Hati-hati Desakralisasi Al-qur’an

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Hati-hati Desakralisasi Al-qur’an

Oleh Aisyah Yusuf

(Pendidik generasi dan Aktivis Subang)

Berulang kali kau menyakiti
Berulang kali kau khianati
Sakit ini coba pahami
Ku punya hati bukan tuk disakiti
(Lirik :Judika. “Bukan aku tapi dia”)

Lirik tersebut menceritakan tentang betapa sakitnya hati ketika dikhianati atau dicoreng oleh seseorang yang pernah dekat. Dan ini pula lah yang sedang dirasakan kaum muslimin saat ini.

Yakni ketika menyaksikan kondisi umat saat ini, dikhianati dan dicoreng oleh saudara kita sendiri.

Dalam waktu dekat ini kita disodorkan sebuah peristiwa yang sungguh mengagetkan, yakni seorang qoriah yang sedang membaca Al-qur’an disawer oleh dua orang pemuda, bak artis dangdut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi pada acara peringatan hari besar Islam (PHBI), di wilayah Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, pada 20 Oktober 2022 tahun lalu. (serambinews.com, 7/01/2023)

Dari peristiwa tersebut banyak mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, salah satunya adalah dari MUI (Majlis Ulama Indonesia)
Cholil Nafis menegaskan perbuatan qoriah disawer tersebut sangat bertentangan dengan ayat-ayat Al Quran sehingga layak untuk dikecam. Ia mendorong agar ulama dan masyarakat untuk menolak serta tidak menganggapnya sebagai sebuah tradisi.

“Mohon ulama dan tokoh masyarakat menolak ini dan jangan menganggap ini tradisi yang baik. Jelas cara ini bertentangan dengan ayat-ayat yang dibaca qoriah,” katanya. Tak hanya itu, Cholil juga meminta agar qari atau qariah mengambil sikap untuk berhenti membaca ayat suci Alquran bila tindakan sawer itu terjadi. (cnnindonesia.com, 5/01/2023)

Peristiwa tersebut merupakan sebuah tindakan pelecehan dan desakralisasi terhadap Al-qur’an.

Benarlah kata ulama dahulu, adab dulu sebelum Ilmu. Sebab jika dilihat dari sisi penampilan sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berilmu namun minim dalam adab. Sehingga mereka lupa akan adab terhadap Al-qur’an, baik ketika mendengar atau membacanya, dan yang seharusnya dijunjung tinggi.

Dilihat dari sisi definisi, desakralisasi secara bahasa ialah menghilangkan kesakralan, atau kegiatan memusnahkan sifat sakral (Suci).

Adalah suatu hal biasa dalam sistem sekuler peristiwa tersebut terjadi, sebab sekuler adalah memisahkan agama dari kehidupan, bahkan. mereka secara tidak langsung ingin meniadakan agama. Sehingga individu diberikan kebebasan dalam berprilaku.

Dengan kebebasan berprilaku inilah akhirnya melahirkan individu-individu yang tak beradab jauh dari norma agama dan hanya mementingkan materi semata, karena dengan saweran tersebut menggambarkan bahwa qoriah tersebut bisa dinilai dengan uang.(naudzubillah).

Islam sangat menjaga dan memuliakan Al-qur’an, karena Al-qur’an adalah kalam Allah yang pasti kebenarannya.
Dan Islam telah mengatur jika dibacakan Alquran, kita diperintahkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik di dalam sholat maupun di luar sholat.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam firman Allah Swt.

“Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat. (QS Al Araf ayat 204)

Tafsir Kementerian Agama menerangkan, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ayat ini diturunkan karena sahabat sholat di belakang Rasulullah Saw. sambil berbicara. Allah Swt. dalam ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman agar mereka memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada Alquran.

Hendaklah mereka mendengarkan sebaik-baiknya lantunan ayat Alquran atau memahami isinya, mengambil pelajaran-pelajaran dari padanya dan mengamalkannya dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اسْتَمَعَ إلى آيَةٍ من كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى كتب له حَسَنَةٌ مُضَاعَفَةٌ ، وَمَنْ تَلاَهَا كانت له نُوراً يوم الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa mendengarkan (dengan sungguh-sungguh) ayat dari Alquran, dituliskan baginya kebaikan yang berlipat ganda dan barangsiapa membacanya adalah baginya cahaya pada hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA)

Hendaklah orang-orang Mukmin itu bersikap tenang sewaktu Alquran dibacakan, sebab di dalam ketenangan itulah mereka dapat merenungkan isinya. Janganlah pikiran mereka melayang-layang sewaktu Alquran diperdengarkan, sehingga tidak dapat memahami ayat-ayat itu dengan baik.

Demikianlah adab dalam mendengarkan Al-qur’an, dan ini hanya ada pada orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Sebagaimana firman Allah Swt.

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka”. (TQS. Al-anfal : 2).

Hanya dalam naungan sistem Islam akan tercipta individu-individu bertaqwa, sehingga Al-qur’an terjaga dan terlindungi juga akan terwujud ketenangan bagi para pembacanya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *