Bingkisan Kapitalis dalam Pendidikan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Arrasy Nur Illahi (Aktivis Mahasiswi IKIP Siliwangi)

Pendidikan merupakan cara untuk membentuk generasi cemerlang guna menyongsong kehidupan di masa depan yang gemilang.

Namun nasib pendidikan hari ini didesign guna untuk melancarkan kebutuhan industri seolah-olah genrasi emas dipesan layaknya barang untuk memenuhi kebutuhan asing.

Hal ini diungkap melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan memulai gerakan ‘Pernikahan Massal’ (Link and Match)

Dan program tersebut akan menikahkan pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

Hal ini diluncurkan agar kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja,” tutur Wikan kepada Kagama, Selasa (26/5/2020).

Padahal hakekat pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang lebih baik lagi di masa depan bukan untuk menjadi kacung bagi asing dan aseng.

Mirisnya lagi pendidikan di sistem ini tak tentu arah dapat kita lihat bahwa kurikulum pendidikan sudah 11 kali mengalami perubahan. Dengan berubah-ubanya ini membuat para pendidik kebingungan bahkan genrasi muda pun seolah menjadi korban bagai tikus percobaan karena arah pendidikan yang tak jelas ini.

Ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang tinggi membuat banyak orangtua kelabakan untuk membiayi sekolah, memang pemerintah telah memberikan subsidi namun hal itu hanya berpengaruh sebagian kecil saja bahkan mungkin tidak sama sekali mengingat banyaknya koruptor yang rakus memakan uang rakyat.

Masalah pendidikan di bumi pertiwi ini bukan hal yang bisa disepelekan dan muda untuk diubah-ubah karena pendidikan adalah akar penentu manusia seperti apa yang akan dicetak nantinya.

Dengan diadakannya program ‘link and match’ ini seolah-olah pendidikan hanya ditujukan untuk kerja saja tanpa memperhatikan bagimana moral anak bangsa.

Maka hal yang wajar, generasi hari ini mempunyai nilai akademik tinggi namun miss dalam adab dan kesopan, bahkan mereka terjerembab pada hedonisme, pergaulan bebas, penyimpangn seksual, narkoba, kekerasan, plagiarisme dan itu semua adalah hasil dari pendidikan disistem ini.

Sungguh meprihatinkan ditambah lagi negara abai dalam mengurus urusan rakyat dan untuk menutupi hal itu mereka menyodorkan pernikahan paksa kepada asing dengan menjodohkan pendidikan dengan industri dan dibungkus dengan kurikulum ‘merdeka belajar’.

Apa bisa dikatakan merdeka belajar? Jika pendidikan disetting sesuai kebutuhan asing? Yang jelas kebijakan pendidikan hari ini berteman akrab dengan hitung-hitungan ekonomi. demi menunjang peningkatan kemampuan produksi,  mendorong investasi dan industrialisasi.

Bahkan segala upaya mendorong perguruan tinggi untuk mengejar target world class university, serta wacana Revolusi Industri 4.0 di tengah rancangan kampus merdeka,

Dan faktanya hal ini sejalan dengan proses kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi. Dimana rezim penguasa berparadigma sekuler kapitalis liberal, lazim berkolaborasi dengan kekuatan korporasi.

Walhasil arah pendidikan dalam sistem ini hanya dapat menghasilkan manusia pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi industri raksasa milik negara adidaya yang hanya mencatak generasi pengekor Bukan sebagai pembangun peradaban cemerlang. Dengan begitu tak sadar melangengkan penjajahan kasat mata di Nusantara ini.

Berbeda halnya dengan sistem islam yang mempunyai visi dan misi yang jelas dalam hal pendidikan yaitu tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala.

Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Akidah inilah yang menjadikan kehidupan ini tak hanya bersifat profan. Tapi punya dua dimensi yang satu sama lain saling menguatkan. Yakni dimensi keduniawian dan keakhiratan.

Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Kemudian dalam sistem islam ini support negara itu maksimal.
Hingga para guru, para ilmuwan dan peneliti diapresiasi dengan gaji dan insentif yang tinggi.

Begitupun dengan para siswanya. Merekapun diberi fasilitas serba gratis, yang membuat mereka benar-benar fokus dalam tugasnya masing-masing. Baik sebagai pendidik dan arsitek generasi, maupun sebagai pembelajar yang siap berkhidmat untuk umat saatnya nanti.

Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan.

Sehingga institusi pendidikan, negara, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan dalam mewujudkan dan menjaga generasi cemerlang.

Inilah rahasia di balik tegaknya peradaban Islam yang demikian gemilang. Belasan abad, umat Islam menjadi trensetter dalam segala aspek kehidupan.

Bahkan saat itu, sistem pendidikan Islam yang disupport oleh penerapan syariah kaffah oleh institusi khilafah, mampu tampil sebagai mercusuar kebangkitan pemikiran di dunia Barat. Padahal kala itu Barat sedang diliputi kejahiliyahan akibat dominasi kejumudan dan doktrinasi agama yang menjauhkan umat dari tradisi berpikir cemerlang.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *