Konten Khilafah Bertaburan di Kitab Para Ulama. Liberal Masih Berani Bilang Radikal?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Kata Khilafah adalah milik Kaum Muslimin dan bersumber dari Rasulullah SAW. Bukan dari Yunani atau Romawi.

Khilafah ada dalilnya dalam Hadis Rasulullah SAW tentang akan datangnya Khilafah kedua alaa minhajin nubuwwah (sesuai metode kenabian). Bahkan ada juga terminologinya yang seakar yakni kata Khalifah.

Khalifah adalah pemimpin Khilafah, sedangkan Khilafah adalah Sistem Kepemimpinan Islam yang akan menaungi dunia dengan sistem Islam (Lihat Q.S.Al Baqarah:30). Khalifah menggantikan Rasulullah SAW setelah wafatnya Beliau bukan sebagai Nabi tetapi sebagai Pemimpin Khilafah Islam yang sejarahnya pernah bertahan selama 14 abad menguasai 2/3 dunia.

Lalu apa peran para Ulama? Ulama adalah golongan orang beriman yang takut Allah SWT dan paling memahami ilmu tentang agama ini. Mereka mengenal Khilafah seperti mengenal Syariah Islam yang lainnya.

Ulama menjelaskan kepada Umat apa itu Khilafah dan bagaimana menyebarkan Islam via Khilafah. Agar ilmu tentang Khilafah terus mengalir dari generasi ke generasi, para Ulama yang mulia menulis ribuan kitab tentang Khilafah.

Jumhur Ulama khususnya Ulama 4 Mahdzab MEWAJIBKAN KHILAFAH. Tak ada ulama yang tidak mewajibkan Khilafah kecuali segelintir kecil Ulama.

Ali Abdur Raziq pernah mencoba memisahkan antara Agama dan Negara (antara Agana dan Khilafah) tapi karena itu gelar Ulamanya dicabut. Mengapa Ulama menulis kewajiban menegakkan Khilafah di dalam kitab-kitabnya?

Agar bisa dibaca oleh generasi kaum Muslimin dari generasi ke generasi hingga akhir zaman. Agar mereka tahu bahwa membela Khilafah seperti membela agama.

Khilafah adalah harga mati bagi Umat ini. Bahkan Khilafah pernah membebaskan Palestina sebanyak dua kali yakni pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.

Khilafah pun pernah berjasa mengusir penjajah Portugis dari tanah Malaka. Keraton Jogja pun pernah mendapatkan mandat kekuasaan dari Khilafah Ustmaniyah seperti pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Jogja.
Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki).

Oleh karena itu, patut diduga jika ada usaha menghilangkan konten Khilafah dari kitab-kitab atau buku-buku, berarti ada upaya liberalisasi. Upaya liberalisasi adalah upaya menjauhkan Umat dari pengamalan Islam secara Kaffah.

Khilafah bukan ajaran radikal dalam konotasi negatif. Malah ketiadaan Khilafah, Palestina dijajah Israel.

Sumber Daya Alam Indonesia dirampok para kapitalis raksasa. Orang miskin semakin banyak, koruptor semakin liar dan pengangguran meningkat tajam sejak demokrasi dan kapitalisme diterapkan.

Jadi kapitalisme dan demokrasilah yang radikal negatif. Jika ingin negeri ini kembali jaya maka tegakkanlah Khilafah.[]

Bumi Allah SWT, 8 Juli 2020

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

2 komentar pada “Konten Khilafah Bertaburan di Kitab Para Ulama. Liberal Masih Berani Bilang Radikal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *