Oh Ini Ternyata Rahasianya, Ketiganya Harus Ada!

Oleh: Sri Rahayu.

 

Gaes rasanya setiap hari kita disuguhi peristiwa-peristiwa miris. Kemaksiatan kian hari kian merajalela, tindak kriminalitas dan kedzaliman bak suguhan harian kita. Wajar kita merasa jengah.

Nah gaes kejenuhan itu jangan sampai kemudian membuat kita pupus harapan ya. Jangan lantas kita berdiam diri dan membiarkan segala macam kemaksiatan, kedzaliman dan ketidakadilan terus merongrong keseharian kita. Kita pengen berubah donk!

Karena Allah subhanahu wata’ala telah berfirman di dalam Quran Surat Ar Ra’du ayat 11

ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”

Gaes, persoalan yang kita hadapi ini sangat kompleks. satu dan lainnya saling Kait mengkait. Persoalan Pemuda misalnya. Pemuda Islam sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Di masa penerapan Islam pemuda yang masih belia memiliki peran luar biasa. Imam Syafi’i misalnya, pada umur 7 tahun sudah hafal Alquran, pada usia 10 tahun sudah hafal kitab al-muwaththa karya Imam Malik. Bahkan pada usianya 14 atau ada yang mengatakan 15 tahun Imam Syafi’i telah menjadi seorang mufti (orang memberikan fatwa). Demikian juga tokoh-tokoh pemuda pada masa Islam lainnya. Seperti penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih di usia 24 tahun. Mus’hab Bin Umair duta Islam pertama yang berhasil mempersiapkan Madinah dalam satu tahun menjadi tempat tegaknya Daulah Islam. Dan masih banyak tokoh-tokoh muda dalam dunia Islam yang memiliki potensi dan persembahan luar biasa untuk manusia.

Sayangnya setelah 100 tahun runtuhnya Khilafah Islam pada tanggal 3 Maret tahun 1924 di Turki, potensi pemuda-pemuda Islam ini telah dibajak oleh ideologi sekularisme. Potensi besarnya diarahkan sesuai kepentingan penjajah. Ada yang menjadi duta Islam moderat, pendukung agenda barat dan juga menjadi penjaga eksistensi Barat (demokrasi) melalui pemikiran Barat.

Seperti inilah wajah kita, ketika tidak memiliki tiga pilar dalam penerapan Islam.

Apa saja pilar yang mampu menjadi penopang bagi tegaknya peradaban mulia dan Cemerlang? Demikianlah umat Islam harus memiliki tiga pilar, sebagai penopong bangunan kehidupan Islam.

Pertama adalah pilar individu. Memang ada persoalan-persoalan yang terjadi karena kelemahan keimanan individu. Misalnya seorang ibu menyewakan anaknya bahkan ada ibu yang menjual anaknya untuk mengatasi kemiskinan. Secara normal tentu tak ada seorang ibu yang tega berbuat seperti itu. Tetapi kelemahan iman telah mengalahkan rasa cinta kepada anaknya dengan tega berbuat demikian.
Ketidakberdayaan dan kelemahan imannya membuat dia melakukan apapun demi uang. Innalillahi.

Contoh lainnya, seorang ibu bekerja di sebuah pabrik dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Dalam kondisi begini bagaimana mungkin seorang ibu bisa menjalankan tugasnya yang penting dan mulia yaitu mendidik anak-anaknya? Banyak sekali para ibu di jaman penerapan kapitalis ini yang akhirnya mengambil pilihan yang tidak semestinya. Pilihan yang pasti akan mengabaikan fungsi dan tugasnya yang mulia sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Demikianlah pilar yang pertama membuat individu dan keluarga kandas bahkan tenggelam.

Pilar kedua adalah masyarakat. Masyarakat melakukan kontrol menasehati, menguatkannya dengan Amar ma’ruf nahyi mungkar. Ketika kemaksiatan di depan mata maka jangan dibiarkan. Pembiaran akan membuat kerusakan kuan luas merajalela. Orang yang diam terhadap kemaksiatan seperti setan bisu. Kemaksiatan sangat cepat menyebar dan menular karena diamnya orang-orang dari amar ma’ruf nahyi munkar.

Inilah pilar yang tak kalah pentingnya, harus ada kepedulian masyarakat terhadap kondisi saudara sekelilingnya. Rasul shalallahu alaihi wassalam telah mengibaratkan masyarakat bagaikan kapal. Jika ada penumpang yang melubangi kapal dan yang lain diam. Maka semua akan tenggelam. Demikianlah kita hendaknya takut pada musibah yang tak hanya menimpa pelaku kemaksiatan. Orang baik-baik yang diam dari dakwah dijamin akan mendapatkan musibah yang sama.

Pilar ketiga adalah peran negara. Nah ini adalah peran yang tak kalah pentingnya. Pilar yang sangat urgen dibutuhkan untuk menopang kehidupan yang aman, tenteram dan mendatangkan kebahagiaan. Sungguh ketika individu dan keluarga kemudian masyarakat baik, tetapi negara tidak memberikan fungsinya yaitu melindung dan menjaga maka kemaksiatan dan kerusakan tak dapat dibendung. Karena kebijakan penguasalah yang menjadi acuan individu dan masyarakat melakukan kegiatan. Kebijakan baik menurut syariat pasti mampu menjaga akan mencegah dari berbagai kemaksiatan dan kejahatan merajalela.

Inilah tiga pilar yang menjaga kehidupan ini berkah, aman, tentram, melindungi dan menjaga manusia dari segala mara bahaya.

Jika yang berperan hanya pilar individu dan keluarga saja maka pasti akan runtuh seluruh sendi kehidupan. Demikuan juga jika pilar pertama dan kedua saja. Tentu otomatis akan runtuh karena tak mampu menopang. Yang harus ada adalah ketiga pilar tersebut harus ada. Justru negara adalah pilar yang paling utama karena memang semua kebijakan itu muaranya di sana. Jika pilar individu dan keluarga lemah, negara dengan perannya dapat melakukan edukasi dan kebijakan sehingga kokoh.

Demikian juga masyarakat, jika lemah maka negaralah yang mampu mengatur dan memperkokoh dengan kewengangannya. Jangan sebaliknya negara malah melemahkan individu dan keluarga, juga masyarakatnya.

Demikianlah limpahan keberkahan baik dari langit dan bumi akan terwujud manakala tiga pilar ini berfungsi dengan baik. Mari kita wujudkan tiga pilar ini dalam kehidupan nyata karena inilah yang akan menjaga peradaban yang mulia yaitu peradaban yang terpancar dari pondasi ideologi yang shahih yaitu ideologi Islam. Untuk meraihnya tentu dengan mewujudkan ketaatan pada tiga pilarnya. Wallahua’lam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *