DEMO PRO PALESTINA DAN IDE HAM DI KAMPUS DUNIA BARAT

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

DEMO PRO PALESTINA DAN IDE HAM DI KAMPUS DUNIA BARAT

Salsabila 

Kontributor Suara Inqilabi

 

Dalam beberapa waktu terakhir ini, terjadi demontrasi Pro Palestina di kampus-kampus dunia barat yang sangat cepat meluas bagaikan gelombang tsunami. Demonstrasi ini bermula dari Columbia University pada bulan April lalu dan menyebar ke kampus lain, bahkan kampus di beberapa negara-negara Eropa hingga Asia-pun mengikuti langkah tersebut. (CNBC Indonesia/11 Mei 2024)

Para pengunjuk rasa di sejumlah kampus di Amerika Serikat itu berasal dari mahasiswa dan dosen dari latar belakang semua agama, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Titik temu yang menyatukan mereka melakukan demo Pro Palestina dan menentang Perang Gaza lebih disatukan oleh isu kemanusiaan daripada isu politik.

Sejumlah tuntutan diserukan baik kepada pemerintah dan pihak kampus. Diantaranya penghentian bantuan militer Amerika ke Israel, percepatan gencatan senjata permanen untuk menekan bertambahnya korban di Palestina hingga pelepasan sandera serta tuntutan utama yang digaungkan kelompok mahasiswa ialah divestasi pihak universitas dengan Israel.

Dan aksi demo Pro Palestina pun menuai reaksi, sebagian para pengunjuk rasa mendapat sanksi disipliner dan skorsing dari pihak kampus, sekitar 2000an di tangkap polisi. Bahkan Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan bahwa akan mengusir mahasiswa di Amerika Serikat yang pro-Palestina jika dia terpilih kembali menjadi pemimpin Negeri Paman Sam dalam pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Standar Ganda Ide HAM di Kampus AS

Universitas sebagai Institusi Pendidikan yang mengajarkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia dan memberikan penghargaan atas hak-hak dasar kemanusiaan yang dibawa sejak lahir sehingga seseorang tidak boleh dibedakan atas dasar ras, warna kulit, bahasa, agama, politik, kewarganegaraan, kekayaan, kelahiran, dan sebagainya. Dengan prinsip membiarkan seseorang melakukan apa yang ia yakini dan siapa pun boleh berpendapat apa pun yang ia inginkan, meskipun pendapatnya berbeda dengan pendapat orang lain. Namun, hal tersebut realistasnya sangat kontradiktif. Hal ini bisa kita lihat dari sanksi yang telah diberikan kampus kepada sebagian para pengunjuk rasa Pro Palestina.

Bahkan peristiwa genosida oleh zionis Israel di Palestina telah membuka adanya standar ganda nilai-nilai HAM yang dilakukan Amerika Serikat. Diantaranya adalah Amerika Serikat secara resmi mengeluarkan pernyataan yang mengecam invasi Rusia ke Ukraina sebagai pelanggaran atas hukum internasional, memberikan sanksi ekonomi dan Amerika juga bekerja sama dengan sekutu internasional mengecam tindakan agresif Rusia.

Sikap tegas Amerika juga dapat dilihat ketika Tiongkok melakukan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur. Pernyataan mengecam, sanksi ekonomi hingga upaya diplomatik untuk mendesak Tiongkok agar mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur secara konsisten dilakukan oleh Amerika.

Namun sikap berbeda justru ditunjukkan Amerika Serikat dalam konflik zionis Israel dengan Palestina. Puluhan ribu warga Palestina yang menjadi korban nyatanya belum cukup untuk menghentikan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel bahkan penyerangan yang dilakukan Israel ke rumah sakit, yang notabenenya telah melanggar hukum humaniter internasional pun tetap tidak membuat Amerika untuk bersikap tegas menjunjung hukum internasional seperti sikapnya dalam konflik internasional lainnya.

Bahkan Amerika Serikat melalui DPR-nya menyetujui rancangan undang-undang (RUU) mengenai bantuan dana perang miliaran dollar untuk Israel yang masih terus menyerang wilayah Gaza, Palestina secara brutal sampai saat ini.

Hipokrit Demokrasi

Demokrasi yang dekat dengan semboyan “kebebasan, persamaan dan persaudaraan” dalam prakteknya selalu menyisakan ironi. Demo Pro Palestina di kampus untuk membela hak dari warga yang dijajah tanahnya dan terbukti genosida justru direpresi. Selain itu, Amerika Serikat yang dianggap sebagai kampiun sekaligus pendekar demokrasi dan selalu membangga-banggakan diri sebagai negara paling demokratis di dunia dan pejuang HAM yang hebat, namun faktanya Amerika Serikat membuktikan dirinya sebagai negara paling tidak demokratis dengan menjadi penyokong utama perampasan atas tanah Palestina sekaligus pembantaian ratusan ribu penduduknya oleh zionis Israel sejak pendudukannya. Realita ini telah menunjukkan wajah demokrasi yang hipokrit.

Solusi Islam

Penjajahan Zionis Israel kepada Palestina, semakin hari semakin kejam, sadis dan bengis. Dengan kecanggihan teknologi informasi saat ini, menjadikan siapa pun akan mudah mengetahui kondisi yang terjadi di sana. Namun sekalipun jutaan orang telah mengetahuinya tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya yang bersifat kemanusiaan saja.

Dan jangan lagi berharap pada lembaga dunia seperti PBB. Hadirnya PBB tidak berpengaruh apa pun pada Palestina. Lihatlah kepongahan Zionis Israel yang mempermainkan lembaga ini dengan sesuka hati. Dewan Keamanan PBB juga mandul dalam peran sentral Amerika Serikat di lembaga tersebut. Selain itu, keanggotaan Indonesia sebagai anggota DK PBB tidak berimplikasi apa pun terhadap perilaku Zionis Israel. Hanya kecaman yang selalu disampaikan tetapi minim hasil. Zionis Israel tetap melakukan genosida warga Palestina,

Islam mempunyai solusi yang komprehensif masalah Palestina adalah masalah kaum muslim. Tidak boleh ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti zionis Israel. Oleh karena itu, sikap seharusnya terhadap Zionis Israel yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah Swt. perintahkan, yakni perangi dan usir!

Sebagaimana firman-Nya, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum mukmin.” (QS At-Taubah [9]: 14).

Harus ada kekuasaan Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah. Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain Khilafah Islamiah. Dengan Khilafah, sekat bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan mewujud, akidah Islam menjadi fondasi kekuatan Islam. Khalifah akan menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam.

Sepanjang sejarah, Khilafah mampu menjaga dan melindungi Palestina hingga tiga agama di sana, yakni, Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan secara damai lebih dari ratusan tahun lamanya.

Hanya jihad dan Khilafah solusi fundamental untuk Palestina dan negeri muslim lainnya yang masih terjajah.

Wallahu’alam bish-shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *