Biaya Kuliah Sulit, Pendidikan Tinggi Hanya untuk Kalangan Elit Saja?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Biaya Kuliah Sulit, Pendidikan Tinggi Hanya untuk Kalangan Elit Saja?

Oleh: Riskah Iskandar

Akhir Akhir ini ramai diperbincangkan tentang kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di berbagai PTN di Indonesia, setidaknya ada 13 PTN yang sempat menaikkan UKT tahun ajaran 2024, diantaranya Universitas Jendral Soedirman, Universitas Sebelasa Maret (UNS), Universitas Sumatera (USU), Universitas Gadjah Madah (UGM), Universias Brawijaya (UB), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Riau (UNRI), Univeritas Negeri Malang (UM), Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Yokyakarta. (tribun.news, 27/5/24)

Di Universitas Riau sendiri ada sekitar 50 orang calon mahasiswa baru (Camaba) yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) namun, memilih mungundurkan diri karena tidak mampu membayar UKT (Kompas.com, 20/5/24). Salah satunya adalah Siti Aisyah yang sebelumnya dinyatakan lulus jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau dan terpaksa mundur karena harus membayar UKT golongan 4 yakni Rp3,5 juta per semester. Padahal Siti berasal dari keluarga tidak mampu (sindonews.com, 23/5/24).

 

“Sesungguhnya yang berhak mendapatkan pendidikan tinggi ialah yang memiliki uang, adapun yang tidak memiliki uang silahkan ujuk gigi”

Kira-kira inilah statment yang sangat relate dengan pendidikan hari ini, padahal kalau kita telaah lebih dalam pendidikan di Indonesia sendiri adalah amanah dari UUD 1945 sebagaimana yang termaktub dalam teks UUD 1945 “Dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa” artinya pendidikan adalah hak seluruh warga negara.

 

Namun melihat kenaikan UKT ini sangat kontradiktif sebagaimana isi dari UUD 1945, bagaimana tidak, kenaikan UKT mengakibatkan hanya kalangan elit saja yang dapat mengakses pendidikan tinggi, sedangkan kalangan menengah kebawah sangat sulit mengaksesnya, impacnya negeri ini akan kekurangan generasi yang terdidik yang kemudian akan melanjutkan estapet kepemimpinan bangsa ini. Alhasil negeri ini sangat berpotensi menjadi jajahan bangsa-bangsa lain.

 

Pertanyaannya adalah, kenapa pendidikan hari ini dan biaya kuliah begitu tinggi? Jawabannya adalah karena pendidikan hari ini berada dibawah tata kelolah yang liberalisme kapitalistik.

Dalam sistem Kapitalisme Liberalisme, semua lini sektor layanan publik termaksud pendidikan dipandang sebagai ladang bisnis, pendidikan dianggap sebagai barang komoditi yang diperjual belikan atau Komersialisasi pendidikan guna mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Komersialisasi pendidikan mutlak dalam sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di negeri ini.

 

Komersialisasi pendidikan semakin nyata dengan adanya ordinasi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH). PTN-BH sendiri merupakan perguruan tinggi yang didirikan oleh Pemerintah dan memiliki status sebagai badan hukum yang otonom atau mandiri. Sederhananya PTN-BH ini adalah bentuk lepas tanggung jawab pemerintah terhadap sektor pendidikan dengan memberikan otonomi yang luas dalam mengatur rumah tangganya sendiri, Misalnya, PTN yang berstatus PTN-BH dapat membuka program studi baru atau menutupnya ketika dianggap tidak lagi dibutuhkan. Begitupun dalam urusan keuangan, kepegawaian juga diatur sediri. Namun disisi lain adanya pengurangan dana subsidi dari pemerintah, ketika subsidi mulai dikurangi, dengan pemberian kuasa termaksud pemasukan untuk mengatur keuangan kampus termaksuk pemasukan pembiayaan gaji dosen, fasilitas kampus dan lain sebagainya. Maka salah satu jalan yang dirasa efektif dan efisien adalah dengan menaikkan biaya kuliah termaksud UKT dan uang pangkal. Kalaulah biaya pendidikan ini semakin tinggi dan sulit artinya pendidikan kemungkinan menjadi bahan eksklusif. Jadi yang bisa menikmati pendidikan tinggi hanyalah kalangan elit.

 

Inilah gambaran nyata akibat tata kelolah kapitalistik, dimana pendidikan yang semakin mahal merupakan produk hasil produksi dari berbagai kebijakan negara yang rusak. Pendidikan dalam sistem kapitalisme membuat negara hanya berperan sebagai regulator, negara abai dalam menjamin pendidikan setiap warga negaranya.

 

Sungguh sangat berbeda dalam sistem islam. Dalam sistem islam negara berperan sebagai pengurus dan pelayan umat sebagaimana sabda Rasulullah saw “Imam atau Khalifah itu adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya. (HR. Bukhari)

Jelas dalam hadist di atas dijelaskan bahwa seorang pemimpin berkewajiban dan bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dia pimpin termaksud dalam memberikan pendidikan yang berkualitas dan murah bahkan gratis terhadap rakyatnya. Karena didalam islam pendidikan di pandang sebagai salah satu kebutuhan dasar yang harus di penuhi negara terhadap setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan tanpa memandang status sosial rakyatnya. Islam juga memiliki sistem keuangan baitul mal dengan pos-pos pembiayaan dan sumber pemasukan yang jelas. Harta milik umum seperti hasil SDA yang melimpah karena pengelolaannya dilakukan oleh negara bukan individu atau kelompok, dapat menjadi sumber pembiayaan operational, tenaga pendidik, fasilitas laboratorium dan lain-lain. Sehingga, beban pembayaran uang kuliah tidak akan membebani rayat dan semua warga negara dapat mengakses pendidikan tanpa terhalang uang kuliah yang mahal.

 

Kenapa kemudian islam begitu sangat memandang bahwa pendidikan ini adalah sebagai salah satu kebutuhan, karena pendidikan merupakan wasilah setiap orang dalam menuntut ilmu karena dengan ilmu manusia akan jauh dari kebodohan.

Terbukti banyak ulama-ulama hebat yang lahir dalam penerapan sistem islam secara kaffah, seperti Muhammad Ibnu Al Khawaritzmi, Abbas Ibnu Firnas, Ibnu Kaldun, Ibnu Sina, dan lain sebagainya. Mereka tidak hanya pintar dalam tsaqafah islam namun juga ahli dalam bidang tertentu seperti ilmu kedokteran, algoritma, aeronautika dan lainnya.

Wallahu A’lam bissawab

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *