Kritik Kebijakan Dispensasi Nikah: Mencegah Nikah Dini Atau Melegalisasi Seks Bebas?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Serli Agustina

Pernikahan dini seringlah kita dengar bahkan sudah banyak terjadi dikalangan anak sekolah yang mungkin sudah putus sekolah atau terjadi something pada si perempuannya yang menyebabkan dia harus putus sekolah dan harus menikah. Dan selama masa pandemi ini terjadi peningkatan dalam pernikahan dini yang tersebab ekonomi yang merosot, KOMPAS.com- Rabu, 28 Juli 2020 ” Susilowati Suparto mengatakan, peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi”.

Pernikahan dini yang meningkat dikala pandemi ini terjadi karena pernikahan tersebut menjadi jalan alternatif bagi para orang tua yang menganggap itu dapat meringankan beban keluarganya. Dan disertai pula ada ratusan warga yang meminta dispensasi nikah, ”Data permohonan dispensasi nikah sebanyak 240 pemohon tercatat mulai Januari hingga Juli. Sementara usia pemohon dispensasi nikah ada yang berusia 14 tahun hingga 18 tahun. Artinya, tidak semuanya tamatan SMA karena bisa saja putus sekolah atau bahkan tidak sekolah,” ujar Taskiyaturobihah. Jawa.Post.com -26 Juli 2020

Adapun dispensasi nikah adalah pemberian hak kepada seseorang untuk menikah meski usianya belum mencapai standar usia dalam UU. Diantara persyaratan perkawinan yang berlaku di Indonesia menurut UU no 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang telah diubah dengan UU no 16 tahun 2019 tentang asas perubahan asas undang undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan adalah berkaitan dengan usia perkawinan, calon mempelai, baik pria maupun wanita telah mencapai usia 19 tahun. Berdasarkan ketentuan pasal 7 ayat (2) UUP, jika terjadi penyimpangan dari persyaratan usia perkawinan, maka perkawinan baru dapat dilangsungkan setelah mendapat dispensasi dari pengadilan.

Dari data dispensasi nikah yang mereka catat sebanyak 50% wanita sudah hamil diluar nikah,miris. Begitu mudah mereka menyerahkan diri ini yang padahal diri ini bukanlah milik kita melainkan titipan Allah SWT yang patut kita syukuri serta dijaga

Dan kita ketahui bukan dizaman sekarang jika kehamilan terjadi diluar nikah maka solusi nya adalah dinikahkan baik itu dengan sibapak bayi atau pun dengan orang lain. Atau bahkan dilenyapkan sebelum bayi itu melihat dunia, sebelum bayi itu merasakan gengaman jari-jemari ibunya, sebelum bayi itu ditimang-timang, kejam. Itu mereka lakukan tersebab rasa malu serta cemooh yang akan di terimah dari para masyarakat.

Kita ketahui awal mula semua itu adalah pendekatan atau bertemannya laki-laki dan perempuan yang melampaui batas hingga terjadi rasa suka-menyuka tanpa disertai rasa takut kepada Allah alhasil pacaran pun menjadi alasan akan rasa itu dan ya memang semua tak berakhir dua garis biru tapi dua garis biru itu berkemungkinan besar berawal dari pacaran.

Minimnya ilmu agama, dan akhlak baik yang menyebabkan kurang nya pembentangan diri ini, kurangnya diri ini dalam menahan hawa nafsu yang begitu besar serta dengan aturan negara

Dan didalam Islam solusi ketika kita meyukai makhluk itu bukanlah dengan jalan pacaran melainkan menikah, jika tak sanggup menikah maka jangan pula berpacaran. Karena perzinahan tergolong dosa bersar setelah kesyirikan sebagaimana yang hadist Rasulullah: “Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya pada rahim wanita yang tidak halal baginya,” (Ibnu Abi al-Dunya).

Seharusnya negara tegas akan hal ini, seharusnya negara mewujudkan rasa ketaqwaan dengan bekerja keras agar negeri ini terbebas dari seks bebas dan sebagainya. Jika dilihat dari sistem sekarang maka itu mustahil dilakukan para rezim yang bak lintah penghisap darah rakyat. Maka dari itu yang kita butuhkan adalah penerapan syari’at Nya secara kaffah melalui Daulah Khilafah. Cukup sudah sistem kafir ini jangan diperpanjang lagi karena sudah banyak kebathilan terjadi hingga detik ini Allah masih memberi kita kesempatan untuk taat Islam kaffah. Mari kita wujudkan Daulah Khilafah bersama,berjuang hingga hembusan napas ini sudah tak lagi terhembus.

Wallahu’alam bis shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *