

Oleh Vivi Rumaisha

(Aktivis Dakwah Kampus)

 

Bagai pungguk merindukan bulan. Berharap perubahan dalam sistem kapitalisme-demokrasi adalah hal yang mustahil. Demokrasi dengan jargon kebebasan, nyatanya tak memerdekakan manusia dari penghambaan selain Allah. Berbagai masalah yang timbul di negeri ini nyatanya tak kunjung usai. Inikah anomali demokrasi? Akankah berlanjut?

Dari tahun ke tahun, korupsi di Indonesia kian menunjukkan peningkatan; baik dari segi jumlah kasus, tersangka maupun potensi kerugian negaranya. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah memaparkan capaian kinerja jajarannya di sepanjang tahun 2022. Dari hasil penanganan perkara korupsi yang ditangani, tercatat kerugian negara dan perekonomian negara mencapai Rp 144,2 triliun (Merdeka.com, 07/01/2023).

Kepala Badan Narkotika Nasional, Komisaris Jenderal Polisi Petrus Reinhard Golose mengungkap, mereka telah menyita 1, 902 ton sabu-sabu; 1, 06 ton ganja; 262.789 butor ekstasi dan 16,5 kg ekstasi berbentuk serbuk sepanjang 2022. Ada hampir 40 ribu kasus narkoba dengan total barang bukti yang diamankan sepanjang tahun 2022 adalah senilai Rp 11 triliun. (republika.co.id, 01/01/2023)

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa angka kejahatan atau tindak pidana selama kurun waktu 2022 mengalami kenaikan sekitar 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kapolri juga menyatakan bahwa kerugian investasi ilegal selama 2022 mencapai Rp 31, 4 triliun. Polri sejauh ini sudah menangani 28 kasus investasi ilegal selama 2022. (republika.co.id, 01/01/2023)

Dengan ragam realita yang senantiasa terulang setiap tahunnya, sudah terbukti bahwa hidup dalam kekuasaan kapitalisme-demokrasi mendatangkan nestapa dan penderitaan umat manusia. Berbagai krisis terus menimpah di segala lini kehidupan. Mulai dari masalah individu, sistem sosial kemasyarakatan hingga ke tatanan negara. Pelaku kejahatan pun tidak diberikan efek jerah.

Alih-alih menyejahterakan. Berbagai kerusakan, penderitaan dan kezaliman akan terus terjadi dan bisa mengatarkan umat manusia pada jurang kehancuran jika tidak diperbaiki. Oleh karena itu, umat harus memahami bahwa akar masalah hari ini bukan hanya pada kerusakan orang-orang yang memimpin melainkan pada sistem kehidupan yang dijalankan hari ini. Sehingga umat tak hanya menginginkan lagi sekedar perubahan rezim sebagaimana periode sebelumnya.

Ditegaskan sekali lagi semua permasalahan ini berawal dari penerapan sistem kehidupan yang salah, aturan yang bukan berasal dari Sang Pengatur urusan makhluk-Nya. Namun aturan hari ini berasal dari manusia yang lemah, serba kurang, terbatas serta berkepentingan dengan aturan yang dibuatnya.

Umat Islam harus menyadari bahwa harus ada langkah perubahan yang sistemik. Perubahan adalah suatu keniscayaan untuk melakukan perbaikan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (TQS Ar-Ra’du: 11). Lantas, seperti apa perubahan yang dimaksud?

Al-alim ulama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyampaikan bahwa perkara yang bisa membangkitkan manusia adalah perubahan pemikiran. Kebangkitan itu haruslah dengan mengubah pemikiran manusia secara mendasar dan menyeluruh, yakni akidah Islam itu sendiri. Umat harus memahami hanya akidah Islam sebagai dasar sistem Islam yang akan menyelamatkan mereka dari penderitaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Sistem Islam akan mengatur segala lini kehidupan manusia dengan berpedoman pada kitabullah dan sunnah. Dengan pengaturan tersistemik akan meminimalisir terjadinya permasalahan seperti hari ini.

Dengan itu umat juga harus memahami metode perjuangan dan penegakan sistem Islam sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw yakni dengan dakwah pemikiran. Pemikiran yang benar akan menuntun pada perubahan yang tepat. Apabila mayoritas umat sudah menghendaki perubahan dan merindukan hadirnya kepemimpinan Islam, akan muncul kekuatan politik yang tidak bisa dibendung. Saat itulah tegaknya Daulah Islamiyah menjadi keniscayaan, insyaallah.

Kapitalisme telah ada di ujung tanduk. Tinggal menunggu waktu saja untuk lenyap. Tersebab cinta kita tidak akan membiarkan negeri kita dikuasai. Cinta akan mendorong kita membebaskan bangsa dan negeri ini. Mari songsong abad kegemilangan Islam berikutnya dengan berupaya terlibat aktif dalam perjuangan, bukan mencukupkan diri sebagai penonton saja. Allahuakbar.

Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *