Islam Menjaga Generasi dari Jeratan Pornografi

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Islam Menjaga Generasi dari Jeratan Pornografi

Rina Karlina

Kontributor Suara Inqilabi

Kini, mudahnya akses video porno melalui aplikasi dan website sangatlah meresahkan masyarakat, dikarenakan korban utama dari tayangan tidak bermoral ini adalah remaja hingga anak usia dini. Dilansir dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Hadi Tjahjanto menyatakan, pihaknya bakal membentuk satuan tugas (Satgas) untuk menangani permasalahan pornografi secara online yang membuat anak-anak di bawah umur menjadi korban. Menurut dia, rata-rata usia anak-anak yang menjadi korban aksi pornografi secara online itu mulai dari 12-14 tahun. Namun, ada juga anak-anak yang masih duduk di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan kelompok disabilitas yang juga menjadi korban tindakan asusila. “Termasuk anak didik kita yang ada di pondok pesantren yang sering menjadi korban, dan pelakunya adalah justru orang yang dikenal dan orang dekat,” kata Hadi saat konferensi pers di Kantor Kemenkopolhukam, REPUBLIKA.CO.ID Jakarta, Kamis (18/4/2024).

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mengatasi kasus narkolema (narkoba lewat mata) di kalangan remaja saat ini. Pertama, adanya pengontrolan dari orang tua kepada anak dalam hal penggunaan smartphone atau gadget. Orang tua dituntut untuk bisa mengetahui apa saja yang sering diakses oleh anak di dalam gadgetnya dan mengarahkan mereka. Penting pula, orang tua membangun dan menjaga komunikasi, memberikan perhatian penuh seperti kepedulian dengan selalu bertanya atau ngobrol dengan anak, agar anak dapat terbuka dan membangun rasa percaya pada orang tua dan keluarganya.

Kemudian, menghilangkan sifat apatis masyarakat. Kini banyak dari masyarakat kita yang tidak peduli terhadap orang lain, ketika melihat orang lain bermaksiat, muncul rasa enggan untuk mengingatkan, dan mereka malas untuk saling menasehati kepada kebaikan.

Sikap individualisme seperti ini sangatlah tidak baik, karena bisa menimbulkan kemudharatan hingga banyak korban yang masuk ke lubang kemaksiatan. Sekarang, tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh para remaja, dikarenakan remaja kecanduan konten pornografi dan tidak ada aktivitas saling mengingatkan tentang keharaman melihat konten tersebut. Oleh karena itu aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar harus berjalan ditengah-tengah masyarakat.

Terakhir, negara bertanggungjawab dalam menjaga masyarakat khususnya generasi muda agar tidak dapat mengakses konten porno secara bebas lagi. Negara seharusnya berusaha lebih keras untuk dapat memberantas penyebaran pornografi. Namun disamping itu, fakta berbicara bahwa akses pornografi sebenarnya menghasilkan keuntungan bagi negara. Sehingga posisi negara kini dilema antara memikirkan masa depan generasi atau masa depan negara dengan keuntungannya. Maka semakin sulitlah bagi negara untuk bisa menghapus tuntas data pornografi yang bisa diakses bebas. Ini membuktikan gagalnya negara dalam mengurus generasi muda, mulai dari memperbaiki mental, pendidikan, dan juga keimanan.

Berbeda halnya dengan negara bersistemkan Islam dalam menjaga dan mengurus generasi muda. Islam sangat menjaga baik generasi muda dari segala aspek. Baik dari segi menjaga tontonan, aktivitas dalam keseharian (akhlaq), dan juga pendidikan agama yang maksimal diberikan oleh negara secara murah bahkan gratis. Seperti yang sudah tercatat dalam sejarah ketika Islam memimpin dunia. Banyak generasi muda tangguh yang menjadi salah satu tonggak dan tolak ukur kemajuan peradaban Islam pada saat zaman Rasulullah SAW.

Jika ingin melihat masa depan Islam, maka lihatlah generasi muda Islam hari ini. Mereka diombang-ambing dalam pusaran kemaksiatan yang sistemik. Dan tidakkah kita menginginkan para generasi muda saat ini sama hebatnya seperti generasi muda di zaman Rasulullah SAW? Maka mestilah menjadi tugas utama bagi pihak yang terkait baik individu (keluarga), masyarakat, dan negara untuk bisa merubah generasi muda saat ini yang sedang rapuh menjadikan generasi yang kokoh dan berkepribadian Islam. Tentunya dengan menggunakan arah pandang, pemikiran, perasaan, dan peraturan Islam. Tidak ada yang lain, dan tidak dengan cara yang lain.

Wallahu a’lam bish-shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *