ANTARA RAMADHAN DAN PANDEMI

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Hanimatul Umah (Ibu Rumah Tangga)

 

Gempita Ramadhan mulai dirasakan seluruh umat Islam. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari bersih – bersih rumah, hingga persiapan menghidangkan menu selama Ramadhan. Karena bulan suci Ramadhan telah tiba, bulan yang mulia, penuh ampunan dan pahala yang dilipatgandakan setiap amal sholeh yang mereka lakukan begitu pula persiapan Iman dan Taqwa sebagai perintah syara’ , umat haruslah bahagia menyambut tamu bulan Ramadhan.

Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Dalam hadist disebutkan :.”Setiap tindakan yang dilakukan anak Adam akan dilipatgandakan, tindakan yang baik akan dilipatgadakan pahalanya hingga 700 kali. Allah SWT., berfirman: Dengan syarat berpuasa yang dilakukan karena Aku (Allah) maka Aku akan memberinya pahala. Karena mereka meninggalkan keinginannya demi Aku.” Ada dua kebahagiaan bagi orang berpuasa, pertama ketika dia berbuka, dan yang lain ketika dia bertemu Tuhannya, dan bau mulut orang berpuasa lebih baik di hadapan Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah perintah syara’ .

Bulan Ramadhan tempat di dalamnya melakukan amal di antaranya mereka yang mampu memberikan sebagian kelebihan harta untuk diberikan kepada yang berhak, seperti infaq, sedekah sampai zakat fitrah dan zakat mal(harta). Bahkan terasa melimpah makanan di bulan mulia ini.

Ramadhan tahun kedua kali ini umat muslim harus lebih bersabar lagi, di tengah kondisi pandemic yang belum usai, terlebih bagi masyarakat tingkat ekonomi dibawah garis kemiskinan tentu saja mengalami kesulitan karena mahalnya berbagai kebutuhan pokok.
Banyaknya pengangguran dan terbatasnya lapangan kerja penyebab pandemic selama ini.

Rakyat hingga kini masih menelan pahitnya racun derita Yang berkepanjangan setelah 100 tahun tiada kepemimpinan Islam.
Carut marut sistem kapitalis, sebagai awal tak terselesaikannya persoalan pandemic berujung pada rusaknya akhlak dan tindak kejahatan, akibat kemiskinan yang menjadikan lemahnya Iman. Tepat syair lagu Rhoma Irama ” Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin” . Ini disebabkan UU dan kebijakan berpihak pada korporasi. Para pemilik modal yang merasakan dan hanya sebagian saja memiliki kekayaan.

Atas dasar kebebasan tingkah laku dan HAM , maka semakin menumbuhsuburkan pelaku perbuatan maksiat banyak dijumpai setelah Ramadhan usai. Ini berarti Ramadhan tahun ini dan tahun- tahun sebelumnya tetaplah sama, belum ada peningkatan ketaqwaan.

Namun tidak sama, bagi umat Islam yang teguh menjaga keimanan dan ketaqwaanya , mereka tetap merasakan manisnya Iman di tengah- tengah hantaman ombak kesulitan ekonomi akibat wabah pandemi. Tetap menjaga perbuatan maksiat, seperti zina, riba hingga korupsi.

Pada masa kepemimpinan Rosululloh Muhammad SAW dan para sahabatnya, kesejahteraan sangatlah merata, pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ada seorangpun yang berhak menerima zakat (Mustahiq).
Syari’at (aturan) Islam yang diterapkan menyeluruh atas dasar Iman dan Taqwa sehingga masyarakatpun melakukan ibadah dengan penuh ketenangan , mendapatkan perlindungan jiwa dan harta.

Hendaknya Ramadhan tahun demi tahun, umat Islam harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan memahami Islam secara kaffah .

Wallohu a’lam bishowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *