Islam Menyuburkan Cinta di Hati, bukan hanya di Februari

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Muthiah Raihana (Pembina Komunitas Mahasiswa Tanpa Pacaran)

 

 

Februari menjadi bulannya pemuja cinta di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Pada bulan tersebut pasangan yang saling mencintai mengekspresikan cinta dengan memberikan hadiah berupa coklat, bunga mawar, boneka dan aneka ragam lainnya. Bukan hanya saling memberi hadiah, mereka rela berbuat dosa dengan melakukan hubungan zina. Terang saja, di Amerika Serikat 14 Februari diperingati sebagai Nation Condom Week karena sadar pada hari itu banyak terjadi hubungan haram tersebut. Lantas Indonesia latah.

 

Terlepas dari fakta buruk yang ada, dan asal usul V-day yang bukan dari islam. Sebenarnya ekspresi cinta dalam islam, sangatlah dijaga. Bahkan islam satu-satunya yang menyuburkan cinta di hati setiap manusia, bukan hanya ada pada bulan Februari.

 

Definisi cinta, menurut Al-Baidhawi adalah keinginan untuk taat. Ibnu Arafah menyatakan, cinta menurut istilah orang arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya. Perasaan cinta adalah fitrahnya manusia yang sudah ada sejak kelahirannya didunia. Terkadang cinta yang bersifat naluri ini tidak berhubungan dengan pemahaman, seperti kecintaan pada keadilan, cinta pada keluarga, anak, kepemilikan, kelestarian diri dan sebagainya. Namun, ada perasaan cinta yang dituntut dengan pemahaman yang syar’i, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, cinta yang haqiqi dan selalu perlu di pupuk adalah cinta kepada Allah dan Rasulnya.

 

Al-Azhari berkata, “ Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Ridha terhadap segala perintah dan ajaran yang dibawa Rasul-Nya. sebagaimana pada  Q.S. Al Baqarah ayat 165:

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

 

Artinya: Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah.

Banyak ayat serupa lainnya yang memerintahkan setiap muslim untuk bertakwa pada Allah.. Bahkan dalam Q.S. At-Taubah ayat 24, tidak boleh cinta pada keluarga, pasangan, harta benda dan sebagainya melebihi cinta pada Allah dan RasulNya. Maka cinta yang ada di Februari merupakan cinta berupa ketaatan yang bukan pada tempatnya.

 

Para sahabat sangat bersungguh-sungguh untuk membuktikan cintanya, dengan berlomba-lomba ingin mendapatkan kemulian dimata Allah, bukan dimata manusia. Mereka ingin termasuk dalam golongan orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. salah satu kisah yang mashur yaitu ketika perang uhud Rasulullah terpojok sendirian bersama tujuh orang Anshar dan dua orang Muhajirin. Ketika musuh mendekat, Rasul bersabda, “ yang bisa menolak mereka maka akan menjadi temanku di syurga. Begitu seterusnya hingga terbunuh tujuh orang Ansar (HR. Muslim). Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi apa yang mereka cintai yaitu Rasulullah. Karena saat mendudukkan cinta pada tempat yang benar hanya kepada Allah dan Rasul, maka disana ada ampunan, ridha dan pahala dan Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana dalam TQS. Ali Imran ayat 31 yang berbunyi Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Islam adalah agama yang penuh cinta, karena banyak perintah yang menuntut hamba menyuburkan cinta pada makhluk yang ada disekitarnya, dalam berbagai tatanan kehidupan. Seperti perintah saling memberi hadiah, berbuat baik pada tetangga, berbakti pada orangtua, silaturahim, silahukhuwah, saling tolong menolong karena umat muslim bagaikan satu tubuh. Bahkan berbuat baik juga diperintakan pada hewan dan tumbuhan dengan merawat, menjaga, pun saat penyembelihan hewan Qurban dengan pisau yang tajam agar tidak menyakti, MasyaAllah. Dan banyak lagi perintah di Qur’an maupun Sunnah.

 

Islam juga memuat syariat berupa larangan untuk menjaga cinta, seperti larangan mencela, mengolok-olok, mencuri, membunuh tanpa hak dan sebagainya. Inilah cinta haqiqi pada ilahi Rabbi yang semestinya senantiasa kita tumbuh suburkan dalam hati. Bukan cinta palsu  dengan kebahagiaan semu di bulan Februari. Sungguh, Islam menyuburkan cinta yang berbuah Bahagia di dunia dan menghantarkan pelakunya ke syurga.

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *