Kekerasan Masa Pacaran, Butuh Solusi Sistemik!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh Khaulah (Aktivis BMI Kota Kupang)

 

Tagar #savenoviawidyasari menjadi trending topik sejak Sabtu 04 Desember 2021. Hal ini lantaran adanya kasus bunuh diri seorang mahasiswi asal Mojokerto, Novia Widyasari Rahayu dengan menenggak racun. Ia diduga depresi karena pacarnya tidak bertanggung jawab dan memaksanya melakukan aborsi atas kehamilannya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Bintang Puspayoga menyebut kasus ini termasuk dalam kategori kekerasan dalam berpacaran atau dating violance. Beliau melanjutkan, dating violance adalah tindakan merugikan salah satu pihak, berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan hak secara sewenang-wenang kepada seseorang, terjadi di publik atau kehidupan pribadi (news.detik.com, Minggu 05 Desember 2021).

Merespons hal ini, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ahmad Sahroni meminta polisi mengusut dan menghukum tegas pelaku (jabarekspress.com). Bripda Randy Bagus selaku pacar korban akhirnya diproses secara hukum. Selain itu, pihak KemenPPPA menginformasikan bahwa membuka call center bagi perempuan atau anak yang menjadi korban kekerasan agar segera mendapatkan pertolongan.

Kasus bunuh diri seperti ini sejatinya telah lama dan kian marak. Ibarat gunung es, masih banyak kasus serupa yang tidak di-blow up media. Kasus ini terjadi sebagai puncak depresi akibat kekerasan di masa pacaran. Lantas, apa yang mesti dilakukan agar kasus ini dapat diberantas tuntas? Sudah tepatkah hanya dengan menghukum pelaku serta membuka call center bagi perempuan atau anak yang menjadi korban kekerasan?

Sejatinya, kasus ini tidak cukup dikawal dengan penangkapan sang pacar korban. Tetapi diperlukan solusi preventif, seperti memperbaiki tata pergaulan yang saat ini telah menjurus ke liberal. Dengan adanya definisi terkait kekerasan dalam berpacaran atau dating violance saja, mampu menyentak kita bahwasanya negeri ini melegalkan aktivitas pacaran dengan menekankan larangan kekerasan di dalamnya.

Kasus ini harus diberantas hingga ke akar-akarnya. Jangan sampai negara lalai. Jangan sampai negara abai. Jangan sampai persoalan ini dibiarkan, melebar tanpa solusi. Jangan sampai justru kasus ini memperbesar dukungan terhadap Permen dan RUU PPKS yang liberal. Jangan sampai! Karena pada hakikatnya, solusi liberal pasti menghasilkan lebih banyak masalah baru.

Solusi liberal yang lahir dari sistem kapitalisme yang diadopsi negeri kita hari ini tak mampu dan tak akan mampu selesaikan problematik yang ada. Ibarat mengisi air bersih di dalam wadah yang kotor dan bau, air tersebut akan setia kotor dan bau. Sama halnya dengan menangkap korban pelaku kejahatan/kekerasan seksual dan membuka call center bagi perempuan atau anak yang menjadi korban kekerasan tetapi setia dengan tata pergaulan liberal. Bagaimana kasus seperti ini akan surut jikalau muaranya senantiasa dibiarkan mengalir?

Sejatinya, kita butuh solusi sistemik. Islam dengan seperangkat aturan yang datang dari Zat Yang Maha sempurna, menata semua sisi kehidupan secara kafah. Aturan ini mencakup tata pergaulan, seperti larangan khalwat, ikhtilat, juga perintah menutup aurat. Pergaulan yang menghempas jauh nilai-nilai liberal. Negara Islam juga akan melarang media untuk menampilkan pornografi atau pronoaksi. Inilah langkah preventif/pencegahan yang diatur dalam Islam, sistem satu-satunya yang mesti kita ambil.

Selain itu, ada juga langkah kuratif/pengobatan, yang tegas dan memberi efek jera. Bagi pelaku zina yang belum menikah, maka dihukum cambuk seratus kali serta diasingkan selama satu tahun. Sedangkan bagi pelaku zina yang sudah menikah, maka dirajam atau dilempari batu hingga mati. Hal ini seperti yang difirmankan Allah Swt. dalam QS. An-Nur ayat 2.

Dengan penataan seperti ini, maka jelas kekerasan seksual akan diberantas tuntas. Tak seperti pada sistem kapitalisme yang justru memeliharanya. Oleh karena itu, Islam menjadi satu-satunya solusi paripurna dalam problematik ini (juga problematik lainnya).

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *