Dibalik Reforma Agraria

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Umi Rifdah (Sambas-Kalbar)

 

Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (Hantaru) 2021, sebuah momentum untuk fokus melaksanakan beberapa program pemberdayaan kepada masyarakat. Demikian informasi dari Kepala Kantor ATR/BPN Kabupaten Sambas Yuliana, S.H., M.Eng (23/9). Pada acara tersebut ada penyerahan sertifikat oleh Presiden RI di Istana Bogor disertai dengan penyerahan di 26 Provinsi dan 126 Kabupaten/Kota se-Indonesia. Berarti telah menyelsaikan target PTSL 6 (RM dan PHLN), redistribusi tanah, konsolidasi tanah, pemberdayaan masyarakat, penyelesaian konflik dan sengketa pertanahan antara masyarakat dan HGU.

Terkait Pembagian sertifikat gratis semata-mata tak hanya gratis dari mulai pembelian tanah dan lain-lain. Hal ini hanyalah pemanis bagi penguasa saat ini yang seakan-akan pemerintah pro dengan rakyatnya. Padahal pada faktanya tetap saja tanah yang memiliki sertifikat itu adalah tanah yang dibeli oleh masyarakat, bukan pemberian cuma-cuma oleh pemerintah.

Dibalik program Reforma Agraria yang sedang berlangsung, di lapangan juga terlihat alot pada sisi teknisnya. Dikarenakan pemerintah harus berhadapan dengan para korporasi. Dan yang pastinya para korporasi ini tak akan dengan mudah untuk meredistribusikan kepemilikan tanah ini kepada masyarakat. Pasti akan ada deal-deal antara penguasa dan korporasi.

Berbeda dengan Islam dalam mengatur keberadaan tanah. Tanah yang kosong tidak akan dibiarkan hingga tidak produktif. Ada kebijakan dari khalifah nanti yang akan mengalihtangankan posisi tanah ini untuk dikelola oleh masyarakatnya agar bisa produktif. Dan hal ini pun tidak memerlukan prosedur panjang.

Khilafah Islam tidak mentoleransi korporasi yang kemudian mengkapitalisasi kepemilikan tanah sebagaimana yang terjadi saat ini. Sehingga pemerataan dan produktifitas tanah betul-betul dikelola masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat. Hasil panen dari kelolaan masyarakat ini, dibeli oleh negara dan negara akan mendistribusikan secara merata ke seluruh masyarakat di wilayah kekuasaan Islam.

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *