Ketika Bencana Alam Kembali Melanda

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh Ai Hamzah

 

Musim hujan sudah tiba, kembali berita di tanah air pun dipenuhi dengan kabar berbagai bencana. Entahlah itu akibat dari luapan air sungai karena adanya penyempitan sungai, sehingga membanjiri lingkungan sekitarnya atau pun akibat tidak tertampungnya air karena drainase yang kurang, belum lagi adanya bencana tanah longsor, angin puting beliung yang merobohkan pohon pohon besar sehingga menimpa rumah atau kendaraan. Sepertinya bencana demi bencana ini akan terulang ketika musim hujan tiba.

Tampak dimedia televisi, masyarakat yang daerahnya langganan banjir bersiap siap untuk mengatasi bencana banjir ini, dengan meninggikan rumah mereka, membuat rumah bertingkat atau ketika hujan deras terjadi barang-barang berharga yang mereka miliki sudah disimpan diatas rumah mereka. Begitulah dari tahun ke tahun yang mereka lakukan. Agar mereka tetap bisa bertahan meskipun bencana banjir akan selalu mengahantui. Sehingga bencana tahunan ini menjadi kegiatan rutin yang akan mereka hadapi.

Khususnya di daerah Bogor, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Teofilo Patrocinio Freitas, mengatakan ada 25 titik bencana di Kota Bogor. Adanya titik bencana di 25 daerah tersebut merupakan dampak dari hujan deras yang berlangsung sejak pukul 15.00-16.51 WIB, pada Minggu (7/11/2021). Menurut Teofilo Patrocinio Freitas, dari laporan petugas lapangan, pendataan titik bencana belum selesai dilakukan sehingga jumlah tersebut kemungkinan bertambah. republika.co.id, Jakarta

Disebutkan hujan deras yang melanda di negeri ini akibat adanya La Nina. “Secara umum, jika La Nina terjadi dimusim hujan maka dampaknya akan lebih besar, khususnya pada wilayah yang bertipe iklim monsunal. Seperti mayoritas Pulau Jawa, sebagian Sumatera, Bali dan di sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT). Akibatnya, La Nina akan menjadikan musim hujan bertambah lama dan curah hujan akan lebih tinggi,” kata Dr Perdinan dalam rilis dari IPB University kepada bogor-kita.com, Jumat (6/11/2020).

Masih menurut Dr. Perdinan, Ia tak menampik bahwa dengan kondisi curah hujan yang lebih tinggi, potensi banjir bagi wilayah yang rentan juga semakin tinggi. Namun, Dr. Perdinan menilai La Nina tidak selamanya identik dengan banjir. Menurutnya, penambahan curah hujan tidak berarti harus selalu banjir. Fenomena ini juga dapat memberikan dampak positif sebab pasokan air menjadi lebih banyak.

Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 41

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar]”

Begitulah Allah berfirman bencana alam semata-mata akibat perbuatan tangan manusia, dimana drainase yang tidak mencukupi, banyaknya lahan yang disulap menjadi bangunan tinggi, tata ruang yang tidak ideal sehingga terjadi longsor, pegunungan yang menjadi lahan gundul, sampah yang menumpuk sehingga menghambat aliran suangai. Dan banyak lagi akibat penanganan penguasa yang tidak serius dalam hal ini.

Adapun Rasulullah SAW dan para sahabat sudah mengajarkan kepada umatnya, bagaimana menjadi penguasa yang senantiasa mengurusi urusan umat. Disini penguasa menjadi abdi umat, apalagi disaat umat tertimpa bencana maka penguasalah yang langsung menjadi penolong umat.

Wallahu alam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *