Eksploitasi Kemiskinan Berbasis Teknologi Demi Cuan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Eksploitasi Kemiskinan Berbasis Teknologi Demi Cuan

Oleh Neni Resmi
(Aktivis Muslimah Kabupaten Bandung)

Seiring perkembangan teknologi, berkembang pula cara dan strategi dalam meraup cuan. Belakangan platform media sosial tiktok ramai dengan aksi “pengemis online”. Aksi mereka yang mengguyur diri sendiri dengan air hingga mandi lumpur inipun mulai meresahkan warganet. Para “pengemis online” ini memanfaatkan fitur gift di tiktok yang bisa di tukarkan dengan uang. Satu koin tiktok setara Rp250,00. Adapun hadiah di tiktok dibuat dalam beberapa jenis dengan nilai yang berbeda. Ikon mawar, misalnya, setara 1 koin, sedangkan singa setara 29,999 koin. Aksi mengemis online ini seakan telah menjadi mata pencaharian yang sedang trend di media sosial. Mengapa bisa begitu?

Menanggapi fenomena ini, Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik, Kominko, Usman Kansong menyampaikan, konten tersebut belum termasuk konten yang terlarang atau negatif yang diatur dalam pasal 40 ayat 2a UU Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE).

Respon lainnya juga datang dari Menteri Sosial, Tri Rismaharini. Ia mengaku akan menyurati pemerintah daerah untuk menindak hal tersebut. Risma menegaskan bahwa tidak hanya secara online, pengemis konvensional di jalan-jalan juga dilarang oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) dan Peraturan Daerah (Perda) (cnnindonesia.com, 15/01/2023).

Konten pengemis online yang sedang trend sejatinya tidak muncul tiba-tiba ada banyak faktor penyebab terjadinya fenomena ini.

Pertama, eksploitasi kemiskinan dengan menjual kesedihan dan nasib malang. Kemiskinan membuat seseorang bisa berbuat apa saja asal menghasilkan uang. Mereka rela merendahkan diri, harkat, dan martabatnya sebagai manusia hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kedua, tuntutan gaya hidup. Sebagaimana konsep ekonomi kapitalisme, modal sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Ketiga, Kapitalisme memberikan visi misi hidup manusia yang semestinya untuk beribadah kini hanya bertujuan untuk mencari kesenangan materi sebanyak-banyaknya.

Keempat, fenomena pengemis online secara tidak langsung telah mengonfirmasi lemahnya fungsi negara dalam menyelesaikan kemiskinan yang sudah menjadi problem menahun.

Bagaimana Menurut Pandangan Islam?

Islam melarang meminta-minta, sebagaimana sabda Nabi SAW,

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaan, sesungguhnya ia telah meminta bara api. Terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyak nya,” (HR Muslim no 1041).

Dalam hadits tersebut sudah cukup menunjukan sikap seorang muslim yang seharusnya ketika diuji dengan ekonomi sulit, yaitu tetap melakukan ikhtiar bekerja dalam menjemput rezeki tanpa harus meminta-minta.

Fenomena pengemis online seharusnya tidak pernah ada jika negara benar-benar menjalankan fungsi dan pengurusannya kepada rakyat dengan baik dan amanah.

Langkah Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah/Negara?

Pertama, negara mengedukasi dan mendidik masyarakat agar tertanam kesadaran untuk menjaga martabat dan kemuliaannya dengan senantiasa terikat aturan Allah SWT.

Kedua, atmosfer saling menasehati dalam kebaikan antar anggota masyarakat harus menjadi kebiasaan. Masyarakat harus paham bahwa berdakwah adalah kewajiban bagi setiap hamba.

Ketiga, negara memenuhi kebutuhan pokok masyarakat seperti sandang, pandang, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Pemenuhan ini bukan dengan cuma-cuma tetapi memudahkan masyarakat untuk mencari nafkah dengan membuka lapangan pekerjaan.

Fungsi negara ialah menjamin pemenuhan dan pelayanan kepada rakyat dengan optimal dan maksimal. Jika individu, masyarakat dan negara menjalankan fungsinya dengan baik, kemiskinan bisa terminimalisir. Tidak akan ada fenomena pengemis jalanan atau online.

Dengan penerapan Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan, hidup menjadi berkah. Visi-misi hidup manusia pun akan kembali pada jalan sebenarnya yaitu meraih ridlo Allah SWT. dengan taat beribadah kepada-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *