Hilangnya Kemuliaan Agama Akibat Penistaan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Ummu Nadief (Aktivis Muslimah)

 

Ironis, penistaan agama terus berulang di negeri yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Kali ini dilakukan oleh seorang youtuber bernama Muhammad Kece atau MK yang mengaku telah pindah agama dari Islam ke Kristen sejak 2014 lalu. MK dengan sadar sudah berani menyinggung Nabi Muhammad saw., menghina, dan merendahkan Al-Qur’an.

Pakar hukum pidana, Suparji Ahmad menjelaskan, bahwa ucapan youtuber MK dalam kalimat yang menunjukkan penistaan agama tersebut, telah memenuhi unsur No. 156a KUHP. republika.co.id (22/08/2021). Suparji berharap pihak kepolisian segera menindak tegas pelaku, agar tidak ada ruang bagi penista agama di Indonesia. Meresahkan masyarakat khususnya umat muslim, memicu kegaduhan, dan juga perpecahan.

Fenomena berulangnya kasus penistaan agama membuktikan kegagalan sistem negeri ini dalam menjaga kehormatan agama. Demokrasi yang mengadopsi liberalisme menjunjung tinggi kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, serta kebebasan kepemilikan dijamin dalam sistem ini. Tak terkecuali penghina Nabi saw. turut terkena imbasnya, sehingga pelakunya tidak dapat ditindak tegas. Akhirnya penistaan terhadap agama terus menjamur.

Sangat jauh berbeda keadaannya, jika Islam yang dijadikan panduan dalam menetapkan hukum. Dalam Islam, agama adalah sesuatu yang wajib dijaga dan dimuliakan. Sebab, itu salah satu tujuan diterapkannya syariat Islam. Sanksi tegas yang diterapkan negara akan memberi efek jera bagi pelaku pelanggaran syariat, termasuk bagi para penista agama. Di samping itu pun menjadi pembelajaran bagi masyarakat, sehingga kasus tersebut tak selayaknya dilakukan.

Inilah wajah asli demokrasi sebagai ide yang berseberangan dengan Islam. Aktivitas yang nyata-nyata menabrak batasan syariah Islam pun terlindungi atas nama kebebasan, tidak boleh dibatasi. Kemuliaan Rasulullah saw. tak terjaga, agama bukan prioritas untuk dibela, dan kaum muslim kembali dihinakan. Bahkan ketika kasus penghina Nabi saw. dilaporkan kepada penguasa, sanksi yang dijatuhkan tidak mampu memberi efek jera.

Sekadar mimpi, jika kita masih berharap akan ada perubahan pada kondisi yang lebih baik, melalui sistem demokrasi saat ini. Berharap hukum ditegakkan dengan penuh keadilan bagi pelaku penista agama, hanyalah mimpi di siang bolong.

Sudah saatnya umat bangkit melakukan perubahan, dengan kembali mengambil rujukan sistem Islam untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan yang mampu menjamin kemuliaan agama dan seluruh kaum muslimin di dunia.

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *