Ketika Guru Tidak merdeka, Murid Tidak Bahagia dan Orang tua Merana

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Citra Amalia (Pendidik)

Di masa wabah saat ini, covid-19 atau sering kita sebut sebagai virus corona telah menimbulkan banyak dampak. Dari institusi pendidikan, siswa atau pelajar diarahkan untuk belajar di rumah saja yang kemudian melahirkan pembelajaran dengan sistem daring. Hal ini pun langsung menimbulkan reaksi dimana guru dan sekolah berupaya dengan langsung mengubah metode menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Baik guru maupun siswa keduanya pun beradaptasi dalam menggunakan teknologi yang mendukung pembelajaran dari rumah. Orang tua yang biasanya ‘tidak dituntut’ terlibat secara langsung dalam mengajarkan anak pun sekarang menjadi harus terlibat 100%. Sehingga dampak dari pemberlakuan belajar di rumah tidak hanya dirasakan oleh guru dan siswa namun juga oleh orang tua atau keluarga.

Akses pendidikan Indonesia yang memang terlihat belum merata semakin memperparah kondisi ini. Data kemendikbud menunjukkan bahwa Sekolah yang sudah siap karena terbiasa melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara teknologi yang artinya adalah sekolah yang memiliki fasilitas program internet yaitu sebanyak 40,4 persen dari total seluruh sekolah yang ada di Indonesia terutama Pulau Jawa. Data tersebut belum mewakili ketersediaan fasilitas daring di keluarga masing-masing. Dengan angka kesenjangan di Indonesia yang tinggi maka ketersedian fasilitas pada setiap kepala keluarga akan sangat meragukan. Hal ini pun tak pelak menimbulkan dampak secara ekonomi baik bagi orangtua atau keluarga yang harus mengeluarkan biaya tambahan. Biaya tambahan yang berbeda meski bukan untuk pergi ke sekolah namun untuk menggunakan kuota. Di mana kita mengetahui dari total 250 juta penduduk Indonesia data terbaru menunjukkan bahwa 110 juta diantaranya ter kategori golongan menengah ke bawah yang akan sangat rentan di masa pandemi, hal ini pun dapat mengarah kepada kesulitan akses pendidikan selama belajar di rumah (cnnindonesia.com).

Laporan demi laporan masuk kedalam redaksi KPAI yang menceritakan keluhan baik dari sisi siswa ataupun dari sisi orang tua. Keluhan siswa berasal atau disebabkan oleh banyaknya tugas atau sulitnya tugas yang diberikan oleh guru atau sekolah. Tentu hal ini membuktikan bahwa siswa tidak bahagia. Tingkat laporan KPAI mengenai hal ini pun hingga mencapai lebih 200 laporan. Semua pun mulai menyorot pada pihak sekolah, diantaranya guru yang dianggap terlalu banyak memberikan tugas. Padahal guru-guru pun diberikan protokol mengenai tugas dan kurikulum yang harus dicapai serta senantiasa dilaporkan. Slogan merdeka belajar pun masih belum terlihat ketika guru-guru belum merdeka dalam memberikan pembelajaran.

Di sisi lain, Guru pun tidak tidak terlepas dari keluhan karena meskipun tidak terdengar sebanyak keluhan orang tua dan pelajar. Guru dalam kondisi wabah ini dituntut untuk mengajar secara online atau berteknologi sekaligus dituntut tetap mengikuti kurikulum yang ada. Dimana seperti yang kita ketahui bersama kurikulum 2013 yang menuntut siswa untuk berpikir kritis namun materi yang banyak pun sering menjadi halangan guru untuk menyampaikan sesuai dengan skill siswa. Tak jauh berbeda dengan kondisi saat ini guru tetap dalam pengawasan untuk mengajarkan sesuai dengan materi yang harus dicapai. Inilah yang menjadi bak bola salju yang bergulir kencang karena membuat siswa kesulitan dalam mengerjakan tugas yang di sebagian sekolah cukup banyak dan orang tua yang juga mengalami kesulitan dalam mendidik anak di masa belajar di rumah.

Orang tua sebagai tameng siswa di rumah pun pastinya juga tidak terhindar dari terkena imbasnya. Mulai dari uang kuota, waktu bekerja yang tersita oleh anak, ditambah dengan materi-materi yang juga tidak mudah diajarkan oleh semua orang. Meskipun banyak orang yang sadar bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi anak, namun tidak semua berjalan mulus dengan tuntutan ekonomi dan hidup keras yang harus mereka jalani untuk bertahan. Hasilnya, orang tua pun terlihat semakin merana, baik dari sisi psikis dan finansial.

Lalu, bagaimanakah seharusnya solusi terbaik dari sisi pendidikan ketika wabah datang pada suatu negeri?
Dalam kondisi wabah, sebenarnya Islam telah memiliki sejarah cemerlang dalam penanganannya. Untuk pencegahan, Islam terbiasa menetapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” HR Imam Muslim).

Berdasarkan kebijakan karantina wilayah yang diterapkan, maka belajar di rumah pun menjadi kebijakan yang harus diambil. Meski demikian, kondisinya tentu tidak seperti pelaksanaan belajar di rumah saat ini yang banyak menimbulkan kegaduhan, baik dari siswa, orang tua hingga guru. Karena dalam Islam pembelajaran akan sesuai dengan kurikulum pendidikan yang menekankan pada tsaqofah islam, life skill serta sains dan teknologi. Dalam sejarahnya sistem Islam mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak. Sehingga belajar di rumah saat wabah pun tak perlu memberikan dampak.

Pada akhirnya, kita sebagai muslim harus semakin tersadar untuk kembali kepada sistem Islam. Allah pencipta manusia adalah tempat manusia bergantung dan hanya aturan Allah yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat. Semoga wabah ini membawa spirit kuat bagi kaum muslim untuk membangun kesadaran, kecintaan dan semangat terhadap ilmu untuk kita semua. _Aamiin ya rabbal alamiin._

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *