Anak Menjadi Pelaku Kejahatan, Alarm Keras Bagi Semua Kalangan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Anak Menjadi Pelaku Kejahatan, Alarm Keras Bagi Semua Kalangan

Oleh: Umi Salamah

(Kelompok Penulis Peduli Umat)

 

Miris, Bocah laki – laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi terbunuh. Siswa SD ini juga sekaligus menjadi korban kekerasan seksual sodomi. Pelakunya adalah pelajar berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Selain kasus tersebut, beberapa waktu yang lalu juga terjadi kasus pembunuhan di Jambi. Korbannya adalah santri usia belasan tahun di mana pelakunya adalah kakak seniornya. (metrojambi.com,4/5/2024)

Dua kejadian di atas tentu menjadi peringatan keras bagi semua pihak, baik lembaga pendidikan, hukum dan terutama para orangtua.

 

Hilangnya Peran Orangtua

 

Sejatinya, usia anak-anak dan remaja adalah usia belajar dan mengeksplorasi potensi diri. Pada usia ini pendampingan orangtua sangat penting. Orangtua sebagai penanggung jawab utama atas tumbuh kembang anak secara fisik dan psikologis. Orangtua berperan sebagai pembentuk pola pikir dan pola sikap anak. Agar anak tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berilmu serta bermanfaat bagi sesamanya.

Namun sayang, akhir-akhir ini banyak anak-anak dan remaja yang justru terlibat tindak pidana hukum. Dari beberapa kasus yang pernah terjadi perundungan dan pelecehan seksual sering menjadi motifnya.

 

Beberapa penyebabnya diantaranya:

 

Pertama, hilangnya peran utama orangtua. Sebagai institusi terkecil masyarakat, keluarga adalah tempat pertama dan utama terlahirnya generasi. Orangtua memiliki fungsi pengasuhan , pendidikan dan penafkahan. Orangtua juga berkewajiban menjaga keamanan anak-anak dari berbagai gangguan dan bahaya. Kesibukan mencari nafkah dalam sistem kapitalis saat ini, menjadikan orang tua lalai dari peran utamanya. Sehingga banyak anak-anak yang tumbuh dalam situasi keringnya nilai-nilai agama dan akhlak.

 

Kedua, minimnya pengetahuan tentang pola asuh yang benar. Sebagian keluarga yang cukup secara ekonomi tidak begitu memiliki perhatian pada pola asuh yang benar. Mereka menganggap kebutuhan anak hanya seputar materi. Sedangkan pemahaman agama dan akhlak tidak di anggap penting. Akibatnya anak tumbuh dengan pola pikir dan pola sikap materialistik. Minim empati dan individualistis.

 

Ketiga, peran media dan masyarakat yang hilang. Berbagai konten perundungan, kekerasan dan pornografi (pornoaksi) menyebar tanpa batasan melalui kanal-kanal media sosial. Hal ini memberikan pengaruh dan dampak negatif yang signifikan bagi pola perkembangan sikap dan mental anak. Begitupun lembaga pendidikan, dimana kurikulum saat ini lebih berfokus pada transfer knowledge dan skill saja, minim transfer akhlak dan kepribadian Islam.

 

Mengembalikan Fitrah Anak.

 

Tidak ada anak yang terlahir sebagai pelaku kriminal. Sesungguhnya setiap anak terlahir sesuai fitrahnya. Fitrah anak adalah hamba dari sang Pencipta (Abdullah). Maka, orangtua dan lingkungan yang mengubah fitrah anak. Entah akibat kelalaian atau kesalahan orang tuanya. Serta lingkungan komunitas pergaulan di dunia nyata dan Maya yang negatif.

Oleh karena itu, setiap orang tua hari harus memahami bahwa anak adalah titipan Allah SWT. Maka mendidik anak harus bervisi syurga dan bermisi menjadikan anak sebagai insan yang beriman dan bertaqwa. Menguasai berbagai tsaqofah dan ilmu kehidupan (sains, matematika dll).

Jangan sampai anak melakukan tindakan maksiyat. Oleh karena itu orangtua harus mendidik anak dengan beberapa cara:

 

Pertama, menanamkan aqidah yang kuat serta tsaqofah (ilmu agama). Agar anak selalu menyadari bahwa tujuan hidupnya adalah semata beribadah kepada Allah SWT. Selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Takut melakukan tindakan maksiat apalagi kriminal.

 

Kedua, memberikan asupan kasih sayang, perhatian dan ketegasan pada adab dan akhlak anak.

 

Ketiga, memberikan teladan terbaik dalam kepribadian Islam.

Keempat, mendampingi anak dan mengontrol penggunaan gadget dan sosial medianya.

 

Kelima, memilihkan komunitas yang baik bagi perkembangan kepribadian Islam anak. Baik sekolah dan komunitas lainnya.

Demikianlah beberapa pola asuh yang meminimalisir gangguan dan pengaruh negatif bagi kepribadian anak. Dan tentunya dukungan masyarakat dan negara juga sangat besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh sesuai fitrahnya. Dengan menerapkan sistem pendidikan berparadigma Islam. Melarang konten -konten perundungan, kekerasan, pornoaksi dan pornografi di media-media. Agar generasi selamat dari tindakan kriminal. (Wallahu a’lam bi ash-showab)

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *