Korupsi Mewabah, Menambah Masalah

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Ummu Aman (Komunitas Menulis Setajam Pena)

 

Korupsi merupakan penyakit yang seolah-olah tidak bisa terobati dan semakin parah menjangkiti negeri ini. Bahkan disaat kehidupan rakyat sedang terhimpit karena pandemi, para koruptor beraksi, menambah masalah bumi pertiwi.

Seperti yang dilansir dari detikNews (8/8/2021), Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, dalam konferensi pers secara daring menyampaikan hasil survei nasional mengenai persepsi publik atas pengelolaan dan potensi korupsi sektor sumber daya alam. Hasilnya, 60 persen publik menilai tingkat korupsi di Indonesia meningkat dalam dua tahun terakhir.

Dalam sistem sekuler korupsi merupakan hal yang tidak bisa dielakkan, karena korupsi merupakan buah dari penerapan sistem kapitalis sekuler. Semakin subur sistem itu berkembang maka korupsi akan semakin membesar. Watak dari sistem sekuler sangatlah rakus. Dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan pada sistem sekuler, kapital merupakan poros dan tujuannya.

Orang-orang yang berkecimpung didalamnya berorientasi untuk memperoleh sebanyak banyaknya kapital tanpa peduli halal haram. Mahar yang sangat mahal untuk sebuah jabatan menjadi pemicu untuk mendulang keuntungan, sehingga korupsi menjadi keniscayaan.

Karena korupsi ini buah dari sistem, maka korupsi semakin menggurita dan menjadi budaya, yang tidak lagi membuat pelakunya malu apalagi takut. Mereka melakukanya secara bersama, saling terkait membentuk kroni. Banyak aturan dan pasal yang ditabrak atau bahkan dibuat aturan dan pasal baru untuk mengamankan para koruptor. Semua ini karena kepentingan bersama yang harus dijaga yaitu kekuasaan yang berujung keuntungan kapital.

Masuknya eks koruptor sebagai komisaris BUMN menegaskan bahwa sistem ini sangat ramah terhadap koruptor. Salah satu bukti yang mengonfirmasi survey yang mencatat persepsi atau pandangan masyarakat bahwa korupsi adalah problem besar bangsa. Korupsi akan berdampak sistemik yang sangat membahayakan keberlangsungan suatu bangsa. Seperti halnya penyakit kronis, korupsi di negeri ini harus segera mendapat penanganan serius.

Maka, segera campakkan sistem sekuler yang terbukti rapuh dan tidak mampu menuntaskan wabah korupsi. Segera beralih ke sistem Islam yang berasal dari Allah SWT. Hanya sistem Islam berwujud khilafah yang mampu tuntaskan mewabahnya korupsi dan menutup semua pintu terjadinya korupsi.

Dalam sistem Islam para pejabat tidak bersal dari pemilihan yang membutuhkan mahar yang mahal. Mereka diangkat berdasarkan hukum Allah dan untuk menerapkan hukumnya Allah. Para pejabat berasal dari kalangan yang kafaah mampu menjalankan tugas negara dengan amanah. Mereka tidak mendapatkan gaji tetapi mendapatkan tunjangan yang menjamin kesejahteraan. Para pejabat dididik untuk faham akan pertanggungjawaban atas amanah yang diemban. Amanah jabatan sebagai jalan untuk meraih ridha Allah semata, tidak sekedar materi dunia.

Jikalau ada pejabat yang korupsi sistem Islam mempunyai seperangkat aturan yang tegas. Mereka akan dihukum sebagai mana pencuri yang kadar hukumnya disesuaikan dengan banyaknya harta negara yang dicuri. Hukuman yang diberikan bagi koruptor bersifat menjerkan dan melindungi agar tidak terjadi pelanggaran yang sama, semisal potong tangan atau dibunuh.

Sungguh jika hukum Allah ini diterapkankan akan benar-benar menyelesaikan masalah korupsi dan membawa rahmad bagi semesta alam. Sebagaimana firman Allah swt.
“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TQS al-maidah : 48)

Wallahu a’lam bisowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *