Ancaman Narkotika Mengintai Generasi Muda

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Ancaman Narkotika Mengintai Generasi Muda

Oleh Rita Yusnita

(Pegiat Literasi)

 

Narkoba (Narkotika psikotropika) adalah bahan berbahaya yang jika dimasukkan ke dalam tubuh manusia baik secara diminum, dihirup, maupun lewat suntikan dapat mengubah perasaan hati dan perilaku seseorang. Tidak hanya itu, narkoba juga oleh sebagian orang biasa digunakan agar tetap tampil prima walau dengan istirahat yang minim. Hal ini menjadi sering terjadi di kalangan orang-orang dari dunia hiburan.

Seperti halnya kasus yang menimpa seorang artis film dan sinetron. Revaldo kembali ditangkap polisi dengan kasus yang sama yaitu penyalahgunaan narkoba. Polisi menangkapnya pada Senin (9/1) sekitar jam 04.30 WIB di aparteman Green Pramuka City, Jakarta Pusat, dilansir Republika.com, Kamis (12/1/2023). Pesinetron muda ini ditangkap kesekian kalinya dengan sejumlah barang bukti yang diamankan petugas, diantaranya berupa satu buah handphone, hasil urine positif Methamfetamin Amfetamin dan THC, satu buah plastik klip yang berisi Ganja dengan berat brutto 0,39 gram. Lalu satu buah botol kecil yang berisi Ganja dengan berat brutto 0,84 gram, satu buah cup kecil yang berisi biji Ganja dengan berat brutto 0,34 gram. Kemudian dari tempat kejadian juga ditemukan satu buah plastik klip yang berisi kertas papir, dua butir pil ekstasi, tiga pack kertas papir, satu buah penghalus ganja, lima buah plastik klip sisa sabu, dan tiga buah kaca pipet. Terus satu buah alat hisap ganja, serta delapan buah sedotan yang dijadikan untuk sendok sabu. Artis kelahiran 1982 ini (disangkakan) pasal 112 ayat (1) subsider pasal 111 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, hal ini dijelaskan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan kepada awak media pada Kamis (12/01).

Maraknya kasus narkoba yang terjadi akibat semakin tingginya jumlah pemakai dan pengedar barang haram tersebut. Seiring berjalannya waktu narkoba terus muncul dengan bermacam jenis baru, salah satunya dalam bentuk sabu cair. Hal ini baru diketahui ketika terjadi penyeludupan narkoba berbentuk sabu cair sebanyak 1,3 liter dari Iran yang digagalkan oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya bersama jajaran Bea Cukai. “Tanggal 27 November 2022, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya melakukan penangkapan atas kasus narkoba, dengan modus liquid yang berbahan methaphetamine” kata Kombes Mukti Junarsa dalam keterangannya. (suara.com, 30/11/2022)

Jenis sabu cair ini akan dikonsumsi dengan cara mencampurkannya dengan kopi atau cairan rokok elektronik (vape). Mereka pun menargetkan anak-anak muda karena vape familiar digunakan di lingkungan para generasi muda tersebut.

Meskipun kasus penyeludupan berhasil digagalkan aparat, namun tetap saja masyarakat harus waspada karena barang haram tersebut bisa beredar kapan dan di mana saja. Ini terbukti ketika Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta menggeledah sindikat industri pembuatan liquid vape mengandung narkoba jenis sabu cair di kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Diketahui, sabu cair tersebut dicampurkan ke dalam liquid vape, (detiknews.com, 15/1/2023).

Narkoba adalah bisnis dengan keuntungan yang besar dan menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk para pengedar barang haram ini. Bahkan sekarang negara kita menjadi sasaran peredaran narkoba internasional. Ini terjadi karena Indonesia mempunyai pangsa pasar yang banyak dan harga jualnya yang mahal. Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus penyeludupan yang dilakukan oleh Warga Negara Asing (WNA) melalui jalur pelayaran dan penerbangan.

Mengguritanya kasus narkoba telah menjadi masalah serius bagi bangsa ini. Karena tanpa pandang bulu menggerogoti siapa saja, mulai dari pejabat, selebritis, pekerja kantoran, hingga remaja dan anak-anak sekolah pun tak luput dari jeratan narkoba.

Mengamati kondisi di atas, jelas bahwa Inhgunaan dan peredaran narkoba sudah berada ditingkat kerawanan tinggi. Tentunya hal ini harus sdonesia dalam keadaan darurat narkoba. Penyalaegera ditangani secara intensif dan serius. Berbagai upaya penanganan permasalahan ini bisa melalui berbagai hal, mulai dari pencegahan, pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi dan pemberantasan. Berkaitan dengan hal itu maka bertempat di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Gubernur Bengkulu Dr.drh.H.Rohidan Mersyah, M.M.A mengukuhkan dan melantik Ketua Umum SANS (Satgas Anti Narkoba Sekolah) Syaffril Efendi dan Pengurus SANS Indonesia, dilansir G-NEWS.com, Minggu (15/1/2023).

Usai dilantik beliau menyampaikan bahwa kami generasi muda merasa terpanggil untuk menyelamatkan anak bangsa, khususnya anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dalam jaringan bahaya narkoba. Sebagai Inisiator SANS, pak Gubernur juga menyampaikan kepada seluruh pengurus yang baru dilantik untuk senantiasa membangkitkan semangat dalam memerangi narkoba untuk meyelamatkan anak bangsa. Diharapkan Satgas ini juga bisa membantu pemerintah, kepolisian, BNN dalam menghadapi persoalan bahaya narkoba di kalangan remaja khususnya anak sekolah.

Sejauh ini upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan narkoba berjalan secara maksimal. Namun sayangnya solusi yang ditawarkan adalah solusi pragmatis yang tidak menyasar pada akar permasalahannya. Para pemakai hanya dikenai sanksi rehabilitasi dan pengedarnya dihukum dengan vonis minimal sehingga tidak sedikit pun meninggalkan efek jera. Hukuman yang tidak seberapa itu malah dimanfaatkan oleh para pengedar untuk menjalankan bisnisnya dari bilik penjara. Panti rehabilitasi pun tak bisa menjamin pesiennya untuk bisa bebas dari pemakaian barang haram tersebut.

Sehingga menjadi hal lumrah ketika kita melihat seorang publik figur yang bolak balik tertangkap karena kasus yang sama. Itulah mengapa peredaran narkoba tidak boleh dibiarkan dan secepatnya harus diatasi sampai ke akar permasalahannya karena masalah ini adalah masalah yang sistematik. Jika dibiarkan maka kejadian di atas akan terus berulang dan bertambah parah bahkan sangat mungkin jika korbannya akan terus bertambah.

Sumber dari permasalahan selama ini karena diterapkannya pemikiran asing kapitalisme sekuler dalam masyarakat. Kapitalisme adalah sistem yang mendewakan materi (uang) sedangkan sekulerisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Kedua pemahaman ini sukses mendorong para penganutnya untuk bebas melakukan apapun tanpa memandang halal dan haram guna meraih hal yang diinginkan.

Lantas bagaimana Islam memandang dan mengatasi persoalan tersebut. Islam sebagai ajaran sempurna tentunya mempunyai seperangkat aturan yang akan membawa ketentraman dan keberkahan bagi umat manusia. Al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan dan pedoman manusia telah merinci secara mendalam terkait seluruh solusi permasalahan manusia, dari hal kecil hingga besar tidak terkecuali permasalahan narkoba.

Adapun hukum keharaman zat-zat adiktif semisal narkoba, shabu, ekstasi, ganja, dan lainnya diqiyaskan kepada hukum keharaman khamr. Dosa bagi peminum khamr/miras sama juga dengan pelaku yang mengkonsumsi zat adiktif (Nafza). Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata; “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukan, diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal haram untuk dikonsumsi.

Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah saw. bersabda;

“Tidak boleh berbuat madharat dan hal yang menimbulkan madharat.” ( HR. Ibnu Majah no 2340, Ad Daruquthni 3:76, Al Baihaqi 6:69, Al Hakim 7:66)

Dari keterangan di atas, Islam jelas memandang tegas bahwa narkoba itu haram. Jadi hukumnya berdosa jika mengonsumsinya karena bisa menyebabkan ketagihan dan berakibat fatal bagi kesehatan. Adapun bagi para pengedar, negara akan menindak tegas dan memberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, baik itu dipenjara, dikenai denda, dijilid hingga hukuman mati sehingga bisa menimbulkan efek jera.

Wallahu’alam Bishshawwab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *