Labirin Judi Online 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Labirin Judi Online 

Oleh: Ira Rahmatia 

 

Judi online kian hari makin meresahkan. Bagaimana tidak, judi online kini menyusup situs lembaga pendidikan dan pemerintah. Menurut Budi Arie Setiadi selaku Menteri Komunikasi dan Informatika, ada belasan ribu konten phising berkedok judi online menyusup ke situs lembaga pendidikan dan pemerintahan. Phising adalah kejahatan digital atau penipuan yang menargetkan informasi atau data sensitif korban. Tepatnya, ada 14.823 konten judi online menyusup di lembaga pendidikan dan 17.001 konten menyusup ke lembaga pemerintahan. (CNBC Indonesia, 23-5-2024). Ia juga memperingatkan para pemilik platform layanan internet seperti Google, Meta, Telegram, Tik Tok dan X bahwa akan memberikan sanksi sebesar Rp500 juta rupiah jika tak kooperatif kepada seruan pemerintah. (CNBC Indonesia, 24-5-2024)

Hingga kini, Menkominfo menyebutkan telah berhasil memblokir sebanyak 1.904.246 konten judi online (judol) sepanjang 17 Juli 2023 hingga 21 Mei 2024. tak hanya itu, pemblokiran juga dilakukan pada sejumlah rekening dan e-wallet yang terafiliasi judi online.(tirto.id, 22-5-2024)

Labirin Judi Online

Mengungkap kasus judi online bak berburu dalam labirin. Pasalnya, penyedia situs judi online tumbuh menjamur, dikemas dengan berbagai tampilan atau layanan yang menarik seperti game online. Akhirnya, hal ini membuat banyak orang yang tertarik, lama-lama akhirnya menjadi candu. Mirisnya, pada bulan April 2024 diberitakan bahwa Indonesia menduduki posisi sebagai peringkat satu pemain judi terbanyak di dunia. Bagaimana tidak, berdasarkan data PPATK, pada tahun 2023 sebanyak 3,2 juta penduduk Indonesia bermain judi online dengan perputaan uang sebanyak Rp327 triliun. Adapun periode Januari hingga Maret 2024 perputaran uang judi online ini mencapai angka Rp100 triliun. (Pikiran rakyat.com, 24/4/2024)

Dari data Kominfo, bahwa mayoritas korban peredaran judol adalah anak muda yang berusia di bawah 17 tahun. Tentu ini sangat menyayat hati, bagaimana kehidupan generasi di masa depan jika saat ini kasus judi online tidak diberantas secara maksimal sejak dini.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab suburnya judi online saat ini, di antaranya adalah:

1. Lemahnya keimanan individu

Dalam kehidupan yang serba sekuler dan kapitalistik saat ini membuat seseorang mudah tergiur dengan berbagai godaan yang ada termasuk judi online. Judi online dianggap sebagai hiburan sekaligus solusi bagi masyarakat termasuk pelajar untuk menyelesaikan permasalahan ekonominya. Ilusi untuk menang, dan banyaknya uang yang telah dikeluarkan menjadi candu untuk melakukannya lagi dan lagi. Alhasil, banyak yang terjerat pinjaman online, bunuh diri dan keretakan rumah tangga yang terjadi. Tidak tahu kapan lagi batas dia harus keluar dari lingkaran setan ini.

Tak dapat dipungkiri, bahwa masyarakat dalam sistem sekuler saat ini dibiarkan hidup bebas tanpa aturan agama. Pendidikan agama yang kurang di lembaga pendidikan, membuat pelajar dan masyarakat tidak sadar pentingnya melakukan sesuatu berdasarkan standar halal dan haram. Namun, menstandarkan sesuatu pada manfaat semata.

Pemisahan agama dari kehidupan dalam lingkup negara juga akhirnya menimbulkan masalah, sebab tak ada upaya preventif berupa edukasi-edukasi yang dilakukan penguasa pada masyarakat. Pemblokiran sejumlah konten tentu tidaklah cukup, sebab kesadaran masyarakat tentang bahaya dari jeratan judol belum merata ke seluruh masyarakat. Tepatnya, judi online telah menjadi tabiat sebagian masyarakat dan hal itu perlu dituntaskan hingga ke akar-akarnya.

Pengelolaan ekonomi yang berlandaskan kapitalisme juga berdampak besar pada masyarakat. Kemiskinan yang terus meningkat membuat sebagian besar masyarakat mencari keberuntungan pada judi online. Tumpukan permasalahan seperti utang, mahalnya biaya hidup, biaya pendidikan dan kesehatan membuat banyak orang mencari jalan pintas untuk memenuhi itu semua. Ditambah lemahnya iman bahwa rezeki dari Allah makin memudahkan jeratan berjudi online yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Swt..

2. Kurangnya kontrol sosial masyarakat

Masyarakat dalam sistem sekuler dibangun menjadi manusia-manusia yang individualis dan pragmatis. Di tambah dengan pemahaman bahwa setiap manusia memiliki hak dalam berperilaku yang dijamin oleh HAM, menjadikan masyarakat bersikap acuh tak acuh. Aktivitas amar makruf nahi mungkar sebagai fungsi dari kontrol sosial tidak lagi berjalan sebagaimana harusnya.

3. Kurang tegasnya sanksi yang ada

Pemberantasan judol dari waktu ke waktu nyatanya tidak menurunkan angka judol. Tentu ini menunjukkan bahwa kurang maksimalnya aparat penegak hukum dalam menangani kasus judol ini. Pemblokiran yang dilakukan pada sejumlah situs penyedia judol tidaklah efektif tanpa adanya aturan yang tegas pada penyedia dan juga pemain judi online. Sebab selama ini, pemain judi online yang bertambah banyak, artinya mereka tidaklah merasakan takut untuk melakukan perbuatan haram ini, sebab tidak ada sanksi yang tegas, yang dapat menjerakan mereka. Hal ini juga menunjukkan bahwa negara kalah melawan pengusaha judol.

Judi Haram

Dalam Islam, perbuatan judi, baik online maupun offline adalah haram. Hal ini jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs. Al-Maidah : 10)

Pembangunan dalam Islam memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia yang berkepribadian Islam. Hal ini ditunjukkan dalam sistem pendidikan yang diasaskan pada akidah yang benar, sehingga lulusan-lulusan yang ada, adalah mereka yang taat pada aturan agama. Begitupula masyarakat yang diarahkan untuk gemar melakukan amar makruf sebagai bagian dari kewajiban setiap muslim, sehingga masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang gemar saling menasehati. Tak cukup pada level masyarakat, negara juga turut dalam aktivitas ini karena merupakan bagian dari penjagaan akidah dan tugas utama yang diemban oleh negara.

Pengelolaan ekonomi berdasarkan sistem ekonomi Islam juga terbukti mampu untuk mensejahterakan rakyatnya. Sebab, salah satu pemasukan terbesar negara adalah sumber daya alam yang dikelola dan dikuasai oleh negara. Hasilnya yang melimpah ini menjadikan negara untuk mampu menjamin kebutuhan pokok rakyat, termasuk pendidikan, kesehatan, infrastukutur dll. Kesejahteraan ini diharapkan dapat mengurangi minat pada judi online.

Yang terakhir, sanksi dalam Islam. Islam memiliki seperangkat hukum yabg tegas dan berfungsi sebagai zawabir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Sehingga, sanksi yang diberikan dapat menjerakan pelaku sekaligus menimbulkan rasa takut pada oranglain untuk melakukan hal yang sama. Untuk menegakkan keadilan, sanksi akan diberikan kepada pemain judi online dan juga kepada bandar-bandarnya serta pembuat aplikasinya berupa takzir, yakni jenis sanksi yang keputusannya diserahkan kepada penguasa sesuai dengan tingkat kejahatannya. Demikianlah mekanisme pencegahan dan solusi atas perjudian dalam Islam. Hal ini hanya mampu diterapkan di bawah naungan Daulah Khilafah.

Wallahu a’lam bisshowab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *